Kampus
Mahasiswi
Opini
Gandrung Sewu Glow in the Dark 2026: Gemerlap Inovasi di Balik Kekurangan Artistik Pertunjukan
Catatan kritis atas pembaruan konsep visual dan keseimbangan unsur artistik dalam pertunjukan Gandrung Sewu 2026.
APERO FUBLIC I BANYUWANGI.— Festival Gandrung Sewu kembali menghadirkan pertunjukan yang berbeda pada tahun 2026. Diselenggarakan pada 24 Oktober 2026 di Pantai Boom Banyuwangi, festival tahun ini mengusung konsep Glow in the Dark yang memberikan suasana baru dalam penyajian tari tradisional khas Banyuwangi.
Penggunaan cat khusus yang dapat menyala ketika terkena sorotan lampu menjadi daya tarik utama. Inovasi tersebut menghadirkan pengalaman visual yang menarik sekaligus menunjukkan perkembangan kreativitas dalam penyelenggaraan kesenian tradisional. Namun, di balik kemegahan konsep tersebut, masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu menjadi perhatian.
Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2012, Gandrung Sewu telah menjadi salah satu pertunjukan kolosal yang membanggakan masyarakat Banyuwangi. Kekompakan gerakan, jumlah penari, kostum, dan identitas budaya lokal menjadi bagian dari daya tariknya.
Pada tahun ini, konsep Glow in the Dark memberikan pembaruan yang cukup menarik karena menghadirkan bentuk pertunjukan yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Ketika Inovasi Visual Menjadi Daya Tarik Utama
Salah satu kelebihan yang paling menonjol adalah kreativitas dalam penggunaan cat bercahaya pada ornamen kostum dan omprog atau hiasan kepala penari Gandrung. Ketika terkena sorotan lampu, ukiran dan hiasan tersebut tampak menyala sehingga menghasilkan tampilan yang unik dan memukau.
Perpaduan antara kostum tradisional dan efek cahaya memberikan kesan artistik yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa kesenian tradisional dapat dikembangkan melalui inovasi tanpa harus sepenuhnya meninggalkan ciri khas budayanya.
Pemilihan waktu pelaksanaan pada malam hari juga sesuai dengan konsep pertunjukan yang mengandalkan efek cahaya. Selain mendukung keindahan visual, pelaksanaan malam hari berpotensi mengurangi paparan panas matahari secara langsung terhadap penari.
Kondisi ini dapat membantu mengurangi risiko kelelahan akibat cuaca panas, terutama dalam pertunjukan kolosal yang membutuhkan tenaga dan konsentrasi besar. Dengan demikian, inovasi tahun ini tidak hanya memberikan pembaruan dari segi penampilan, tetapi juga berpotensi mendukung kenyamanan penari.
Tata Rias dan Ekspresi yang Kurang Menonjol
Meskipun memiliki keunggulan dari segi visual, keseluruhan unsur artistik pertunjukan belum sepenuhnya seimbang. Salah satu kekurangan yang terlihat berdasarkan pengamatan selama menyaksikan pertunjukan adalah tata rias wajah penari.
Riasan seperti eyeshadow, lipstik, dan blush on tampak kurang menonjol di bawah pencahayaan panggung. Akibatnya, ekspresi wajah penari, khususnya senyuman, kurang terlihat dengan jelas dari sudut pandang penonton.
Persoalan ini penting diperhatikan karena ekspresi wajah merupakan salah satu unsur pendukung dalam tari Gandrung. Senyuman, tatapan mata, dan gerak wajah berperan memperkuat karakter serta daya tarik penampilan penari.
Ketika ekspresi wajah kurang terlihat, penonton cenderung lebih memperhatikan kostum dan ornamen yang bercahaya dibandingkan ekspresi penarinya. Padahal, pertunjukan tari tidak hanya mengandalkan keindahan visual, tetapi juga membutuhkan penghayatan dan kemampuan penari dalam menyampaikan ekspresi.
Menyeimbangkan Efek Cahaya dan Unsur Tari
Kekurangan tersebut menunjukkan bahwa persiapan tata artistik perlu dilakukan secara lebih menyeluruh. Penggunaan konsep Glow in the Dark seharusnya tidak hanya berfokus pada kostum dan omprog yang dapat menyala, tetapi juga mempertimbangkan agar wajah penari tetap terlihat jelas.
Tata rias perlu disesuaikan dengan karakter pencahayaan dan jarak pandang penonton. Uji coba riasan sebelum pertunjukan dengan kondisi pencahayaan yang serupa dapat menjadi salah satu langkah untuk mengatasi persoalan tersebut.
Keseimbangan antara efek visual dan unsur utama tari juga perlu menjadi perhatian. Inovasi memang dapat memberikan daya tarik baru, tetapi kemegahan kostum dan pencahayaan sebaiknya tidak lebih mendominasi daripada gerak, ekspresi, dan penghayatan penari.
Dalam pertunjukan Gandrung, setiap unsur memiliki peran masing-masing. Kostum memperkuat identitas visual, gerakan menjadi bagian utama penyajian tari, sedangkan ekspresi membantu menyampaikan karakter dan suasana kepada penonton.
Evaluasi sebagai Bagian dari Pengembangan Pertunjukan
Kritik terhadap kekurangan tersebut bukan berarti mengabaikan keberhasilan penyelenggaraan Gandrung Sewu 2026. Sebaliknya, inovasi yang dihadirkan patut diapresiasi karena memberikan warna baru bagi perkembangan kesenian Banyuwangi.
Namun, keberhasilan sebuah pertunjukan sebaiknya tidak hanya diukur dari kemegahan konsep dan keunikan tampilan. Kualitas tata rias, pencahayaan, gerak, serta ekspresi penari juga perlu diperhatikan agar seluruh unsur pertunjukan dapat saling mendukung.
Merawat Inovasi tanpa Kehilangan Keindahan Tari
Gandrung Sewu Glow in the Dark 2026 menunjukkan bahwa kesenian tradisional mampu mengikuti perkembangan zaman melalui kreativitas dan inovasi. Akan tetapi, pembaruan tersebut tetap membutuhkan evaluasi agar tidak hanya menghasilkan pertunjukan yang menarik secara visual, tetapi juga kuat dari segi artistik.
Kedepannya, penyelenggaraan Gandrung Sewu diharapkan dapat mempertahankan keunikan konsep yang telah dihadirkan sekaligus memperbaiki aspek tata rias dan penonjolan ekspresi penari.
Pada akhirnya, pertunjukan yang baik bukan hanya pertunjukan yang mampu membuat penonton terpukau oleh cahaya dan kemegahan kostum, tetapi juga mampu menghadirkan keindahan gerak serta ekspresi yang dapat dirasakan oleh penontonnya. Gandrung Sewu perlu terus berinovasi, tetapi jangan sampai gemerlap pertunjukan membuat unsur penting dalam seni tari justru kurang terlihat.
Oleh: Aulia Helen Setiawan Putri
Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan
Fakultas Sastra, Universitan Negeri Malang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment