Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Tenaga Kerja
Tarik Ulur Pasar Kerja: Ketika Permintaan Tenaga Kerja Tak Seimbang dengan Lonjakan Pencari Kerja
APERO FUBLIC I OPINI.-- Pasar tenaga kerja kita saat ini mirip seperti permainan tarik tambang yang tidak pernah seimbang. Di satu sisi, jutaan para pencari kerja terus bertambah, bahkan membeludak setiap tahunnya dengan membawa sejuta harapan akan mendapatkan pekerjaan yang layak untuk mereka. Namun di sisi lain, daya serap industri seolah berjalan di tempat, menciptakan realita pahit lowongan yang terbatas diperebutkan oleh ribuan pelamar.
Masalahnya bukan hanya soal angka saja, tetapi juga soal kecocokan. Fenomena ini sejalan dengan konsep Skill Mismatch, yaitu kondisi ketika keterampilan tenaga kerja tidak sesuai dengan kebutuhan industri. Akibatnya, meskipun banyak orang mencari pekerjaan, perusahaan justru kesulitan menemukan kandidat yang tepat.
Oleh karena itu, kita perlu membahas elastisitas tenaga kerja, yaitu ukuran seberapa sensitif perusahaan dalam menambah karyawan saat bisnis mereka tumbuh atau ketika terjadi perubahan upah. Dalam teori Derived Demand for Labor, permintaan tenaga kerja merupakan turunan dari permintaan terhadap barang dan jasa.
Artinya, peningkatan produksi tidak selalu diikuti oleh peningkatan jumlah tenaga kerja, terutama jika perusahaan mampu meningkatkan output melalui efisiensi.
Sayangnya, respons pasar tenaga kerja saat ini tidak responsif atau inelastis. Meskipun jumlah produksi naik, perusahaan sering kali menahan diri untuk merekrut tenaga kerja baru.
Kondisi ini mencerminkan fenomena Jobless Growth, di mana pertumbuhan ekonomi tidak diiringi dengan penciptaan lapangan kerja yang memadai. Peran teknologi juga sangat besar di sini. Melalui konsep Capital Labor Substitution, perusahaan cenderung menggantikan tenaga kerja dengan mesin atau sistem digital karena dinilai lebih efisien dan hemat biaya.
Data terbaru yang diambil dari Badan Pusat Statistik (BPS) mempertegas kondisi ini. Sekitar Agustus hingga November 2025, penyerapan tenaga kerja hanya naik sekitar 0,94% (dari 146,54 juta ke 147,91 juta orang), sementara ekonomi tumbuh sekitar 5%.
Jika dihitung, nilai elastisitasnya hanya sekitar 0,19. Artinya, setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan 0,19% lapangan kerja baru. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi kita belum maksimal dalam membuka kesempatan kerja.
Dari sudut pandang perusahaan, kondisi ini juga dapat dijelaskan melalui Neoclassical Theory of Labor Demand. Dalam teori ini, perusahaan akan menambah tenaga kerja jika nilai produktivitasnya sebanding dengan upah yang dibayarkan. Jika upah meningkat tanpa diikuti peningkatan produktivitas, maka perusahaan cenderung menahan perekrutan.
Ada beberapa faktor yang membuat angka elastisitas ini rendah. Pertama, biaya tenaga kerja yang meningkat tanpa diimbangi produktivitas. Kedua, faktor keterampilan, di mana tenaga kerja dengan skill spesifik lebih stabil dibandingkan pekerja umum yang lebih mudah tergantikan oleh teknologi.
Jadi, apa ya solusinya? Mahasiswa terutama lulusan Ekonomi Pembangunan yang serapan tenaga kerjanya rendah perlu meningkatkan kualitas diri agar lebih sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Salah satu caranya adalah dengan menambah keterampilan praktis seperti penguasaan aplikasi statistik dan pengolahan data, misalnya Stata, SPSS, EViews, atau Excel.
Selain meningkatkan keterampilan, lulusan Ekonomi Pembangunan juga perlu lebih fleksibel dalam memilih pekerjaan. Tidak hanya berfokus menjadi pegawai negeri atau pekerjaan kantoran, tetapi juga dapat mencoba bidang lain seperti analis data, perbankan, riset pasar, konsultan, wirausaha, UMKM, maupun sektor digital.
Terakhir, kebijakan upah harus dirancang secara hati-hati. Kenaikan upah idealnya berjalan seiring dengan peningkatan produktivitas. Dengan pendekatan yang lebih tepat, diharapkan tarik-menarik di pasar tenaga kerja ini perlahan dapat menuju keseimbangan yang lebih adil bagi semua pihak.
PENULIS :
- Ega Auliya
- Allya Fatma Salsabila
- Gahara Ikfansyah
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Negeri Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment