Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Suaramu Berharga, Suaraku Juga: Mahasiswa BK UNY Ajarkan Siswa SMP Negeri 3 Godean Menghargai Perbedaan Pendapat
APERO FUBLIC I SLEMAN.– Pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) di SMP Negeri 3 Godean melibatkan 12 mahasiswa dari berbagai program studi untuk berpartisipasi dalam kegiatan di sekolah. Salah satu kegiatan tersebut dilaksanakan oleh mahasiswa Bimbingan dan Konseling melalui mata pelajaran Bimbingan dan Konseling di kelas VIII, khususnya kelas VIII A.
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling memberikan layanan bimbingan klasikal bertema “Suaramu Berharga, Suaraku Juga” menggunakan teknik think, pair, and share untuk membantu peserta didik agar lebih aktif dan mudah memahami materi yang disampaikan.
Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk memenuhi kebutuhan peserta didik mengenai menghargai perbedaan pendapat dan juga sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) 16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan Tangguh.
Di usia remaja, peserta didik mulai aktif membuat dan menyampaikan pandangan sendiri. Tanpa bekal yang tepat, perbedaan pendapat dengan teman bisa berujung pada pertengkaran, saling mengejek, hingga perundungan. Karena itu, peserta didik perlu belajar bahwa setiap orang boleh memiliki pandangan yang berbeda, dan perbedaan itu dapat disikapi dengan santun.
Kegiatan layanan diterapkan melalui tiga tahap. Pada tahap think, peserta didik diminta untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai pengalaman pribadi ketika mengalami perbedaan pendapat secara mandiri.
Pada tahap pair, peserta didik diarahkan untuk berdiskusi secara berpasangan dengan teman sebangkunya mengenai jawaban mereka pada tahap Think. Pada tahap ini, peserta didik sekaligus berlatih menyikapi perbedaan pendapat yang mungkin muncul, dengan mendengarkan tanpa memotong pembicaraan, menyampaikan pendapat tanpa menyakiti, dan mencari titik temu.
Pada tahap share, perwakilan pasangan diarahkan untuk menyampaikan hasil diskusinya di depan kelas dengan mahasiswa Bimbingan dan Konseling sebagai fasilitator dengan memberikan arahan dan pendampingan selama kegiatan berlangsung.
Dengan teknik ini, peserta didik tidak hanya menerima materi, tetapi langsung mempraktikkan cara menghargai perbedaan pendapat bersama pasangan diskusinya. Seperti pada tahap Pair, terdapat beberapa pasangan diskusi yang berbeda pendapat dan membuat suasana diskusi menjadi lebih menarik.
Namun, pada akhirnya pasangan diskusi tersebut mampu saling menghargai pendapat satu sama lain dan menyusun satu jawaban bersama untuk disampaikan kepada teman sekelas pada tahap Share.
Kebiasaan menghargai perbedaan pendapat sejak dini dapat menjadi latihan kecil menuju pengambilan keputusan yang inklusif dan partisipatif. Sikap saling menghargai juga berperan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang damai dan bebas dari pertengkaran, kekerasan, dan perundungan.
Melalui layanan ini, mahasiswa berharap siswa dapat membawa sikap saling menghargai ke kelas, pertemanan, dan rumah. Sebab, suaramu berharga, dan suara temanmu pun sama berharganya.
Penulis: Alia Arraqina Nugroho
Mahasiswi Bimbingan dan Konseling, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment