Kampus
Di Balik Ritual dan Tradisi: Runtuhnya Martabat Perempuan dalam Ronggeng Dukuh Paruk
"Objektifikasi tubuh perempuan sebagai suatu alat, bukan manusia seutuhnya yang memiliki kehendak bebas dan perasaan"
APERO FUBLIC I RESENSI BUKU. - Potret seorang perempuan bernama Srintil yang ingin menjadi ronggeng di desanya. Keinginan yang kuat membuat Srintil berjuang hingga menghalalkan segala cara termasuk sebilah pusaka milik ronggeng terdahulu yang diberikan oleh kekasihnya sekaligus teman masa kecil bernama Rasus.
Keris tersebutlah yang membuat Srintil diakui sebagai ronggeng dan mendapat restu secara mistis yang diyakini penduduk, karena masyarakat Dukuh Paruk percaya bahwa sebilah pusaka tersebut dianggap membawa indang atau roh ronggeng.
Akan tetapi Srintil perlu menjalani ritual bernama bukak kelambu, yaitu tradisi yang harus dilakukan sebelum sah menjadi ronggeng dengan melelang keperawananya bagi siapa saja yang berani membayar dengan tinggi.
Bagi orang yang dapat membayar paling tinggi bisa berhubungan badan dengan Srintil. Srintil mencoba melawan dan mendobrak tradisi tersebut dengan cara diam-diam berhubungan badan dengan Rasus sebelum ritual tersebut berlangsung.
Cerita berawal dengan gambaran kehidupan desa Dukuh Paruk yang identik dengan kesederhanaan, jauh dari kata maju dan sangat mempertahankan warisan budaya, yaitu tradisi ronggeng. Kehidupan masyarakat Dukuh Paruk yang terpencil, miskin, sangat mempercayai adat serta mitos leluhur terutama kepercayaan terhadap Ki Secamenggala.
Bagi masyarakat Dukuh Paruk, ronggeng merupakan kebanggaan desa, bukan sekadar penari tetapi juga simbol kemakmuran bagi desa Dukuh Paruk. Ketika Stintil masih kecil dan melihat ronggeng terdahulu sedang menari, keindahan dan kecantikan ronggeng tersebut membuat Srintil ingin juga menjadi ronggeng.
Namun tragedi keracunan massal tempe bongkrek membuat banyak warga Dukuh Paruk meninggal termasuk ronggeng terdahulu, hingga orang tua Rasus, dan Srintil. Peristiwa tersebut menyebabkan banyak anak kehilangan keluarga dan membuat kehidupan masyarakat semakin terpuruk. Dukuh Paruk mengalami masa suram karena tidak lagi memiliki ronggeng, sehingga kehidupan desa kehilangan identitas budayanya.
"Srintil adalah seorang yatim piatu, sisa sebuah malapetaka, yang membuat banyak anak Dukuh Paruk kehilangan ayah-ibu."
(RDP, hlm. 22)
Setelah kematian ronggeng lama dan tragedi tempe bongkrek, masyarakat Dukuh Paruk berharap muncul ronggeng baru yang dapat menghidupkan kembali kebanggaan desa. Harapan itu kemudian tertuju kepada Srintil.
Sejak kecil, Srintil menunjukkan kemampuan menari dan menyanyi yang dianggap tidak biasa. Masyarakat percaya bahwa Srintil memiliki indang ronggeng, yaitu roh atau bakat alamiah yang menandakan dirinya ditakdirkan menjadi ronggeng.
Masyarakat meyakini bahwa Srintil adalah titisan roh ronggeng lama, sehingga harus menjalani prosesibukak klambu, yaitu semacam tradisi di mana keperawanannya "disayembarakan" kepada laki-laki manapun di Dukuh Paruk. Prosesi ini dianggap sebagai syarat sah untuk menjadi seorang ronggeng, tetapi juga menunjukkan bagaimana Srintil diposisikan sebagai objek dalam budaya yang tidak mempertimbangkan martabat dan kemanusiaannya.
Konflik ini tidak hanya datang dari adat yang berlaku, tetapi juga dari dalam diri Rasus, teman masa kecil dan orang yang mencintai Srintil. Rasus merasa kesal dan marah karena ia sadar bahwa Srintil sedang "dikorbankan" untuk memenuhi ekspektasi masyarakat. Ia merasa tak berdaya menghadapi aturan yang sudah mengakar kuat di Dukuh Paruk.
Srintil mengalami konflik batin yang sangat berat karena sebenarnya ia enggan melepaskan keperawananya untuk orang yang tidak dicintai, akhirnya Srintil mencoba melawan dengan menyerahkan keperawanannya kepada Rasus dengan sembunyi-sembunyi sebelum ritual berlangsung. Akan tetapi Srintil mendapatkan tekanan dari dukun ronggeng yang membentuk dan mengarahkan hidupnya.
Mereka tidak menginginkan Srintil menjalin hubungan dengan Rasus atau laki-laki -laki manapun karena hal itu dianggap mengancam kelangsungan status Srintil sebagai ronggeng. Dalam Pandangan mereka, Srintil bukanlah pribadi yang bebas menentukan arah hidupnya.
"Srintil sesudah berusia delapan belas tahun adalah Srintil yang telah mengalami perihnya upacara bukak klambu. Juga sudah merasakan getirnya ditampik laki-laki idaman. Pada usia semuda itu Srintil juga sudah menjelajahi dunia perhubungan dengan sekian puluh laki-laki."
(RDP, hlm. 185)
Srintil telah melewati berbagai pengalaman pahit dan traumatis, mulai dari dipaksa menjalani bukak klambu, ditolak oleh laki-laki yang ia cintai, sampai harus menjalani kehidupan yang membuatnya kehilangan nilai-nilai kemanusiaan, hal tersebut yang membuat konflik batin mendalam pada Srintil.
Pada usianya yang masih muda, Srintil menyadari bahwa dirinya dimiliki oleh banyak laki-laki, tetapi kehilangan satu-satunya orang yang diharapkan bisa menerimanya apa adanya. Srintil juga mengalami berbagai penderitaan akibat tradisi, politik, dan kegagalan cintanya.
Setelah bebas dari penjara akibatperistiwa politik 1965, Srintil berusaha meninggalkan kehidupan ronggeng dan ingin menjalani kehidupan yang normal sebagai perempuan biasa. Bajus datang dan bersikap baik, sehingga Srintil jatuh cinta dan menggantungkan harapan kepadanya.
Srintil mengira Bajus akan membantunya menata hidup, tetapi ternyata Bajus memiliki niat jahat. Ia mengajak Srintil ke pantai dan sebuah vila dengan kedok merayakan hubungan mereka. Akan tetapi Bajus sebenarnya menjadikan Srintil sebagai "hadiah" atau umpan yang diserahkan kepada bosnya agar urusan bisnisnya berjalan lancar. Akibat pengkhianatan ini, kondisi kejiwaan Srintil hancur berantakan karena merasa martabatnya kembali diinjak-injak.
Ia tetap berharap dapat membangun masa depan bersama Rasus. Namun harapan tersebut tidak terwujud karena Rasus sudah tidak dapat memberikan kepastian atas hubungan mereka, dan diperkuat karena dukun ronggeng yang menyampaikan kepada Rasus bahwa Srintil kini "tidak waras" karena beban hidup yang terlalu berat.
Hal tersebut menjadi gambaran bahwa Srintil gagal memperoleh kebebasan yang selama ini diinginkannya. Ia menjadi korban sistem budaya, eksploitasi tubuh perempuan, pengkhianatan cinta, dan kekacauan sosial-politik.
Dengan demikian, penyelesaian novel bersifat tragis karena tokoh utama tidak berhasil keluar dari penderitaan yang membelenggunya. Di akhir cerita, Srintil menjadi gila. Ia gila karena ditipu oleh Bajus; Srintil disetubuhi oleh teman Bajus, padahal ia berharap akan menjadi istrinya. Pada saat itulah Srintil kehilangan akal budinya.
Ahmad Tohari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk memberikan amanat terkait pentingnya kesadaran individu dalam nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan untuk memilih jalan hidup sendiri, dan hal ini harus diakui dan dihormati.
Dalam tokoh Srintil terlihat bahwa tekanan sosial dan budaya dapat memengaruhi pilihan hidup seseorang. Artinya perempuan tidak boleh dijadikan objek komoditas, hiburan, atau alat politik demi keuntungan sepihak.
Selain itu Ahmad Tohari juga menyampaikan pesan penting bahwa kepercayaan pada segala hal terutama tradisi secara berlebihan, tanpa nalar bisa merusak moralitas dan masa depan seseorang. Hal tersebut terlihat ketika masyarakat Dukuh Paruk yang tidak tahu apa-apa menjadi korban konflik politik orang-orang berkuasa.
Identitas Buku :
Judul: Ronggeng Dukuh Paruk, Penulis: Ahmad Tohari, Penerbit: P. T Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: 2009, Jumlah Halaman: 406.
Oleh : Ratu Anya Andriani
Editor. Tim Redaksi
Biodata Singkat:
Nama penulis Ratu Anya Andriani, mahasiswi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiah dan Keguruan, jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Lahir di Tangerang, 26 September 2005. Memiliki satu kaka laki-laki dan satu adik perempuan. Anak kedua dari tiga bersaudara ini memiliki hobi menulis. Selain dalam bidang kepenulisan, saya juga memiliki hobi lain yaitu bidang olahraga, terutama basket.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment