Feature
Kampus
KKN
Mahasiswa
Pendidikan
Kunjungi Kandang Bebek Pak Senari: KKN MIT 167 UIN Walisongo Intip Perjalanan Telur Bebek dari Kandang Hingga Pemasok
APERO FUBLIC I KENDAL.- Aktivitas peternakan bebek menjadi perhatian mahasiswa KKN MIT Posko 167 UIN Walisongo Semarang saat mengunjungi usaha telur bebek milik Pak Senari pada Jumat (7/8/2026). Bertempat di kandang bebek Pak Senari di Dsn. Wonotenggang Selatan, RT 01/ RW 02, Ds. Wonotenggang, Kec. Rowosari, Kab. Kendal, para mahasiswa melihat secara langsung proses pemeliharaan bebek sekaligus menggali cerita mengenai produksi dan pemasaran telur bebek yang selama ini dijalankan.
Kunjungan yang dimulai sekitar pukul 14.00 WIB tersebut berlangsung dalam suasana santai. Peserta KKN berkomunikasi langsung dengan Pak Senari untuk mengetahui lebih jauh bagaimana usaha peternakan tersebut dikelola dari hari ke hari.
“Kalau langsung bertelur itu sudah ada yang pesan,” ujar Pak Senari ketika menjelaskan pemasaran telur hasil ternaknya.
Menurutnya, telur bebek biasanya diambil oleh pemasok setiap dua hari. Kondisi tersebut membuat telur yang dihasilkan hampir tidak pernah menumpuk di rumah. “Dua hari sekali diambilnya,” katanya.
Saat ditanya mengenai harga telur, Pak Senari menyebut harga telur bebek berada di kisaran Rp2.000 per butir. “Telurnya dua ribu per biji,” jelasnya.
Pak Senari juga menceritakan bahwa bebek yang dipeliharanya merupakan jenis bebek Jawa. Bebek mulai bertelur ketika berusia sekitar enam bulan. Dari sekitar 150 ekor bebek, produksi telur dapat mencapai 70-80 butir dan meningkat sesuai kondisi ternak. Bahkan, dalam kondisi tertentu, produksi dapat mencapai sekitar 90 butir per hari.
Dalam pemeliharaan, pakan menjadi salah satu faktor penting yang diperhatikan. Pak Senari menggunakan aking, pakan jadi, dan katul untuk memenuhi kebutuhan ternaknya. Ia mengatakan perubahan pakan tidak boleh dilakukan sembarangan karena dapat memengaruhi produksi telur.
“Kalau pakannya bebek kan tidak boleh digonta-ganti, harus itu-itu terus,” katanya.
Bebek biasanya dikeluarkan dari kandang sekitar pukul 07.00 WIB dan kembali pada sore hari sekitar pukul 17.00 WIB. Menurut Pak Senari, kondisi lingkungan dan kebersihan juga perlu diperhatikan agar bebek tidak mudah terserang penyakit.
Selain berdiskusi, peserta KKN MIT Posko 167 juga melihat langsung kondisi kandang dan telur yang dihasilkan. Dari kunjungan tersebut, mahasiswa memperoleh gambaran mengenai tantangan sekaligus potensi usaha peternakan telur bebek di tingkat lokal.
Sebagai bentuk dukungan terhadap pengembangan usaha, KKN MIT Posko 167 menawarkan pembuatan banner dan video promosi bagi usaha Pak Senari. Media tersebut diharapkan dapat menjadi strategi baru untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat secara lebih luas.
Melalui kegiatan ini, KKN MIT Posko 167 UIN Walisongo Semarang berharap usaha telur bebek Pak Senari dapat memperoleh manfaat dari strategi promosi yang lebih menarik, meningkatkan penjualan, serta mampu bersaing dengan usaha sejenis. Kegiatan tersebut juga menjadi upaya mahasiswa untuk ikut mendukung potensi usaha masyarakat melalui pendekatan yang sederhana dan sesuai kebutuhan pelaku UMKM.
Oleh: Tim KKN Posko 167
Mahasiswa KKN MIT, UIN Walisongo Semarang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment