Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Ketika Gawai Lebih Menarik daripada Buku
Di tengah maraknya penggunaan media sosial, apakah budaya membaca masih memiliki tempat di kalangan Generasi Z?
APERO FUBLIC I OPINI.-- Banyak orang menilai bahwa kebiasaan membaca mulai berkurang seiring meningkatnya penggunaan gawai dalam kehidupan sehari-hari. Saat menunggu kelas dimulai, berada di kendaraan umum, bahkan sebelum tidur, banyak orang lebih memilih membuka media sosial daripada membaca buku. Fenomena tersebut memunculkan anggapan bahwa Generasi Z kini lebih sering menghabiskan waktu di media sosial daripada membaca buku.
Anggapan tersebut sebenarnya cukup masuk akal. Konten yang muncul di media sosial biasanya singkat, menarik, dan bisa dinikmati dalam hitungan detik. Dibandingkan membaca puluhan halaman buku, menonton video pendek memang terasa lebih praktis dan menghibur. Tidak heran jika banyak anak muda menghabiskan waktu berjam-jam untuk scrolling tanpa sadar.
Meski begitu, mengatakan bahwa Generasi Z tidak suka membaca juga kurang tepat. Faktanya, aktivitas membaca masih dilakukan setiap hari, hanya bentuknya yang berbeda. Saat mencari informasi untuk tugas kuliah, membaca berita online, atau melihat artikel tentang topik yang sedang ramai dibahas, seseorang tetap melakukan kegiatan membaca.
Fenomena ini cukup mudah ditemukan di lingkungan mahasiswa. Banyak yang lebih sering mengakses jurnal digital, e-book, atau artikel ilmiah dibandingkan membeli buku cetak. Selain lebih mudah diperoleh, bahan bacaan digital juga bisa diakses kapan saja melalui telepon genggam atau laptop.
Di sisi lain, minat membaca karya nonakademik juga masih terlihat. Novel digital, cerita pendek di platform baca online, hingga komik elektronik memiliki cukup banyak pembaca dari kalangan Generasi Z. Bahkan, beberapa judul yang viral di media sosial sering membuat anak muda tertarik untuk mulai membaca.
Yang menjadi persoalan bukan hanya soal banyak atau sedikitnya membaca, tetapi bagaimana cara membaca itu dilakukan. Kebiasaan menerima informasi secara cepat terkadang membuat seseorang hanya membaca bagian pentingnya saja. Akibatnya, pemahaman terhadap suatu informasi bisa menjadi kurang mendalam.
Padahal, kemampuan memahami bacaan tetap penting, terutama bagi mahasiswa. Tugas perkuliahan, diskusi kelas, hingga penulisan karya ilmiah membutuhkan kemampuan membaca dan menganalisis informasi dengan baik. Semakin luas bacaan yang dimiliki, semakin banyak pula pengetahuan dan sudut pandang yang bisa diperoleh.
Karena itu, budaya membaca sebenarnya belum hilang di kalangan Generasi Z. Yang berubah hanyalah medianya. Buku cetak mungkin tidak lagi menjadi pilihan utama bagi sebagian orang, tetapi berbagai bentuk bacaan digital tetap menunjukkan bahwa membaca masih menjadi bagian dari kehidupan generasi muda saat ini.
PENULIS : Laela Zakiatul Banat
Mahasiswi dari Universitas Islam Negeri Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto, Prodi Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment