Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Doomscrolling: Kebiasaan kecil yang diam-diam merusak kesehatan mental kita
APERO FUBLIC I OPINI.- Coba ingat kembali, kapan terakhir kali kamu membuka TikTok atau Instagram hanya untuk “sebentar”, lalu tiba-tiba sudah satu jam berlalu? Atau mungkin kamu pernah rebahan sebelum tidur, berniat istirahat, tapi justru berakhir scroll berita tentang bencana, konflik, atau drama yang entah mengapa terus saja muncul di layar?
Jika iya, kamu sedang mengalami kebiasaan yang kini dikenal luas dengan istilah doomscrolling sebuah fenomena yang lahir di era pandemi untuk menggambarkan kebiasaan mengonsumsi informasi negatif secara terus-menerus tanpa bisa berhenti, meski sudah tahu itu membuatmu tidak nyaman.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan buruk biasa. Sebuah survei yang dilakukan oleh American Psychological Association pada 2022 menemukan bahwa lebih dari separuh orang dewasa muda mengaku bahwa mengikuti berita membuat mereka stres, namun tetap tidak bisa berhenti melakukannya.
Di Indonesia sendiri, dengan rata-rata penggunaan media sosial mencapai lebih dari tiga jam per hari, doomscrolling menjadi ancaman yang semakin nyata terutama bagi mahasiswa yang hidupnya hampir tidak bisa lepas dari layar.
Menurut saya, yang membuat doomscrolling berbahaya bukan hanya soal waktu yang terbuang. Ada mekanisme psikologis yang bekerja di baliknya. Otak manusia secara alami lebih mudah tertarik pada hal-hal negatif ini disebut negativity bias, sebuah respons evolusioner yang dulu berfungsi untuk mendeteksi ancaman.
Masalahnya, algoritma media sosial seperti TikTok dan Instagram justru memanfaatkan kecenderungan ini. Semakin lama kamu berhenti di konten tertentu, semakin banyak konten serupa yang dimunculkan. Kamu tidak hanya pasif menerima informasi kamu sedang dimanipulasi untuk terus menonton.
Dampaknya tidak main-main. Kebiasaan scroll sebelum tidur terbukti mengganggu produksi melatonin, hormon yang mengatur kualitas tidur. Konsentrasi menurun, produktivitas terganggu, dan yang lebih mengkhawatirkan suasana hati memburuk tanpa kita sadari penyebabnya.
Banyak mahasiswa yang merasa cemas, lelah, atau bahkan sedih tanpa tahu mengapa, padahal jawabannya mungkin sesederhana: terlalu lama tenggelam dalam berita buruk.
Tentu saja, bukan berarti kita harus memutus diri sepenuhnya dari informasi. Kesadaran terhadap isu sosial, politik, dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab kita sebagai warga negara. Namun ada perbedaan besar antara mengonsumsi informasi dan tenggelam dalam kegelisahan.
Membatasi waktu bermain media sosial, mematikan notifikasi berita di malam hari, atau sekadar memilih untuk berhenti scroll saat sudah merasa tidak nyaman hal-hal kecil ini jauh lebih bermakna dari yang kita kira.
Pada akhirnya, tidak ada yang memaksa kita untuk terus scroll. Algoritmanya memang dirancang untuk membuat kita bertahan, tapi jari kita sendiri yang memutuskan untuk tidak berhenti. Mungkin sudah saatnya kita tanya pada diri sendiri: apakah kita yang mengendalikan media sosial, atau media sosial yang mengendalikan kita?.
By: Ferazi Fuspita
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment