BABEL
Esai
Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Searching, Relate, Diagnosa: Pilihan Remaja dalam Memahami Gejala Kesehatan Mental di Era Digital
![]() |
| PENULIS : Oleh: Elen Pranata |
APERO FUBLIC I OPINI.- Diera digital ini, remaja tidak lepas dari media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Remaja menjadikan media sosial sebagai salah satu tempat mengakses informasi. Media sosial khususnya aplikasi yang sangat populer sekarang yaitu Tiktok, sebuah aplikasi yang berisi video singkat terkait beragam konten sukses membuat candu para pengguna karena kemudahan dalam mendapatkan informasi dengan cepat. Konten yang bisa didapatkan bervariasi salah satunya informasi tentang kesehatan mental. Sebuah isu yang terus menarik perhatian kalangan remaja.
“Mirip banget kayak yang aku alami, ternyata selama ini kena masalah mental”, “kayaknya aku anxiety deh”, “Kayaknya aku depresi deh”, Kalimat-kalimat tersebut semakin terasa familiar karena seringkali muncul dikolom komentar media sosial khususnya Tiktok, yang sering dikunjungi remaja untuk menemukan jawaban atas masalah kesehatan mental yang mereka alami. Hal ini cukup menarik perhatian karena menggambarkan peningkatan kesadaran remaja akan pentingnya kesehatan mental dimedia sosial. Namun, disisi lain hal ini cukup mengkhawatirkan karena menggambarkan peningkatan perilaku self diagnosis pada remaja.
Di era digital ini, disaat remaja sedang mengalami gangguan kesehatan mental, mereka cenderung memilih untuk mencari informasi pada aplikasi tiktok dan membaca komentar dari beberapa pengguna kemudian membandingkannya untuk memahami gejala masalah kesehatan mental yang mereka alami. Namun sayangnya, beberapa remaja kurang bijak dalam memanfaatkan hal tersebut mereka cenderung langsung menerima informasi dan menyimpulkan karena merasa relate dengan informasi yang didapatkan tanpa menyaring informasi tersebut (Wijaya et al., 2024).
Hal ini menyebabkan remaja mulai melakukan self-diagnosis. Self-diagnosis merupakan diagnosis terhadap suatu penyakit yang muncul ketika seseorang menyimpulkan kondisi psikologis diri mereka secara mandiri berdasarkan pengetahuan yang mereka miliki atau sumber tidak kredibel, misalnya informasi yang tersebar luas di media sosial tanpa mengetahui apakah itu dari seorang profesional atau bukan (Andri, 2023).
Self diagnosis ini dapat menyebabkan beberapa dampak negatif terhadap individu. Ketika seseorang melakukan self diagnosis dengan berbekal informasi yang mereka dapatkan di media sosial melalui sumber yang tidak kredibel atau bukan dari seorang profesional, maka bisa saja informasi yang diterima adalah informasi yang salah dan keliru.
Hal ini dapat memberikan dampak buruk seperti munculnya perasaan khawatir berlebihan terhadap self diagnosis yang dilakukan menjadi fakta sehingga mempengaruhi emosinonal yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, seperti overthingking, suasana hati buruk, mudah marah, kesulitan fokus, serta kesulitan tidur (Febriana & Amalia, 2024). Selain itu, self diagnosis juga memungkinkan terjadinya salah diagnosis yang menyebabkan salah penanganan sehingga menyebabkan masalah kesehatan yang lebih serius (Annury et al., 2022).
Di sisi lain, seorang profesional seperti psikolog memang ahli khusus pada bidang ini. Psikolog memberikan bantuan dengan dasar ilmu psikolog dan sesuai dengan kebutuhan klien. Selain itu, psikolog benar benar mencari akar dari permasalahan yang dialami klien. Serta membantu proses secara menyeluruh untuk penyembuhan jangka panjang.
Namun demikian, walaupun self dianosis memiliki dampak negatif, tetapi self diagnosis bisa menjadi awal untuk meningkatkan kepedulian seseorang untuk lebih aware terhadap diri sendiri. Selain itu, seseorang bisa memanfaatkan informasi tentang kesehatan mental yang ada dimedia sosial sebagai pengetahuan awal untuk meningkatkan kesadaran terhadap gejala kesehatan mental yang dialami sebelum meminta bantuan psikolog (Febriana & Amalia, 2024).
Banyaknya remaja yang memilih untuk mencari solusi dimedia sosial dikarenakan media sosial dapat diakses dengan mudah oleh siapapun, dimanapun, dan kapanpun. Mengingat di era digital ini dimana seseorang dapat dengan mudah mengakses informasi, hanya dengan bermodalkan internet dan kemampuan mengakses teknologi khususnya smartphone, seseorang dapat dengan mudah mencari informasi-informasi terkait kondisi kesehatan mental yang sedang dialami. Sementara itu, konseling dengan psikolog membutuhkan pendaftaran, jadwal pertemuan bahkan terkadang butuh biaya yang mahal (Hernawati, Lucia & Eryani, 2020).
Dengan demikian, media sosial dapat remaja jadikan sebagai langkah awal sebagai edukasi pengetahuan awal untuk memahami masalah kesehatan mental yang dialami sebelum meminta bantuan profesional. Hal ini dikarenakan media sosial sangat mudah diakses, walaupun berpotensi menimbulkan masalah baru seperti self-diagnosis. Namun demikian, peran profesional tidak dapat digantikan dalam proses penyembuhan jangka panjang yang efektif. kedua pendekatan masalah kesehatan mental remaja ini memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu remaja indonesia merasa lebih baik dan pulih dari masalah kesehatan mental yang dialami. Kemudian, perlu adanya edukasi agar remaja tidak terlalu bergantung dengan media sosial dan sadar kapan mereka mebutuhkan bantuan profesional seperti psikolog.
REFERENCES
Andri. (2023). Kesehatan Mental: Bahaya Fenomena Self-Diagnosis Generasi Muda. https://fkm.unair.ac.id/2023/10/17/kesehatan-mental-bahaya-fenomena-self-diagnosis-generasi-muda/
Annury, U. A., Yuliana, F., Suhadi, V. A. Z., & Karlina, C. S. A. (2022). Dampak Self Diagnose Pada Kondisi Mental Health Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya. Jurnal Prosiding Seminar Nasional Ilmu Sosial (SNIIS), Vol 1, 481–486.
Febriana, E., & Amalia, U. (2024). Dampak Konten Bertema Psikologi Dalam Media Sosial TikTok Terhadap Fenomena Self Diagnose Pada Generasi Z Universitas Teknologi Yogyakarta , Indonesia bereksperimen dengan berbagai jenis media sosial . Adapun aplikasi media sosial yang saat ini generasi y. Inovasi Ilmu Pendidikan, 2(4).
Hernawati, Lucia & Eryani, P. (2020). Prediktor Intensi Mahasiswa Enggan Mencari Bantuan pada Profesional di Masa Pandemi Covid 19. http://repo.iain-tulungagung.ac.id/5510/5/BAB 2.pdf
Wijaya, R., Ramdan, A. R., Asariningrum, D., Syantifa, R. A., & Sarathan, I. (2024). Fenomena Self Diagnose terhadap Konten Kesehatan Mental di Media Sosial Tiktok: Analisis Wacana Multimodal terhadap Asumsi Masyarakat di Kolom Komentar. JSSH (Jurnal Sains Sosial Dan Humaniora), 8(2), 125. https://doi.org/10.30595/jssh.v8i2.23784.
Oleh: Elen Pranata
Prodi Pendidikan Bahasa Inggris - Universitas Muhammadiyah Bangka Belitung.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
BABEL

.jpg)
Post a Comment