Kampus
Mahasiswi
Opini
Krisis Adab Generasi Alfa, Mengapa Kita Harus Kembali Melirik TPA?
APERO FUBLIC I Fenomena pergeseran etika dan penurunan tata krama pada Generasi Alfa yakni anak-anak yang lahir setelah tahun 2010 dan tumbuh di tengah perkembangan teknologi digital yang sangat pesat. Kehadiran gawai, gempuran media sosial, dan berbagai konten digital yang mudah diakses dapat membuat anak terbiasa dengan sesuatu yang cepat dan menyenangkan.
Sayangnya, kemajuan teknologi digital ini tidak sejalan dengan kematangan emosional dan adab keseharian anak. Gejala krisis adab semakin nyata di ruang-ruang belajar seperti berkurangnya rasa hormat (ta'dzim) kepada guru, kurangnya kemampuan mendengarkan secara dengan baik, serta sikap tidak peduli ketika kegiatan pembelajaran berlangsung.
Dalam pendidikan Islam, kaidah mendasar yang senantiasa dipegang teguh adalah al-adab qabl al-'ilm, yang berarti adab harus diajarkan sebelum ilmu pengetahuan. Artinya, anak perlu dibiasakan memiliki sikap sopan, menghormati guru, dan berperilaku baik sebelum mempelajari berbagai ilmu.
Jika anak tidak memiliki adab dalam belajar, maka kegiatan pembelajaran hanya menjadi proses menerima pengetahuan tanpa membentuk karakter yang baik. Oleh karena itu, di tengah tantangan moral yang dihadapi Generasi Alfa, peran Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) perlu diperkuat kembali.
TPA diharapkan dapat menjadi tempat untuk membentuk akhlak, menanamkan nilai-nilai Islam, dan membiasakan anak berperilaku baik dalam kehidupan sehari-hari.
Penggunaan gawai dalam waktu yang lama membuat anak terbiasa menerima banyak rangsangan berupa gambar, suara, dan video yang bergerak cepat. Kebiasaan ini dapat memengaruhi dua kemampuan utama anak dalam berpikir, yaitu: Berkurangnya Rentang Perhatian, Anak yang terbiasa menggunakan gawai cenderung mudah berpindah perhatian dari satu hal ke hal lain.
Akibatnya, ketika mengikuti pembelajaran yang hanya berisi penjelasan guru, anak lebih mudah bosan, sulit berkonsentrasi, dan cepat merasa lelah saat berpikir. Lemahnya Kemampuan Mengendalikan Diri: Anak masih kesulitan mengendalikan keinginan dan perilakunya.
Akibatnya, saat pembelajaran berlangsung, anak sering berbicara sendiri, mengobrol dengan teman di sebelahnya, atau memainkan benda-benda di sekitarnya. Hal ini membuat anak sulit untuk tetap tenang dan memperhatikan penjelasan guru.
Menurut pandangan filsafat pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib al-Attas, krisis adab terjadi ketika seseorang tidak mampu memahami dan menempatkan sesuatu sesuai dengan kedudukannya. Dalam lingkungan kelas, adab mendengarkan berarti siswa harus menghormati guru dengan memperhatikan penjelasan yang disampaikan.
Ketika siswa justru mengobrol atau bermain saat guru sedang mengajar, hal tersebut menunjukkan kurangnya sikap hormat dan sopan santun. Kondisi ini dapat terjadi karena anak belum terbiasa menerapkan perilaku yang baik, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.
Realitas krisis adab dan tantangan kontrol perhatian Generasi Alfa terekam secara konkret pada visualisasi suasana pembelajaran TPA An-Nahl sebagaimana diperlihatkan dalam gambar terlampir. Ketika Ustadz berbicara di depan menggunakan pengeras suara, mayoritas anak di barisan tengah dan belakang tidak mengarahkan pandangan maupun perhatian mereka ke arah Ustadz.
Kontak mata yang merupakan simbol paling dasar dari adab mendengarkan tidak terwujud. Sejumlah anak tampak sibuk berinteraksi dengan teman di sampingnya, berbisik-bisik, memangku botol minuman, hingga menoleh ke arah luar ruangan. Kehadiran benda-benda fisik (seperti botol air) dan godaan interaksi dengan teman sebaya mengalihkan perhatian anak dari materi yang disampaikan di depan kelas.
Gambar di atas menunjukkan bahwa kehadiran ustaz di depan kelas belum mampu membuat anak berhenti mengobrol dan memperhatikan pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa rendahnya adab anak saat ini bukan hanya disebabkan oleh perilaku anak itu sendiri, tetapi juga karena kurangnya pembiasaan untuk mengendalikan diri dan menghormati guru, baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.
Di tengah maraknya fenomena krisis adab pada sekolah formal maupun lingkungan digital, Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) menawarkan ekosistem pemulihan yang sangat dibutuhkan anak Generasi Alfa. Ada beberapa alasan filosofis dan psikologis mengapa masyarakat harus kembali memprioritaskan TPA antara lain:
TPA memaksa anak melepaskan gawai dan hadir secara utuh di dalam masjid. Interaksi langsung tatap muka melatih kembali kepekaan empati, kesantunan bertutur kata, dan kebiasaan menyapa (ta'dib) yang terkikis oleh budaya digital.
Suasana TPA yang berada di masjid dapat membantu anak belajar tentang kesucian, ketenangan, dan kedisiplinan. Lingkungan yang tenang dapat membantu anak mengendalikan emosi dan mengurangi perilaku yang terlalu aktif. Selain itu, anak juga belajar bahwa ketika berada di masjid, mereka harus menjaga sikap, berbicara dengan sopan, dan menghormati tempat ibadah, berbeda dengan saat bermain di luar.
Berbeda dari sekolah formal yang sering kali terbebani oleh capaian akademis-kuantitatif, TPA menempatkan pembentukan akhlak sebagai inti dari kurikulumnya. Di TPA, anak tidak hanya diajarkan mengeja hijaiyah, tetapi juga dibiasakan berdoa, mendengarkan instruksi dengan tertib, serta menghormati ustadz/ustadzah.
Guna mengatasi masalah santri yang mengobrol dan kurang menyimak seperti pada gambar, para pengajar TPA juga perlu memperbarui pendekatan pedagogisnya. Penyampaian materi tidak cukup hanya melalui ceramah dari guru.
Pembelajaran perlu dilakukan dengan cara yang lebih menarik, seperti mengajak anak berinteraksi, bercerita, memberikan contoh secara langsung melalui metode musyafahah (belajar dengan berhadapan langsung antara guru dan murid), serta memberikan pujian atau penghargaan ketika anak menunjukkan perilaku yang baik. Cara ini dapat membantu anak Generasi Alfa tetap fokus, tertarik, dan bersemangat selama mengikuti pembelajaran.
Kesimpulan
Krisis adab pada Generasi Alfa yang ditunjukkan oleh rendahnya kemampuan fokus, kebiasaan mengobrol sendiri, dan memudarnya rasa hormat saat guru berbicara di depan kelas merupakan alarm keras bagi masa depan pendidikan bangsa.
Dalam sudut pandang psikologi pembelajaran, fenomena ini timbul akibat dampak disrupsi digital yang memperpendek rentang perhatian dan melemahkan kontrol impuls anak.
Kembali melirik Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA) adalah langkah strategis untuk memulihkan adab anak sejak usia dini. TPA menyediakan ekosistem sosio-spiritual yang nyata untuk merekayasa ulang perilaku anak seperti: meruntuhkan ketergantungan gawai, menanamkan nilai al-adab qabl al-'ilm, serta melatih kembali kesantunan bertindak dan mendengarkan.
Sebagaimana diperlihatkan pada gambar, tantangan menjaga ketertiban santri di TPA memerlukan kolaborasi erat antara kesabaran pendidik, pembaruan metode mengajar yang interaktif, serta dukungan penuh orang tua di rumah. Hanya dengan mengembalikan adab sebagai panglima pendidikan, kita dapat menyelamatkan Generasi Alfa dari kehampaan moral di era digital.
Oleh: Anti Lutviana, S.Pd
Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung (UIN JUSILA) , jurusan S2 Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment