Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
Mengajar Hijaiyah Tanpa Air Mata, Menumbuhkan Growth Mindset pada Anak di TPA
APERO FUBLIC I Proses awal mengenalkan huruf hijaiyah dan bacaan Al-Qur'an pada anak usia dini terkadang sering kali merasa merasa kesulitan melafalkan, ketakutan ditunjuk untuk maju, bahkan mengangis karena tidak bisa.
Ketidakmampuan membedakan bentuk huruf yang mirip, kesulitan melafalkan huruf sesuai makhrajnya, hingga kekeliruan menerapkan hukum tajwid sering kali dipandang oleh anak sebagai bentuk kegagalan mereka.
Kesulitan tersebut terkadang membuat anak merasa dirinya tidak mampu atau kurang pintar dibandingkan teman-temannya, dorongan psikologis untuk belajar mengaji akan menurun, berujung pada penolakan anak untuk belajar mengaji dan trauma belajar di TPA.
Dalam psikologi pembelajaran, masalah ini dapat terjadi karena anak terbiasa berpikir bahwa kemampuan dirinya tidak dapat berubah. Pola pikir ini disebut fixed mindset atau pola pikir tetap.
Ketika keberhasilan mengaji hanya dinilai dari seberapa cepat anak membaca dan seberapa sedikit kesalahan yang dilakukan, anak dapat menganggap bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an merupakan sesuatu yang sulit untuk ditingkatkan.
Oleh karena itu, pandangan psikopedagogis melalui penumbuhan growth mindset (pola pikir berkembang) yang dipelopori oleh Carol Dweck menjadi sebuah keharusan yang mendasar tertanam di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Melalui growth mindset, proses belajar hijaiyah diubah menjadi pengalaman yang menguatkan, menyenangkan, dan bebas dari air mata.
Teori growth mindset menjelaskan bahwa kemampuan berpikir, keterampilan, dan kecerdasan seseorang tidak bersifat tetap sejak lahir tetapi dapat berkembang melalui usaha, latihan, proses belajar, strategi yang tepat, serta ketekunan.
Dalam konteks pembelajaran Al-Qur'an di TPA, penerapan growth mindset sangat penting untuk membantu anak menjadi lebih kuat secara mental dalam menghadapi kesulitan dan tantangan.
Ketika anak melakukan kesalahan saat membaca huruf hijaiyah, misalnya tertukar antara huruf Jim (ج) dan Kha (خ), sebenarnya anak sedang belajar membedakan bunyi dan bentuk huruf tersebut.
Dalam pandangan growth mindset, kesalahan bukanlah tanda bahwa anak tidak mampu, melainkan bagian dari proses belajar. Melalui kesalahan tersebut, anak memiliki kesempatan untuk memperbaiki bacaannya dan meningkatkan kemampuannya secara bertahap
Pengaruh pola pikir ini juga bergantung pada cara guru memberikan pujian dan dukungan kepada anak. Pujian yang berfokus pada usaha, seperti menghargai kesungguhan anak saat berulang kali berlatih melafalkan huruf sesuai makhrajnya, dapat meningkatkan semangat belajar dan rasa percaya diri anak.
Dengan demikian, anak akan lebih berani mencoba materi yang lebih sulit. Cara ini lebih baik daripada pujian yang hanya menekankan bakat atau kecerdasan alami anak, karena anak belajar bahwa kemampuan membaca Al-Qur’an dapat ditingkatkan melalui latihan dan usaha yang sungguh-sungguh.
Sikap Pendidik dalam menumbuhkan Growth Mindset pada anak terlihat pada ilustrasi gambar diatas bahwa, ustadzah berdiri di depan kelas dengan raut wajah tersenyum hangat dan ramah sambil memegang penunjuk kayu mengarahkan pada tulisan di papan tulis.
Sikap ustadzah yang ramah dan tidak menakutkan membuat anak merasa nyaman dan terlindungi saat belajar. Ketika anak melakukan kesalahan dalam membaca, ustadzah tidak langsung marah, tetapi membimbingnya dengan sabar.
Dengan cara ini, anak merasa aman untuk mencoba kembali tanpa takut dimarahi atau dipermalukan di depan teman-temannya. Akibatnya, anak menjadi lebih percaya diri dan berani terus belajar memperbaiki bacaannya.
Antusiasme santri dan suasana belajar yang menyenangkan tanpa air mata menunjukkan para santri di TPA An-Nahl Putra Buyut baik anak laki-laki maupun anak perempuan dengan memakai seragam nya duduk bermejakan dampar pada setiap dua orang santri dengan tenang, tertib, dan antusias.
Beberapa santri tampak mengacungkan tangan atau menyimak papan tulis dengan penuh perhatian, para santri terlihat nyaman dan tidak menunjukkan rasa ketakutan, beban emosional, ataupun air mata.
Suasana ini menandakan bahwa kelas TPA berhasil membangun ruang belajar yang menyenangkan, ramah, dan menghargai setiap anak, sehingga mereka dapat belajar dengan tenang tanpa merasa tertekan.
Ketika seorang santri merasa gagal membaca suatu huruf hijaiyah dan berkata "Saya tidak bisa", pendidik perlu mengubah tanggapan kalimat tersebut menjadi "Kamu belum bisa, dan dengan latihan mengulang, kamu pasti akan menguasainya".
Pendidik perlu menggeser pujian dari kualifikasi kepintaran fisik ke apresiasi atas usaha, seperti "Ustadzah sangat bangga dengan kesabaranmu mengulang huruf 'Ain tadi sampai makin jelas".
Ruang kelas TPA harus dikondisikan agar tidak ada kawan sebaya yang saling mengejek ketika terjadi kekeliruan bacaan, sehingga kebersamaan di TPA menjadi sumber dukungan emosional.
Kesimpulan
Mengajar huruf hijaiyah pada anak usia dini di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) menjadi perjalanan spiritual dan kognitif yang membahagiakan, bukan momen yang diwarnai oleh intimidasi maupun air mata.
Melalui kacamata psikologi pembelajaran, pendekatan berbasis growth mindset membuktikan bahwa kemampuan membaca Al-Qur'an bukanlah bakat statis, melainkan keterampilan yang terus berkembang seiring dengan latihan, proses, dan strategi yang tepat.
Sebagaimana ditunjukkan pada proses belajar mengaji di TPA An-Nahl Putra Buyut dalam gambar, ketika Ustadzah memberikan kehangatan emosional, menyajikan materi secara terstruktur, dan menghargai setiap langkah perkembangan santri, anak-anak akan belajar dengan antusias dan percaya diri.
Dengan mengintegrasikan growth mindset dan rasa aman psikologis, TPA tidak hanya berhasil mencetak santri yang fasih membaca hijaiyah, tetapi juga membentuk pribadi yang tangguh, mencintai proses belajar, dan meresapi nilai-nilai Al-Qur'an dengan penuh kegembiraan sepanjang hayatnya.
Oleh: Anti Lutviana, S.Pd
Mahasiswi Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung (UIN JUSILA) , jurusan S2 Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment