5/29/2022

Dongeng Toraja: Bue Manik dan Asal Burung Tekukur

APERO FUBLIC.- Dikisahkan zaman dahulu, ada sebuah keluarga kecil yang hidup sederhana. Mereka tinggal bertiga, Bue Manik, adik bernama Kalisu dan ibunya. Sedangkan ayah Bue Manik telah meninggal dunia. Pada suatu siang, ibu Bue Manik sedang sibuk menenun di serambi rumah. Sementara Bue Manik sedang memasak nasi untuk makan siang.

“Ibu, siang ini kita memasak sayur apa.” Tanya Bue Manik pada ibunya.

“Sayur saja, yang disebelah adikmu Kalisu.” Kata ibunya sambil menenun. Ibu Bue Manik sebelumnya memetik sayur dan dia letakkan di sisi anaknya bernama Kalisu yang baru berumur  10 bulan. Ternyata Kalisu tidak lagi duduk ditempat semulah, dia memang selalu merangkak ke seluruh ruangan. Kebetulan, Kalisu baru saja buang kotoran dan kotorannya bercecer di sampingnya. Melihat itu, Bue Manik adalah orang yang sangat penurut dan polos. Dia pun salah pengertian dengan apa yang dikatakan ibunya. Hari pun telah siang, ibunya sudah lapar. Dia ingin makan dan pergi ke dapur. Ibu Bue Manik heran, mengapa sayur begitu aneh bentuknya. Bagaimana anaknya dapat memasak sayur demikian, pikirnya.

“Bue Manik, bagaimana kau memasak sayur demikian. Seharusnya berwarna hiaju mengapa warnanya kuning-kuning, seperti kotoran adikmu.” Tanya ibu Bue Manik, dia mencicipi satu sendok kedalam mulutnya, rasanya sangat aneh.

“Itu memang kotoran adik, Ibu. Ibu tadi bilang agar menyayur yang berada di samping adik. Waktu Aku menemuinya di ruang depan hanya kotorannyalah yang ada di sampingnya. Jadi Aku sayur kotoran adik sesuai perintah ibu.” Jawab Bue Manik. Bukan main marahnya ibu Bue Manik. Dia mengambil sapu lalu melangkah ke ruang tengah. Ibu Bue Manik berteriak marah-marah dan dia berkata kalau yang dia maksud sayuran yang ada di dalam keranjang dimana dia letakkan tadi di samping adiknya, Kalisu. Melihat ibunya sangat marah dan akan memukulnya dengan gagang sapu. Bue Manik berlai dari rumah dan menuju sebuah arah. Tampak ibunya berlari mengejarnya dari belakang dengan membawa sapu. Sambil mengejar tampak ibunya selalu meludah membuang sesuatu dari mulutnya. Bue Manik kemudian menemukan sebuah batu bagaikan manusia yang sedang duduk (batu tongkong), Bue Manik duduk di dekat batu lalu berkata.

Batu tumbek batu tumbek.
Terbukalah jalan saya jalan ke situ.
Saya dikejar oleh ibuku.
Bersama orang tuaku.

Kemudian batu itu membuka mengnganga dan melompatlah Bue Manik ke dalamnya. Setelah Bue Manik berada di dalam batu, batu kemudian menutup kembali. Saat ibunya tiba di dekat batu dia tidak dapat lagi mencega Bue Manik masuk batu. Sehingga menangislah ibu Bue Manik terseduh-seduh.

“Tiga hari tiga malam kemudian barulah kau dapat mengambil anakmu.” Sebuah suara berkata-kata seperti suara manusia tapi tidak ada wujudnya. Mendengar itu, ibu Bue Manik pulang dan menunggu selama tiga hari tiga malam. Kemudian dihari ketiga, dia datang untuk mengambil anaknya, Bue Manik.

Batu Tumbek batu Tumbek.
Tolonglah bukakan saya.
Saya mau mengambil anak saya.
Mengejar darah dagingku.

Setelah berkata demikian, ibu Bue Manik menunggu beberapa saat. Kemudian perlahan terdengar suara gemuruh batu itu terbelah dan membuka lebar. Namun aneh, didalam batu itu tidak ada Bue Manik. Melainkan puluhan burung tekukur dan terbang meninggalkan batu itu dan ibu Bue Manik. Mengertilah ibu Bue Manik, kalau anaknya telah berubah menjadi burung tekukur. Dalam kisah ini, sampai sekarang di daerah Tondon, Kecamatan Sanggalangi, Kabupaten Tanah Toraja ada batu yang bernama, Batu Tumbek.

Rewrite. Tim Apero Fublic
Editor. Joni Apero
Palembang, 30 Mei 2022.
Sumber: Muhammad Sikki, Dkk. Struktur Sastra Lisan Toraja. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1986.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment