5/29/2022

Pahlawan Nasional dari Papua: Silas Papare

APERO FUBLIC.- Silas Papare lahir di Serui pada 8 Desember 1918. Putra dari Dorkas Mangge dan Musa Papare. Dia mengikuti pendidikan Sekolah Perawat pada tahun 1935. Kemudian bekerja di rumah sakit di Serui selama tiga tahun. Setelah itu, beliau memiliki kesempatan bekerja pada sebuah perusahaan minyak di Sorong sampai akhirnya Jepang datang menghancurkan Belanda di Indonesia.

Silas Papare merupakan seorang nasionalis sejati yang berjuang pada masanya untuk kemerdekaan Negara Indonesia. Dia selalu berusaha membentuk front perlawanan terhadap Belanda di tanah Papua. Karena aksinya tersebut membuat dirinya keluar masuk penjara.

Pada bulan Desember 1945, beliau bersama beberapa temannya menyatukan pemuda-pemuda Papua membentuk Batalyon Papua.  Mereka akan bergerak dengan konfrontasi, menyerang kedudukan Belanda. Namun, mata-mata Belanda berhasil mengetahui aksi mereka. Sehingga Belanda bergerak cepat dan berhasil menangkap Silas Papare. Kemudian dia dipenjara di kota Jayapura.

Setelah keluar dari penjara, Silas Papare tidak menjadi kecil nyalinya. Dia tidak takut di penjara apalagi diintimidasi pihak penjajah. Kembali dia memuali gerakan untuk membentuk pasukan Batalyon Papua yang tertunda. Tapi lagi-lagi gerakan Silas Papare dapat diketahui Belanda berkat mata-mata mereka yang mungkin disekitarnya, lalu mengawasi gerak-gerik beliau. Kali ini, dia dipenjara di Serui. Di penjara Serui, dia berjumpa dengan pejuang hebat juga, Dr. Sam Ratulangi. Seorang pejuang kelas Nasional pada zaman itu, dan Gubernur Sulawesi. Dari beliaulah Silas Papare belajar banyak dan keyakinannya akan Nasionalisme Indonesia bertambah hebat.

Silas Papare kembali bebes dan kemudian bersama teman-temannya mendirikan Partai yang mendukung Pemerintah Indonesia yang dinamakan Partai Kemerdekaan Indonesia Irian (PKII) pada tahun 1946, setahun setelah Proklamasi Kemerdekaan di Jakarta. Belanda sangat marah, dia kemudian kembali di tangkap dan dipenjara di Biak. Beruntung, Silas Papare dengan kecerdikannya dapat melarikan diri dan menuju Yogyakarta.

Di Yogyakarta pada tahun 1949, Silas Papare membentuk wadah perjuangan yaitu Badan Perjuangan Irian yang bertujuan membebaskan Papua dari cengkeraman penjajah Belanda yang kejam. Belanda tidak mau pergi dari Papua karena mereka ingin terus menjajah. Maka Pemerintah Republik Indonesia yang wilayahnya seluruh tanah jajahan Belanda di Hindia Belanda melaksanakan operasi Trikora. Setelah Belanda angkat kaki dari Papua. Silas Papare diangkat menjadi anggota MPRS Pusat sebagai perwakilan dari Papua.

Silas Papare kemudian membentuk Kompi Irian di Markas Besar Angkatan Darat pada tahun 1962. Namun, Belanda akhirnya sadar kalau memang mereka tidak lagi punya hak di tanah air orang Indonesia. Sebab dunia sudah berubah, dan sistem kolonialisasi dan kekejaman harus berakhir. Belanda ditekan Amerika Serikat dan juga kekuatan militer Indonesia sangat kuat masa itu. Sehingga Belanda akhirnya menyerah dan lari dari tanah Papua. Pada 15 Agustus 1962, diadakan Persetujuan New York, dan Silas Papare menjadi bagian dalam delegasi Republik Indonesia. Dia bersama teman-temannya Albert Kurubui, Johanes Abraham Dimara, Marthen Indey, Frits Kirihio, Efraim Somisu.

Silas Papare sang pejuang hebat hidup sejahtera dan bahagia. Umur terus bertambah dan akhirnya beliaupun mangkat di Serui, pada 7 Maret 1973 pada usia 54 tahun. Untuk mengenang jasa-jasa beliau Pemerintah Indonesia menetapkan beliau sebagai Pahlawan Nasional. Dengan Surat Keputusan Presiden No. 77/TK/1993. Namanya kemudian juga diabadikan menjadi nama kapal perang, yaitu KRI Silas Papare. Kemudian nama beliau juga diabadikan menjadi nama bandara Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara di Sentani.

Kemudian didirikan monumen Silas Papare di dekat pelabuhan Serui. Di Jayapura nama beliau juga diabadikan menjadi nama Perguruan Tinggi yaitu Sekolah Tinggi Ilmu Sosial Politik Silas Papare. Di Kota Nabire nama beliau diabadikan menjadi nama jalan. Semoga perjuangan beliau memberikan motivasi bagi kita semua, terutama masyarakat Papua agar mencintai negara kita Indonesia, sebagai bentuk syukur atas perjuangan pendahulu kita.

Rewrite. Tim Apero Fublic.
Editor. Joni Apero.
Palembang, 29 Mei 2022.
Sumber foto: wikipedia

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment