Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Teknologi
Pembelajaran Mendalam : Teknologi Di Balik Kemampuan AI Modern
Ciri-ciri atau fitur tertentu dari data masukan.
APERO FUBLIC I OPINI.- Pembelajaran mendalam merupakan salah satu subbidang dari pembelajaran mesin yang menggunakan jaringan saraf pikiran buatan berlapis-lapis untuk meniru cara kerja otak manusia dalam memproses data dan mengambil keputusan.
Istilah "mendalam" merujuk pada jumlah lapisan yang terdapat dalam jaringan saraf buatan tersebut, di mana setiap lapisan memiliki fungsi tanggung jawab untuk mengekstrak ciri-ciri atau fitur tertentu dari data masukan.
Konsep pembelajaran mendalam pertama kali diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh para peneliti seperti Geoffrey Hinton, Yann LeCun, dan Yoshua Bengio. Namun, teknologi ini baru menyadari potensi yang sebenarnya pada beberapa tahun terakhir thanks to two faktor utama.
Yaitu, ketersediaan data dalam jumlah yang sangat besar (big data) dan peningkatan kemampuan komputasi yang sangat signifikan, terutama dengan kehadiran unit pemrosesan grafis (Graphics Processing Unit atau GPU) yang dapat seringk mengaktifkan proses pelatihan jaringan saraf.
Kualitas Data yang Tidak Konsisten
Masalah lain yang tidak kalah pentingnya adalah kualitas data yang tidak konsisten. Keberhasilan model pembelajaran mendalam sangat bergantung pada kualitas data yang digunakan untuk pelatihan. Data yang tidak bersih, tidak akurat, atau tidak representatif akan menghasilkan model yang tidak dapat diandalkan.
Beberapa permasalahan terkait kualitas data meliputi kesalahan label atau anotasi yang salah, missing values atau data yang tidak lengkap, noise atau gangguan dalam data, serta data yang tidak seimbang (imbalanced data) yang dapat menyebabkan model cenderung ke kelas mayoritas.
Solusi untuk mengatasi kualitas data yang tidak konsiste Adalah dengan menggunakan metode tranformasi pembelajaran merupakan teknik dimana model yang telah dilatih pada satu tugas digunakan sebagai titik awal untuk melatih model pada tugas baru yang serupa.
Dengan menggunakan model yang telah memiliki pengetahuan dasar dari dataset besar seperti ImageNet, pengembang dapat melakukan fine tuning pada dataset yang lebih kecil untuk tugas spesifik.
Teknik ini telah menunjukkan hasil yang sangat efektif, di mana pelatihan yang semula memerlukan jutaan contoh data dapat dilakukan hanya dengan ribuan contoh.
Oleh. Firas Januar Ervianto
Mahasiswa Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Jurusan: D3 Akuntansi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment