Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Penerapan Manajemen Rantai Pasok dalam Pengadaan Non Produksi dan Investasi
Dokumentasi kegiatan magang mahasiswa S1 Administrasi Niaga UNTAG Surabaya di
Divisi Supply Chain Departemen Pengadaan Non Produksi dan Investasi PT PAL Indonesia.
APERO FUBLIC I SURABAYA.-- “Magang itu paling cuma fotokopi dokumen dan bikin kopi.” Jujur, itu salah satu anggapan yang sempat terlintas di kepala saya sebelum menjalani program magang di PT PAL Indonesia.
Namun, dua bulan berada di lingkungan industri strategis nasional justru mengubah cara pandang saya tentang dunia kerja, tanggung jawab, dan arti dari setiap proses administrasi yang sering dianggap sepele.
Sebagai mahasiswa S1 Administrasi Niaga Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, saya berkesempatan melaksanakan magang di Divisi Supply Chain, tepatnya pada Departemen Pengadaan Non-Produksi dan Investasi PT PAL Indonesia. Program ini berlangsung mulai 1 September hingga 24 Oktober 2025.
Banyak orang mungkin membayangkan bahwa industri galangan kapal hanya identik dengan proses produksi. Padahal, di balik kapal-kapal besar yang berhasil dibangun, terdapat sistem pengadaan yang harus berjalan dengan tertib dan terstruktur.
Di sinilah saya belajar bahwa administrasi bukan sekadar pekerjaan di balik meja. Administrasi adalah fondasi yang menjaga agar setiap proses bisnis dapat berjalan sesuai aturan.
(Mahasiswa S1 Administrasi Niaga UNTAG Surabaya Magang di PT PAL Indonesia: Penerapan Manajemen Rantai Pasok dalam Pengadaan Non Produksi dan Investasi).
Selama magang, saya terlibat dalam berbagai kegiatan, mulai dari penyusunan Surat Permintaan Penawaran Harga (SPPH), pembuatan berita acara dan memorandum, evaluasi dokumen pengadaan, pengarsipan serta digitalisasi dokumen, hingga monitoring pengadaan non-produksi dan investasi.
Awalnya, saya merasa khawatir tidak mampu mengikuti ritme kerja di perusahaan sebesar PT PAL Indonesia. Namun, pengalaman tersebut justru melatih saya untuk lebih teliti, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap setiap tugas yang diberikan.
Saya juga menyadari bahwa keterampilan yang dipelajari di bangku kuliah ternyata memiliki relevansi yang kuat dengan praktik di lapangan. Konsep mengenai manajemen, administrasi, komunikasi, hingga kerja sama tim benar-benar diterapkan dalam aktivitas sehari-hari.
Hal yang paling berkesan bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga tentang proses belajar menjadi pribadi yang lebih profesional. Saya belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan baru, menerima masukan, serta memahami bahwa setiap orang dalam organisasi memiliki peran penting.
Pengalaman ini mengajarkan bahwa magang bukan sekadar kewajiban akademik untuk mendapatkan nilai. Magang adalah ruang belajar yang sesungguhnya. Tempat mahasiswa menguji teori, membangun relasi, dan mempersiapkan diri menghadapi dunia kerja yang nyata.
Bagi mahasiswa yang masih ragu untuk mengambil kesempatan magang, jangan takut untuk mencoba. Tidak ada yang langsung ahli pada hari pertama. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan keberanian untuk keluar dari zona nyaman.
Karena terkadang, pengalaman yang awalnya hanya dianggap sebagai “syarat kelulusan” justru menjadi titik balik yang mengubah cara kita memandang masa depan.
Kreator: James Timothy Mongi
Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Administrasi Niaga.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment