Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Nadi Nusantara di Atas Panggung Sapta Vimsati (Lomba Tari Tingkat Nasional, Bagi SMA/SMK/MA atau Sederajat dan Sanggar Tari dalam rangka Diesnatalis Universitas Negeri Malang ke 72)
Kritik populer lomba tari tingkat nasional, Universitas Negeri Malang, 25 Oktober 2026
APERO FUBLIC I Gedung Pertunjukan OLS Universitas Negeri Malang menjadi panggung bagi sepuluh tim penari muda dalam Sapta Vimsati, lomba tari tingkat nasional untuk siswa SMA/SMK/MA dan sanggar berusia 17-19 tahun (25/10/2026).
Lomba ini digelar oleh Prodi Pendidikan SeniPertunjukan, Fakultas Sastra dalam rangka Dies Natalis Universitas Negeri Malang ke-72. Mengusung tema "Nadi Nusantara: Merawat Tradisi Merayakan Transformasi", setiap tim menyajikan tari kreasi tradisi berdurasi lima sampai tujuh menit dengan tiga sampai lima penari.
Penampilan dinilai tiga juri: Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si., Dr. Joko Prakoso, M.Sn., dan Patricia Dwi Septiani, S.Pd.Lewat lomba ini, diharapkan dapat menumbuhkan rasa apresiasi terhadap tari tradisional maupun kontemporer Indonesia, sekaligus memberi ruang serta wadah bagi pelajar untuk berkreasi dan berinovasi.
Panitia lomba berharap bakat dan kemampuan artistik peserta terasah, serta persahabatan antar penari dari berbagai latar belakang semakin erat dalam semangat Bhinneka Tunggal Ika.
Sepuluh karya yang tampil bersumber dari beragam tradisi di Indonesia. Ada yang bertemaritual tolak bala, sedekah bumi, permohonan hujan, ada pula isu masa kini seperti sampah dan urbanisasi.
Penampil Pertama; MAN 2 Lamongan tim 1 dibuka dengan karya tari Ritus Mahesa, yang berpijak pada upacara adat kebo-keboan masyarakat Osing. Karya ini menggambarkan keresahan warga akibat wabah, yang melahirkan ritual sebagai sarana berkomunikasi denganalam dan Tuhan agar hidup damai dan diberkahi.
Penampil Kedua; Nawangsari Art Production disusul dengan Niskala Seblang Olehsari, yang mengangkat ritual tolak bala Seblang di Desa Olehsari, Glagah, Banyuwangi. Dalam ritual aslinya, seorang gadis muda menari dalam kondisi trance selama tujuh hari berturut-turut, dimulai setiap 2 Syawal.
Penampil Ketiga: Sang Pamulang membawakan karya tari berjudul Gema Gimah, nyanyian sunyi tentang jemari tua Mbah Gimah yang menjaga tradisi keluarga dengan semangat pantang menyerah.
Penampil Ke-empat: MAN 2 Lamongan tim 2 tampil dengan karya tari Srokol, terinspirasi tradisi Gulat Okol di Desa Made, Sambikerep, Surabaya, bagian dari sedekah bumi atau bersih desa. Karya ini berbicara tentang kekuatan, ketangguhan, dan jiwa petarung yang menjaga martabat manusia.
Menariknya, MAN 2 Lamongan mengirim dua tim dengan garapan yangberbeda.Penampil Ke- Lima: SMAN 1 Babadan menghadirkan karya tari Gugah Ragah, satu-satunya karya yang mengangkat isu lingkungan. Berangkat dari tradisi Susuk Wangan di Desa Lembah, Babadan, Ponorogo, tim ini menyoroti penumpukan sampah. Gugah berarti membangunkan dan ragah berarti badan atau diri, sebagai ajakan bergotong royong membuang sampah pada tempatnya.
Penampil Ke-Enam: STTJ Mojokerto menyajikan sebuah karya tari berjudul Ngarojhan karya Sanggar Chandra Manganti Surabaya. Karya ini bercerita tentang kemarau panjang di Dukuh Pariopo, Asembagus, Situbondo, dan ritual Hodo untuk meminta hujan. Judulnya berasal dari "ngarepaghi ojhan", yang berarti mengharapkan hujan turun.
Penampil Ke- Tujuh: ST Sekar Arum membawakan Tari Sri Ngganyong bertema adat Banyuwangi, tentang anak desa yang merantau ke kota, tak mampu beradaptasi, dan akhirnya kehilangan kewarasannya.
Penampil Ke- Delapan: Padepokan Langen Kusuma tampil dengan karya tari berjudul Jagone Surabaya, yang menafsirkan ayam jago sebagai simbol kepahlawanan dan semangatbertahan hidup warga Surabaya. Keberanian di sini tidak hanya soal fisik, tetapi juga sikap kritis terhadap hal-hal yang terjadi hari ini.
Penampil Ke- Sembilan: Creative Art Center menampilkan karya tari Laloberen karya Febria Ika Russtiyana, S.Pd., yang diangkat dari ritual masyarakat Sumenep di akhir upacara adat seperti rokat dan jamas. Ritual ini menandai niat dan hajat yang telah tuntas, disertai rasa lega dan syukur. Ketupat mentah berisi beras dan koin ditarik hingga isinya berhamburan, lalu diperebutkan hadirin karena dipercaya bertuah.
Penampil Ke- Sepuluh: SMKN 1 Malang menutup rangkaian penampilan lomba dengan judul karya tari Wastra Mitra: Lilit Laku Gunung Bromo. Sarung (wastra) dipandang sebagai "mitra" masyarakat Tengger yang menghangatkan tubuh dari dingin gunung, menemani kerja di ladang,dan akhirnya menjadi simbol identitas yang bergerak mengikuti zaman.
Dari sepuluh penampilan, yang paling menarik perhatian saya adalah Karya Tari Jagone Surabaya dari Padepokan Langen Kusuma. Para penari tampil dengan nyaris sempurna dankarya tari ini mereka bawakan terasa hidup, dengan power kepenarian yang seimbang antar penari.
Dasar wiraga, wirama, wirasa mereka pun kuat. Saya merasa tidak hanya mimik wajah mereka yang berekspresi, namun tubuh mereka juga ikut mengeluarkan ekspresi untuk menyampaikan isi dari karya tari yang mereka bawakan.
Pilihan saya sejalan dengan keputusan juri. Jagone Surabaya dinobatkan sebagai Juara I, disusul Wastra Mitra dari SMKN 1 Malang sebagai Juara II dan Gema Gimah dari Sang Pamulang sebagai Juara III. Juara Harapan I diraih Srokol dari MAN 2 Lamongan tim 2, Harapan II Niskala Seblang Olehsari dari Nawangsari Art Production, dan Harapan III Gugah Ragah dari SMAN 1 Babadan.
Secara menyeluruh, semua tim peserta lomba sudah sangat luar biasa, tidak ada lagi peserta yang masih ada di ranah menghafal gerakan, semua tim penampil menunjukkan effort dan keseriusan yang sangat luar biasa.
Namun, beberapa tim masih perlu membenahi sedikit tentangbeberapa hal: dari kekompakan antar penari terutama dalam segi ekspresi dan penyampaian pesan, variasi pengulangan gerak agar tidak monoton, dan penataan pola lantai.
Serta saya harapkedepannya, penggunaan ornamen ornamen kostum bisa dipasang seerat mungkin, agarmengurangi resiko terjatuh atau terlepas saat dipanggung, karena hal ini dapat mengurangitingkat konsentrasi penari.
Satu hal lagi perlu ditegaskan kembali. Buku panduan lomba menyebut bahwa karya yang dibawakan boleh baru atau sudah ada, dengan syarat belum pernah menjuarai lomba tari tingkat regional maupun nasional.
Ketentuan ini penting dijaga bersama, oleh peserta dalam memilihkarya tari.Sapta Vimsati 2026 membuktikan bahwa lomba tari adalah wadah yang berharga bagi seniman muda untuk selalu berkarya, berproses, dan bertemu dengan sesama penari dari berbagai daerah.
Harapannya, semoga semakin banyak diadakan lomba seni seperti ini, supaya ruang bagi generasi muda untuk tumbuh di dunia seni terus terbuka.Harapan saya, semoga di tahun depan Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan UM kembali menggelar lomba dengan persiapan yang lebih matang dan penyelenggaraan yang lebih megah, serta harapannya dapat diikuti lebih banyak peserta.
Dengan begitu, Sapta Vimsati bisa menjadi agenda tahunan yang makin dinantikan oleh para seniman muda.
Oleh: Risna Bunga Mekar Arum
Mahasiswi Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan, Universitas Negeri Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment