5/31/2022

LGBT: Perbedaan atau Penyimpangan

APERO FUBLIC.- Pada tanggal 17 Mei 2022, merupakan peringatan 50 tahun adanya gerakan Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender atau yang dikenal dengan sebutan LGBT. Mengingat Indonesia memiliki asas yang dipegang sebagai dasar negara yaitu Pancasila, dimana sila pertama yang berbunyi “Ketuhanan Yang Maha Esa,” membuat bangsa Indonesia merupakan bangsa yang memiliki Tuhan.

Indonesia sebagai negara yang beragama sudah tentu tidak menyetujui adanya LGBT di negara ini. Meski demikian kampanye adanya kaum ini terus merajalela dengan sangat massif didukung dengan adanya kemajuan teknologi yang membuat pelaku pro-LGBT menyebarkan ajaran ini melalui drama, musik, dan hiburan lainnya yang bisa ditemukan di internet yang dengan mudah dapat diakses oleh siapapun.

Lesbian dan gay sendiri merupakan termasuk dalam homoseksual dimana menurut Sukanto, homoseksual adalah seseorang yang memiliki kecenderungan untuk tertarik pada orang yang memiliki jenis kelamin yang sama sebagai mitra seksualnya, atau singkatnya dapat dikatakan sebagai penyuka sesama jenis.

Adapun lesbian adalah penyuka sesama perempuan, sedangkan gay adalah penyuka sesama laki-laki. Selain itu, terdapat pula biseksual yang secara sederhana berarti seseorang yang memiliki ketertarikan pada semua jenis kelamin, yaitu laki-laki dan perempuan. Selain itu, terdapat pula transgender yang merupakan seseorang yang mengidentifikasikan dirinya sendiri yang menyerupai lawan jenis kelaminnya, entah itu laki-laki ataupun perempuan.

Pengertian di atas sudah membuat kita bingung dengan adanya individu-individu yang menyatakan dirinya sebagai salah satu dari LGBT dan itu pula yang membuat penulis percaya bahwa hal tersebut bukanlah sebuah kewajaran dari adanya perbedaan dalam diri individu melainkan sebagai sebuah penyimpangan. Hal ini dikarenakan bahwa secara naluriah manusia memiliki kecenderungan untuk menyukai lawan jenisnya.

Selain pada pandangan naluriah, terdapat pula studi mengenai pengaruh hubungan sesama jenis, dimana menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika, yaitu CDC (Centers for Desease Control and Prevention), mengungkapkan bahwa hanya dengan 4% pria homoseksual yang berhubungan dengan sesama jenis akan membuat mereka mewakili 66% dari infeksi virus HIV di negara Amerika Serikat. Bahkan belum lama ini marak virus baru yang dikenal di Indonesia dengan sebutan “Cacar Monyet.

Dilansir dari Tribunnews yang menyebutkan bahwa Negara Spanyol menutup sauna gay dikarenakan menjadi sumber penyebaran cacar monyet. Besarnya pengaruh terhadap penyebaran penyakit ini sudah dapat menjadi bukti bahwa penyimpangan tersebut mengakibatkan hal buruk pada diri manusia sendiri.

Menurut Byrd, faktor genetik dari individu merupakan kontributor dalam terbentuknya individu menjadi seorang lesbi, gay, biseksual ataupun transgender. Namun, hal ini tidak serta merta menjadikan seseorang termasuk dalam LGBT. Apalagi manusia adalah makhluk yang terus berkembang, baik fisik maupun pengetahuan, sehingga perilaku seseorang juga dapat dipengaruhi dari hal lain.

Notoatmodjo mengungkapkan bahwa perilaku itu dibentuk melalui suatu proses dalam interaksi manusia dengan lingkungannya. Pernyataan ini tentu dapat menjadi dasar bahwa seseorang tidak secara otomatis menjadi LGBT, melainkan karena adanya pengaruh dari lingkungan orang tersebut.

Berdasarkan pernyataan diatas, penulis menyadari bahwa LGBT merupakan sebuah orientasi seksual yang menyimpang dari norma alamiah manusia. Selain itu, LGBT juga memberikan dampak buruk terhadap manusia itu sendiri berupa timbulnya penyakit yang dapat diderita oleh mereka.

Meski demikian, kita tidak dapat menutup mata pada kenyataan bahwa terdapat pula pelaku LGBT di Indonesia. Mereka yang termasuk didalamnya merupakan orang-orang yang membutuhkan dorongan serta dukungan kita sehingga dapat membuat mereka kembali pada orientasi seksual mereka yang sesungguhnya.

Seperti yang sudah disinggung pada paragraf sebelumnya bahwa perilaku juga dipengaruhi oleh lingkungan. Maka dari itu, kita sudah sepantasnya menciptakan kondisi lingkungan yang dapat membantu mereka untuk berubah, serta mengarahkan mereka untuk keluar dari perilaku menyimpangnya. Namun, harus dagarisbawahi bahwa dorongan yang kita lakukan adalah untuk membuat seseorang keluar dari orientasi menyimpangnya, dan bukan mendukung pilihan mereka yang mengklasifikasikan diri mereka sendiri termasuk dalam LGBT.

Penyimpangan orientasi seksual dapat dicegah dengan cara sedari dini kita harus dapat menanamkan pengetahuan kepada anak mengenai orientasi seksualnya. Seperti kita ketahui, anak adalah peniru yang andal. Oleh karena itu, anak akan dengan mudah mengikuti apa yang dilihat selama ini, namun tanpa mempertimbangkan kebenaran atas apa yang dilakukannya.

Maka dari itu, kita sebagai orang dewasa yang sudah dapat membedakan benar dan salah harus dapat mengarahkan serta memberikan contoh yang benar terhadap anak-anak di bawah umur sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan identitas dirinya sendiri, dimana hal ini tentu akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan baik secara fisik maupun psikisnya.

Oleh. Suci Oktarini.
Editor. Joni Apero
Palembang, 1 Juni 2022. (Mahasiswi Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang. Fakultas Adab dan Humaniora. Jurusan Ilmu Perpustakaan.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment