5/29/2022

Melacak Ketergantungan Bahan Kain dan Pakaian pada Monopoli dan Pabrik Tekstil.

APERO FUBLIC.- Kita mungkin bertanya-tanya mengapa pembuatan pakaian zaman kita tidak lagi dengan cara menenun. Bahkan hampir semua penduduk tidak lagi dapat menenun dan memintal benang secara sendiri sebagaimana zaman dahulu. Sekarang, kain-kain yang dijadikan dasar pembuatan pakaian sudah diproduksi oleh pabrik tekstil. Harga yang lebih murah dan pembuatan sangat cepat dibandingkan dengan menenun.

Ketergantungan pada tekstil hasil industri adalah upaya-upaya monopoli penguasa Lokal dan Penjajah. Penciptaan monopoli tekstil bentuk pembentukan pasar dari pabrik tekstil. Dimana industri dipegang oleh negara-negara kolonial, Belanda di Indonesia. Bukan hanya kemampuan menenun dan memintal benang yang musnah, bahkan secara perlahan model berpakaian juga ikut berubah. Baik itu penyederhanaan bentuk dan model juga terpengaruh budaya penjajah.

Pada abad ke-18 (1738-1739) Sultan Mahmud Badaruddin melakukan monopoli perdagangan merica (sahang) di pedalaman. Semua sahang hasil perkebunan masyarakat di uluan diborongnya dan keluarga-keluarga sultan. Kemudian ditukar dengan bahan-bahan yang diperlukan di pedalaman, terutama pakaian dan kain-kain. Semua harga telah ditentukan oleh pihak Sultan. Keuntungan dari pakaian-pakaian tersebut sangat besar, karena mereka beli dengan murah pada agen di Batavia (Jakarta). Disisi lain perdagangan emas di Limun juga ditukar dengan kain dan pakaian. Pihak Sultan menunjuk anatara 12 sampai 15 orang perwakilan mereka, disebut jenang. Pada pondok-pondok sederhana yang baru dibuka penuh oleh kain-kain yang baru dibawa dari Palembang. Sedangkan Palembang mendatangkan kain dari Batavia.[1]

Hal demikian juga terbaca dalam kontrak perjanjian antara Sultan dan Belanda pada 1755. Dimana Sultan Mahmud Badaruddin setujuh mengambil langkah-langkah tegas atas penyelundupan timah. Memperbesar produksi merica dan mengizinkan Kompeni Belanda menginveksi kapal-kapal lain. Sultan juga berkata kalau dia juga akan mencegah penanaman kopi, beras, dan kapas.

Pada pencegahan penanaman kapas adalah bentuk pengembangan monopoli terhadap pakaian. Hal demikian juga sangat menguntungkan Sultan dan Keluarganya untuk memonopoli merica (sahang) dari pedalaman, dan belanda juga dapat pasar menjual hasil industri tekstil mereka. Pencegahan penanaman padi atas beras juga bentuk monopoli perdagangan beras dan mencegah energi rakyat terbuang pada tanaman padi. Sehingga akan menurunkan produksi merica yang menjadi komoditas perdagangan utama. Begitu juga penanaman kopi, selain Belanda yang akan memonopoli penjualan kopi pihak Sultan dan Keluarga juga mencegah hilangnya petani merica.

Akibat-akibat dari perjanjian dagang tersebut ternyata membuat ketergantungan masyarakat pada pihak Sultan dan Belanda. Pihak Sultan semakin kaya raya dan begitu juga orang-orang Belanda. Rakyat hanya menanam merica dan meninggalkan penanaman kapas. Mereka tidak lagi sibuk memintal benang dan pengolahan kapas untuk pakaian. Perlahan kreatifitas tersebut menghilang, sementara mereka dengan mudah mendapat kain dan pakaian yang dijual pihak Sultan. Keadaan demikian berlanjut dari tahun ke tahun. Dari satu penguasa ke penguasa lainnya sampai berakhir Pemerintahan Kesultanan, 1824.

Pada masa kolonial Belanda juga demikian. Rakyat lebih sering menanam tanaman perkebunan, seperti kopi, teh, padi, merica dan jenis rempa-rempah lainnya. Perkebunan kapas juga diusahakan oleh pihak Kolonial Belanda. Sehingga masyarakat menjadi buruh di perkebunan kapas atau menjadi buruh pabrik di pengolahan kapas-tekstil. Dengan demikian, sistem kemandirian dalam memenuhi kebutuhan pakaian telah punah. Ibu-ibu dan remaja putri tidak lagi pandai memintal benang dan membuat kain atau pakain dari menenun.

Keadaan demikian mencapai puncaknya ketika penguasaan Jepang di Indonesia. Banyak orang-orang Indonesia kekurangan pakaian, sehingga banyak yang hampir telanjang. Bukan tidak ada uang untuk membeli, tapi tidak ada suplai dari pusat industri terhenti karena perang. Sementara disisi lain, kepandaian dalam memintal benang dan menenun sudah tidak ada lagi. Kapas pun tidak mereka tanam lagi, kecuali beberapa batang pohon kapas untuk keperluan kecil.

Alat tenun tidak ada lagi, bahkan banyak masyarakat yang tidak lagi mengenal bentuk alat tenun. Hanya sedikit lagi masyarakat yang masih dapat menenun di Sumatera Selatan. Itu masih dapat ditemukan di Kabupaten Ogan Ilir, dimana masih banyak penduduk yang pandai menenun. Namun kepandainya mereka hanya sebatas membuat kain tradisional songket untuk dijual. Penduduk yang membeli digunakan sebatas upacara adat pernikahan atau acara-acara resmi pemerintah.

Begitulah sedikit gambaran bagaimana monopoli tekstil terjadi dan menghancurkan kreatifitas menenun masyarakat. Masyarakat kehilangan kemandirian dalam bidang memproduksi pakaian mereka. Kalah oleh politik dan perjalanan sejarah, kalah pasar oleh industri, dan jangkauan ekonomi yang dapat memperoleh pakaian murah. Tanpa harus bersusah payah menanam kapas, memintal benang juga menenun.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Arip Muhtiar, S.Hum.
Palembang, 29 Mei 2022.
Referensi. Barbara Watson Andaya. Hidup Bersaudara: Sumatera Tenggara pada Abad XVII dan XVIII. Ombak: Yogyakarta, 2016.

Sy. Apero Fublic



[1]Barbara Watson Andaya. Hidup Bersaudara: Sumatera Tenggara pada Abad XVII dan XVIII. Ombak: Yogyakarta, 2016.

0 komentar:

Post a Comment