Kampus
Mahasiswi
Opini
Kebakaran Bukan Sekadar Musibah; Tetapi Juga Cerminan Kelalaian Kita
Kebakaran Hutan dan Lahan
Foto ilustrasi: Dinas Kominfo Musi Banyuasin.
APERO FUBLIC I Jujur saja, di sini, setiap kali saya mendengar kabar kebakaran, seperti rumah, hutan, atau pasar, yang terkena dampak bencana kebakaran. Mendengar berita tersebut, saya merasa sangat sedih. Karena api hanya memakan waktu beberapa menit untuk menghancurkan apa saja yang sudah kita bangun selama bertahun-tahun.
Sedih sekali, setiap kejadian kebakaran yang sering terjadi saat musim kemarau, tidak hanya menghancurkan rumah dan hutan, tetapi juga menyebabkan banyak korban, merusak lingkungan alam Bumi, dan berbagai dampak buruk lainnya.
Jadi, menurut saya, kebakaran adalah bencana yang perlu kita waspadai karena bisa terjadi kapan saja. Oleh karena itu, kita perlu lebih waspada dan memiliki kesadaran yang lebih baik dalam menjaga keselamatan diri sendiri serta mengingatkan orang lain. Menurut saya, Ada tiga hal utama yang membuat rawan bencana kebakaran di Indonesia.
Kebakaran rumah: Gambar Ilustrasi: Google Share.
Pertama, Kita Sering Anggap Remeh
Mengapa saya bilang bahwa kita sering menganggap remeh kebakaran, seperti kebakaran di sebuah rumah. Menurut saya, banyak kebakaran rumah terjadi karena kesalahan kita sebagai masyarakat yang sering menganggap kebakaran itu hal yang biasa dan tidak terlalu serius.
Contohnya seperti lupa mematikan kompor, mengisi baterai handphone hingga semalaman, banyak colokan listrik dipasang di satu stopkontak atau papan colok, membakar sampah secara sembarangan, dan mungkin banyak orang menganggap hal itu biasa saja.
Pada hal-hal kecil seperti itu, mereka tidak menyadari bahwa contoh tersebut bisa sangat berbahaya. Mereka pikir semua itu aman, padahal sebenarnya tidak aman atau bisa dibilang itu bom waktu.
Menurut saya, kebakaran adalah salah satu bencana alam yang sering terjadi di sekitar masyarakat. Itulah yang saya maksud, bahwa kebakaran bisa terjadi karena berbagai hal, seperti contoh yang tadi saya sebutkan.
Kebakaran hutan: Gambar Ilustrasi: Google Share.
Kedua, Respons Kita Lambat
Keterlambatan dalam merespons bencana kebakaran sering kali menjadi penyebab utama mengapa kerugian yang terjadi bisa begitu parah. Faktor utama yang memperparah situasi adalah jarak tempuh dari pos pemadam kebakaran yang terlalu jauh dari lokasi kejadian, ditambah dengan kondisi jalan yang sempit dan padat kendaraan.
Kendala teknis ini semakin diperparah oleh sikap sebagian masyarakat yang tinggal di sekitar lokasi tersebut. Hanya menonton dan mencatat kejadian tanpa memberikan bantuan. Atau membuka jalan bagi petugas, serta ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) di setiap rumah. Menjadi sangat minim sehingga api membesar dan tidak terkendali. Dan membuat warga menjadi panik.
Kebakaran pemukiman: Gambar Ilustrasi: Google Share.
Ketiga, Untuk Hutan, dan Keserakahan
Kebakaran hutan dan lahan beda cerita lagi. Itu bukan musibah, tapi disengaja. Biasanya, kebakaran hutan itu punya masalah tersembunyi, yaitu keserakahan orang. Karhutlah bukan sekadar musibah atau bencana alam yang terjadi secara tidak sengaja, melainkan tindakan yang dilakukan secara sengaja untuk mencari keuntungan pribadi.
Cara yang digunakan adalah membuka lahan baru melalui pembakaran, karena dianggap lebih murah dan lebih cepat.
Tapi faktanya, para pelaku kebakaran sering tidak bertanggung jawab atas dampak yang mereka timbulkan, sementara masyarakatlah yang harus menerima kerugian lebih besar, mulai dari rusaknya lingkungan alam, gangguan pada kegiatan sehari-hari, hingga risiko mengalami penyakit ISPA karena terus-menerus menghirup udara yang beracun dan asap selama berbulan-bulan.
Intinya, api itu tidak salah. Yang salah itu cara kita mengatur dan mempersiapkannya.
Setuju, tidak, teman-teman?
Oleh: Suci Sumanti
Mahasiswi Fakultas Kesehatan, Jurusan Fisioterapi, Universitas Muhammadiyah Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment