Syarce

Syarce adalah singkatan dari syair cerita. Syair cerita bentuk penggabungan cerita dan syair sehingga pembaca dapat mengerti makna dan maksud dari isi syair.

Apero Mart

Apero Mart adalah tokoh online dan ofline yang menyediakan semua kebutuhan. Dari produk kesehatan, produk kosmetik, fashion, sembako, elektronik, perhiasan, buku-buku, dan sebagainya.

Apero Book

Apero Book adalah sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang distribusi semua jenis buku. Buku fiksi, non fiksi, buku tulis. Selain itu juga menyediakan jasa konsultasi dalam pembelian buku yang terkait dengan penelitian ilmiah.

Apero Popularity

Apero Popularity adalah layanan jasa untuk mempolerkan usaha, bisnis, dan figur. Membantu karir jalan karir anda menuju kepopuleran nomor satu.

@Kisahku

@Kisahku adalah bentuk karya tulis yang memuat tentang kisah-kisah disekitar kita. Seperti kisah nyata, kisah fiksi, kisah hidayah, persahabatan, kisah cinta, kisah masa kecil, dan sebagaginya.

Surat Kita

Surat Kita adalah suatu metode berkirim surat tanpa alamat dan tujuan. Surat Kita bentuk sastra yang menjelaskan suatu pokok permasalaan tanpa harus berkata pada sesiapapun tapi diterima siapa saja.

Sastra Kita

Sastra Kita adalah kolom penghimpun sastra-sastra yang dilahirkan oleh masyarakat. Sastra kita istilah baru untuk menamakan dengan sastra rakyat. Sastra Kita juga bagian dari sastra yang ditulis oleh masyakat awam sastra.

Apero Gift

Apero Gift adalah perusahaan yang menyediakan semua jenis hadia atau sovenir. Seperti hadia pernikahan, hadia ulang tahun, hadiah persahabatan, menyediakan sovenir wisata dan sebagainya. Melayani secara online dan ofline.

5/31/2022

LGBT: Perbedaan atau Penyimpangan

APERO FUBLIC.- Pada tanggal 17 Mei 2022, merupakan peringatan 50 tahun adanya gerakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau yang dikenal dengan sebutan LGBT. Mengingat Indonesia memiliki asas yang dipegang sebagai dasar negara yaitu Pancasila, dimana sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” membuat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki Tuhan.

Indonesia sebagai negara yang beragama sudah tentu tidak menyetujui adanya LGBT di negara ini. Meski demikian kampanye adanya kaum ini terus merajalela dengan sangat massif didukung dengan adanya kemajuan teknologi yang membuat pelaku pro-LGBT menyebarkan ajaran ini melalui drama, musik, dan hiburan lainnya yang bisa ditemukan di internet yang dengan mudah dapat diakses oleh siapapun.

Lesbian dan gay sendiri merupakan termasuk dalam homoseksual dimana menurut Sukanto, homoseksual adalah seseorang yang memiliki kecenderungan untuk tertarik pada orang yang memiliki jenis kelamin yang sama sebagai mitra seksualnya, atau singkatnya dapat dikatakan sebagai penyuka sesama jenis.

Adapun lesbian adalah penyuka sesama perempuan, sedangkan gay adalah penyuka sesama laki-laki. Selain itu, terdapat pula biseksual yang secara sederhana berarti seseorang yang memiliki ketertarikan pada semua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Selain itu, terdapat pula transgender yang merupakan seseorang yang mengidentifikasikan dirinya sendiri yang menyerupai lawan jenis kelaminnya, entah itu laki-laki ataupun perempuan.

Pengertian di atas sudah membuat kita bingung dengan adanya individu-individu yang menyatakan dirinya sebagai salah satu dari LGBT dan itu pula yang membuat penulis percaya bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kewajaran dari adanya perbedaan dalam diri individu melainkan sebagai sebuah penyimpangan. Hal ini dikarenakan bahwa secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai lawan jenisnya.

Selain pada pandangan naluriah, terdapat pula studi mengenai pengaruh hubungan sesama jenis, dimana menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yaitu CDC (Centers for Desease Control and Prevention), mengungkapkan bahwa hanya dengan 4% pria homoseksual yang berhubungan dengan sesama jenis akan membuat mereka mewakili 66% dari infeksi virus HIV di negara Amerika Serikat. Bahkan belum lama ini marak virus baru yang dikenal di Indonesia dengan sebutan “Cacar Monyet.

Dilansir dari Tribunnews yang menyebutkan bahwa Negara Spanyol menutup sauna gay dikarenakan menjadi sumber penyebaran cacar monyet. Besarnya pengaruh terhadap penyebaran penyakit ini sudah dapat menjadi bukti bahwa penyimpangan tersebut mengakibatkan hal buruk pada diri manusia sendiri.

Menurut Byrd, faktor genetik dari individu merupakan kontributor dalam terbentuknya individu menjadi seorang lesbi, gay, biseksual ataupun transgender. Namun, hal ini tidak serta merta menjadikan seseorang termasuk dalam LGBT. Apalagi manusia adalah makhluk yang terus berkembang, baik fisik maupun pengetahuan, sehingga perilaku seseorang juga dapat dipengaruhi dari hal lain.

Notoatmodjo mengungkapkan bahwa perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Pernyataan ini tentu dapat menjadi dasar bahwa seseorang tidak secara otomatis menjadi LGBT, melainkan karena adanya pengaruh dari lingkungan orang tersebut.

Berdasarkan pernyataan diatas, penulis menyadari bahwa LGBT merupakan sebuah orientasi seksual yang menyimpang dari norma alamiah manusia. Selain itu, LGBT juga memberikan dampak buruk terhadap manusia itu sendiri berupa timbulnya penyakit yang dapat diderita oleh mereka.

Meski demikian, kita tidak dapat menutup mata pada kenyataan bahwa terdapat pula pelaku LGBT di Indonesia. Mereka yang termasuk didalamnya merupakan orang-orang yang membutuhkan dorongan serta dukungan kita sehingga dapat membuat mereka kembali pada orientasi seksual mereka yang sesungguhnya.

Seperti yang sudah disinggung pada paragraf sebelumnya bahwa perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan. Maka dari itu, kita sudah sepantasnya menciptakan kondisi lingkungan yang dapat membantu mereka untuk berubah, serta mengarahkan mereka untuk keluar dari perilaku menyimpangnya. Namun, harus dagarisbawahi bahwa dorongan yang kita lakukan adalah untuk membuat seseorang keluar dari orientasi menyimpangnya, dan bukan mendukung pilihan mereka yang mengklasifikasikan diri mereka sendiri termasuk dalam LGBT.

Penyimpangan orientasi seksual dapat dicegah dengan cara sedari dini kita harus dapat menanamkan pengetahuan kepada anak mengenai orientasi seksualnya. Seperti kita ketahui, anak adalah peniru yang andal. Oleh karena itu, anak akan dengan mudah mengikuti apa yang dilihat selama ini, namun tanpa mempertimbangkan kebenaran atas apa yang dilakukannya.

Maka dari itu, kita sebagai orang dewasa yang sudah dapat membedakan benar dan salah harus dapat mengarahkan serta memberikan contoh yang benar terhadap anak-anak di bawah umur sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan identitas dirinya sendiri, dimana hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan baik secara fisik maupun psikisnya.

Oleh. Suci Oktarini.
Editor. Joni Apero
Palembang, 1 Juni 2022. (Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Fakultas Adab dan Humaniora. Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Sy. Apero Fublic

Masyarakat Musi Banyuasin Dukung PJ Bupati Muba dan PJ Sekda Jalankan Roda Penerintahan Pembanguan dan Kemasyarakatan.

APERO FUBLIC.- SEKAYU. Musni Wijaya SSos MSi secara resmi dilantik oleh PJ Bupati Musi Banyuasin Drs H Apriyadi MSi sebagai PJ Sekretaris Daerah Kabupaten Musi Banyuasin pada hari Senin (30/5/2022) malam di Pendopoan Griya Bumi Serasan.

Pelantikan ini adalah salah satu langkah agar roda pemerintahan terus berjalan dengan baik. Sehingga Pj Bupati bersama PJ Sekda dapat bersinergi menjalankan roda pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan di kabupaten Muba dan mewujudkan kesejateraan masyarakat muba dengan program Muba Terus Berkarya

Dalam sambutannya, PJ Bupati Muba Drs H Apriyadi MSi mengharapkan kepada Musni Wijaya, agar setelah dilantik sebagai penjabat Sekertaris Daerah agar segera melakukan koordinasi dengan para Asisten dan Kepala Organisasi Perangkat Daerah, sehingga dapat meningkatkan kelancaran roda pemerintahan.

Menurut PJ Bupati Muba Muba, tugas yang harus dituntaskan yaitu mengintegrasikan pengelolaan listrik yang di kelola BUMD Muba Muba Electrik Power (MEP) diserahterimakan ke PT PLN dan memfokuskan kekuatan APBD untuk menurunkan angka kemiskinan di Muba.

"Penjabat Sekda Muba mempunyai kewenangan yang sama dengan Sekda definitif. Oleh karena itu, saya harapkan dengan telah dilantiknya saudara sebagai penjabat sekda tidak ada lagi kendala-kendala administratif dalam penyelenggaraan manajemen pemerintahan di Kabupaten Muba yang kita cintai ini," ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama PJ Sekda Musni Wijaya menegaskan, bahwa dirinya akan menata pekerjaannya sebagai Sekda Muba sesuai dengan tugas pokok dan fungsi.

Dirinya juga siap menjalin sinergitas dengan jajaran Kepala PD, Camat hingga Lurah agar roda pemerintahan di Kabupaten Musi Banyuasin berjalan Opmtimal. "Saya mohon support dan dukungan dari seluruh jajaran Pemkab Muba, DPRD dan FKPD kiranya dapat menjalin kerjasama dengan baik dalam menjalankan amanah untuk meneruskan perjuangan yang sudah dirintis oleh pemimpin kita sebelumnya," tandasnya.

Sementara H Yusnin SSos MSi mantan PJ Bupati Muba/tokoh masyarakat Muba, berharap agar PJ Bupati Muba yang baru dilantik oleh Gubernur Sumsel dan PJ Sekda Musni Wijaya SSos MSi yang sudah dilantik dapat bekerja sejalan dengan baik, sehingga penyelenggaraan pemerintahan, pembangunan dan pelayanan masyarakat tidak ada kendala dan berjalan dengan lancar.

"Kami mengucapkan selamat dan sukses kepada PJ Bupati Muba Drs H Apriyadi MSi dan PJ Sekda Musni Wijaya. Semoga PJ Bupati Muba dan PJ Sekda Musni Wijaya dapat menjalankan amanah ini dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Untuk itu, marilah kita semua masyarakat Muba mendukung semua program pemerintah daerah, semoga muba aman dan damai," tandasnya.

Senada, Ketua MUI Kabupaten Muba Drs H Thamrin Nawawi MPdI juga berharap PJ Sekda Muba H Musni Wijaya dapat bersinergi membantu tugas Kepala Daerah, PJ Bupati Drs H Apriyadi MSi dalam rangka menjalankan roda pemerintahan.

"Atas nama Ketum MUI Kabupaten Muba mengucapkan Selamat dan Sukses atas amanah dilantiknya bapak H Musni Wijaya SSos MSi Sebagai PJ Sekda Muba. Semoga diberikan kekuatan lahir batin dalam menjalankan roda pemerintahan dan pembangunan terutama penegakan disiplin, zona integritas bebas KKN dan melayani, kepada ASN dalam wilayah Muba,"pungkasnya.

Zainal Hasan juga tokoh adat/ masyarakat juga berharap PJ Bupati Muba Drs H Apriyadi MSi dapat menjalankan roda pemerintahan di kabupaten Muba lebih baik kedepannya.

"Alhamdulillah saya hadir langsung pada kegiatan pelantikan PJ Bupati Muba saya juga mengucapkan selamat dan sukses kepada PJ Bupati Muba Drs H Apriyadi MSi. Semoga PJ Bupati Muba dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Terutama dapat menuntaskan tiga pesan penting yang di sampaikan oleh gubernur Sumsel H Herman Deru saat pelantikan tersebut salah satunya yaitu untuk mengentaskan kemiskinan di Muba, Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta persoalan listrik di beberapa tempat," tandasnya. (HS)

Editor. Desti, S.Sos
Palembang, 30 Mei 2022.
Tatafoto. Dadang Saputra.

Sy. Apero Fublic

5/29/2022

Dongeng Toraja: Bue Manik dan Asal Burung Tekukur

APERO FUBLIC.- Dikisahkan zaman dahulu, ada sebuah keluarga kecil yang hidup sederhana. Mereka tinggal bertiga, Bue Manik, adik bernama Kalisu dan ibunya. Sedangkan ayah Bue Manik telah meninggal dunia. Pada suatu siang, ibu Bue Manik sedang sibuk menenun di serambi rumah. Sementara Bue Manik sedang memasak nasi untuk makan siang.

“Ibu, siang ini kita memasak sayur apa.” Tanya Bue Manik pada ibunya.

“Sayur saja, yang disebelah adikmu Kalisu.” Kata ibunya sambil menenun. Ibu Bue Manik sebelumnya memetik sayur dan dia letakkan di sisi anaknya bernama Kalisu yang baru berumur  10 bulan. Ternyata Kalisu tidak lagi duduk ditempat semulah, dia memang selalu merangkak ke seluruh ruangan. Kebetulan, Kalisu baru saja buang kotoran dan kotorannya bercecer di sampingnya. Melihat itu, Bue Manik adalah orang yang sangat penurut dan polos. Dia pun salah pengertian dengan apa yang dikatakan ibunya. Hari pun telah siang, ibunya sudah lapar. Dia ingin makan dan pergi ke dapur. Ibu Bue Manik heran, mengapa sayur begitu aneh bentuknya. Bagaimana anaknya dapat memasak sayur demikian, pikirnya.

“Bue Manik, bagaimana kau memasak sayur demikian. Seharusnya berwarna hiaju mengapa warnanya kuning-kuning, seperti kotoran adikmu.” Tanya ibu Bue Manik, dia mencicipi satu sendok kedalam mulutnya, rasanya sangat aneh.

“Itu memang kotoran adik, Ibu. Ibu tadi bilang agar menyayur yang berada di samping adik. Waktu Aku menemuinya di ruang depan hanya kotorannyalah yang ada di sampingnya. Jadi Aku sayur kotoran adik sesuai perintah ibu.” Jawab Bue Manik. Bukan main marahnya ibu Bue Manik. Dia mengambil sapu lalu melangkah ke ruang tengah. Ibu Bue Manik berteriak marah-marah dan dia berkata kalau yang dia maksud sayuran yang ada di dalam keranjang dimana dia letakkan tadi di samping adiknya, Kalisu. Melihat ibunya sangat marah dan akan memukulnya dengan gagang sapu. Bue Manik berlai dari rumah dan menuju sebuah arah. Tampak ibunya berlari mengejarnya dari belakang dengan membawa sapu. Sambil mengejar tampak ibunya selalu meludah membuang sesuatu dari mulutnya. Bue Manik kemudian menemukan sebuah batu bagaikan manusia yang sedang duduk (batu tongkong), Bue Manik duduk di dekat batu lalu berkata.

Batu tumbek batu tumbek.
Terbukalah jalan saya jalan ke situ.
Saya dikejar oleh ibuku.
Bersama orang tuaku.

Kemudian batu itu membuka mengnganga dan melompatlah Bue Manik ke dalamnya. Setelah Bue Manik berada di dalam batu, batu kemudian menutup kembali. Saat ibunya tiba di dekat batu dia tidak dapat lagi mencega Bue Manik masuk batu. Sehingga menangislah ibu Bue Manik terseduh-seduh.

“Tiga hari tiga malam kemudian barulah kau dapat mengambil anakmu.” Sebuah suara berkata-kata seperti suara manusia tapi tidak ada wujudnya. Mendengar itu, ibu Bue Manik pulang dan menunggu selama tiga hari tiga malam. Kemudian dihari ketiga, dia datang untuk mengambil anaknya, Bue Manik.

Batu Tumbek batu Tumbek.
Tolonglah bukakan saya.
Saya mau mengambil anak saya.
Mengejar darah dagingku.

Setelah berkata demikian, ibu Bue Manik menunggu beberapa saat. Kemudian perlahan terdengar suara gemuruh batu itu terbelah dan membuka lebar. Namun aneh, didalam batu itu tidak ada Bue Manik. Melainkan puluhan burung tekukur dan terbang meninggalkan batu itu dan ibu Bue Manik. Mengertilah ibu Bue Manik, kalau anaknya telah berubah menjadi burung tekukur. Dalam kisah ini, sampai sekarang di daerah Tondon, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Tanah Toraja ada batu yang bernama, Batu Tumbek.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Joni Apero
Palembang, 30 Mei 2022.
Sumber: Muhammad Sikki, Dkk. Struktur Sastra Lisan Toraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic

Pahlawan Nasional dari Papua: Silas Papare

APERO FUBLIC.- Silas Papare lahir di Serui pada 8 Desember 1918. Putra dari Dorkas Mangge dan Musa Papare. Dia mengikuti pendidikan Sekolah Perawat pada tahun 1935. Kemudian bekerja di rumah sakit di Serui selama tiga tahun. Setelah itu, beliau memiliki kesempatan bekerja pada sebuah perusahaan minyak di Sorong sampai akhirnya Jepang datang menghancurkan Belanda di Indonesia.

Silas Papare merupakan seorang nasionalis sejati yang berjuang pada masanya untuk kemerdekaan Negara Indonesia. Dia selalu berusaha membentuk front perlawanan terhadap Belanda di tanah Papua. Karena aksinya tersebut membuat dirinya keluar masuk penjara.

Pada bulan Desember 1945, beliau bersama beberapa temannya menyatukan pemuda-pemuda Papua membentuk Batalyon Papua.  Mereka akan bergerak dengan konfrontasi, menyerang kedudukan Belanda. Namun, mata-mata Belanda berhasil mengetahui aksi mereka. Sehingga Belanda bergerak cepat dan berhasil menangkap Silas Papare. Kemudian dia dipenjara di kota Jayapura.

Setelah keluar dari penjara, Silas Papare tidak menjadi kecil nyalinya. Dia tidak takut di penjara apalagi diintimidasi pihak penjajah. Kembali dia memuali gerakan untuk membentuk pasukan Batalyon Papua yang tertunda. Tapi lagi-lagi gerakan Silas Papare dapat diketahui Belanda berkat mata-mata mereka yang mungkin disekitarnya, lalu mengawasi gerak-gerik beliau. Kali ini, dia dipenjara di Serui. Di penjara Serui, dia berjumpa dengan pejuang hebat juga, Dr. Sam Ratulangi. Seorang pejuang kelas Nasional pada zaman itu, dan Gubernur Sulawesi. Dari beliaulah Silas Papare belajar banyak dan keyakinannya akan Nasionalisme Indonesia bertambah hebat.

Silas Papare kembali bebes dan kemudian bersama teman-temannya mendirikan Partai yang mendukung Pemerintah Indonesia yang dinamakan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada tahun 1946, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta. Belanda sangat marah, dia kemudian kembali di tangkap dan dipenjara di Biak. Beruntung, Silas Papare dengan kecerdikannya dapat melarikan diri dan menuju Yogyakarta.

Di Yogyakarta pada tahun 1949, Silas Papare membentuk wadah perjuangan yaitu Badan Perjuangan Irian yang bertujuan membebaskan Papua dari cengkeraman penjajah Belanda yang kejam. Belanda tidak mau pergi dari Papua karena mereka ingin terus menjajah. Maka Pemerintah Republik Indonesia yang wilayahnya seluruh tanah jajahan Belanda di Hindia Belanda melaksanakan operasi Trikora. Setelah Belanda angkat kaki dari Papua. Silas Papare diangkat menjadi anggota MPRS Pusat sebagai perwakilan dari Papua.

Silas Papare kemudian membentuk Kompi Irian di Markas Besar Angkatan Darat pada tahun 1962. Namun, Belanda akhirnya sadar kalau memang mereka tidak lagi punya hak di tanah air orang Indonesia. Sebab dunia sudah berubah, dan sistem kolonialisasi dan kekejaman harus berakhir. Belanda ditekan Amerika Serikat dan juga kekuatan militer Indonesia sangat kuat masa itu. Sehingga Belanda akhirnya menyerah dan lari dari tanah Papua. Pada 15 Agustus 1962, diadakan Persetujuan New York, dan Silas Papare menjadi bagian dalam delegasi Republik Indonesia. Dia bersama teman-temannya Albert Kurubui, Johanes Abraham Dimara, Marthen Indey, Frits Kirihio, Efraim Somisu.

Silas Papare sang pejuang hebat hidup sejahtera dan bahagia. Umur terus bertambah dan akhirnya beliaupun mangkat di Serui, pada 7 Maret 1973 pada usia 54 tahun. Untuk mengenang jasa-jasa beliau Pemerintah Indonesia menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Dengan Surat Keputusan Presiden No. 77/TK/1993. Namanya kemudian juga diabadikan menjadi nama kapal perang, yaitu KRI Silas Papare. Kemudian nama beliau juga diabadikan menjadi nama bandara Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara di Sentani.

Kemudian didirikan monumen Silas Papare di dekat pelabuhan Serui. Di Jayapura nama beliau juga diabadikan menjadi nama Perguruan Tinggi yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Silas Papare. Di Kota Nabire nama beliau diabadikan menjadi nama jalan. Semoga perjuangan beliau memberikan motivasi bagi kita semua, terutama masyarakat Papua agar mencintai negara kita Indonesia, sebagai bentuk syukur atas perjuangan pendahulu kita.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Joni Apero.
Palembang, 29 Mei 2022.
Sumber foto: wikipedia

Sy. Apero Fublic

Melacak Ketergantungan Bahan Kain dan Pakaian pada Monopoli dan Pabrik Tekstil.

APERO FUBLIC.- Kita mungkin bertanya-tanya mengapa pembuatan pakaian zaman kita tidak lagi dengan cara menenun. Bahkan hampir semua penduduk tidak lagi dapat menenun dan memintal benang secara sendiri sebagaimana zaman dahulu. Sekarang, kain-kain yang dijadikan dasar pembuatan pakaian sudah diproduksi oleh pabrik tekstil. Harga yang lebih murah dan pembuatan sangat cepat dibandingkan dengan menenun.

Ketergantungan pada tekstil hasil industri adalah upaya-upaya monopoli penguasa Lokal dan Penjajah. Penciptaan monopoli tekstil bentuk pembentukan pasar dari pabrik tekstil. Dimana industri dipegang oleh negara-negara kolonial, Belanda di Indonesia. Bukan hanya kemampuan menenun dan memintal benang yang musnah, bahkan secara perlahan model berpakaian juga ikut berubah. Baik itu penyederhanaan bentuk dan model juga terpengaruh budaya penjajah.

Pada abad ke-18 (1738-1739) Sultan Mahmud Badaruddin melakukan monopoli perdagangan merica (sahang) di pedalaman. Semua sahang hasil perkebunan masyarakat di uluan diborongnya dan keluarga-keluarga sultan. Kemudian ditukar dengan bahan-bahan yang diperlukan di pedalaman, terutama pakaian dan kain-kain. Semua harga telah ditentukan oleh pihak Sultan. Keuntungan dari pakaian-pakaian tersebut sangat besar, karena mereka beli dengan murah pada agen di Batavia (Jakarta). Disisi lain perdagangan emas di Limun juga ditukar dengan kain dan pakaian. Pihak Sultan menunjuk anatara 12 sampai 15 orang perwakilan mereka, disebut jenang. Pada pondok-pondok sederhana yang baru dibuka penuh oleh kain-kain yang baru dibawa dari Palembang. Sedangkan Palembang mendatangkan kain dari Batavia.[1]

Hal demikian juga terbaca dalam kontrak perjanjian antara Sultan dan Belanda pada 1755. Dimana Sultan Mahmud Badaruddin setujuh mengambil langkah-langkah tegas atas penyelundupan timah. Memperbesar produksi merica dan mengizinkan Kompeni Belanda menginveksi kapal-kapal lain. Sultan juga berkata kalau dia juga akan mencegah penanaman kopi, beras, dan kapas.

Pada pencegahan penanaman kapas adalah bentuk pengembangan monopoli terhadap pakaian. Hal demikian juga sangat menguntungkan Sultan dan Keluarganya untuk memonopoli merica (sahang) dari pedalaman, dan belanda juga dapat pasar menjual hasil industri tekstil mereka. Pencegahan penanaman padi atas beras juga bentuk monopoli perdagangan beras dan mencegah energi rakyat terbuang pada tanaman padi. Sehingga akan menurunkan produksi merica yang menjadi komoditas perdagangan utama. Begitu juga penanaman kopi, selain Belanda yang akan memonopoli penjualan kopi pihak Sultan dan Keluarga juga mencegah hilangnya petani merica.

Akibat-akibat dari perjanjian dagang tersebut ternyata membuat ketergantungan masyarakat pada pihak Sultan dan Belanda. Pihak Sultan semakin kaya raya dan begitu juga orang-orang Belanda. Rakyat hanya menanam merica dan meninggalkan penanaman kapas. Mereka tidak lagi sibuk memintal benang dan pengolahan kapas untuk pakaian. Perlahan kreatifitas tersebut menghilang, sementara mereka dengan mudah mendapat kain dan pakaian yang dijual pihak Sultan. Keadaan demikian berlanjut dari tahun ke tahun. Dari satu penguasa ke penguasa lainnya sampai berakhir Pemerintahan Kesultanan, 1824.

Pada masa kolonial Belanda juga demikian. Rakyat lebih sering menanam tanaman perkebunan, seperti kopi, teh, padi, merica dan jenis rempa-rempah lainnya. Perkebunan kapas juga diusahakan oleh pihak Kolonial Belanda. Sehingga masyarakat menjadi buruh di perkebunan kapas atau menjadi buruh pabrik di pengolahan kapas-tekstil. Dengan demikian, sistem kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pakaian telah punah. Ibu-ibu dan remaja putri tidak lagi pandai memintal benang dan membuat kain atau pakain dari menenun.

Keadaan demikian mencapai puncaknya ketika penguasaan Jepang di Indonesia. Banyak orang-orang Indonesia kekurangan pakaian, sehingga banyak yang hampir telanjang. Bukan tidak ada uang untuk membeli, tapi tidak ada suplai dari pusat industri terhenti karena perang. Sementara disisi lain, kepandaian dalam memintal benang dan menenun sudah tidak ada lagi. Kapas pun tidak mereka tanam lagi, kecuali beberapa batang pohon kapas untuk keperluan kecil.

Alat tenun tidak ada lagi, bahkan banyak masyarakat yang tidak lagi mengenal bentuk alat tenun. Hanya sedikit lagi masyarakat yang masih dapat menenun di Sumatera Selatan. Itu masih dapat ditemukan di Kabupaten Ogan Ilir, dimana masih banyak penduduk yang pandai menenun. Namun kepandainya mereka hanya sebatas membuat kain tradisional songket untuk dijual. Penduduk yang membeli digunakan sebatas upacara adat pernikahan atau acara-acara resmi pemerintah.

Begitulah sedikit gambaran bagaimana monopoli tekstil terjadi dan menghancurkan kreatifitas menenun masyarakat. Masyarakat kehilangan kemandirian dalam bidang memproduksi pakaian mereka. Kalah oleh politik dan perjalanan sejarah, kalah pasar oleh industri, dan jangkauan ekonomi yang dapat memperoleh pakaian murah. Tanpa harus bersusah payah menanam kapas, memintal benang juga menenun.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Arip Muhtiar, S.Hum.
Palembang, 29 Mei 2022.
Referensi. Barbara Watson Andaya. Hidup Bersaudara: Sumatera Tenggara pada Abad XVII dan XVIII. Ombak: Yogyakarta, 2016.

Sy. Apero Fublic



[1]Barbara Watson Andaya. Hidup Bersaudara: Sumatera Tenggara pada Abad XVII dan XVIII. Ombak: Yogyakarta, 2016.