Feature
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Dari Ragu Menjawab hingga Berani Menawarkan Karya: PEDAL JUARA Perluas Ruang Belajar Siswa SMP Adisa
Sumber: pribadi/pedaljuara
APERO FUBLIC I BEKASI.— Suasana di sekitar stan Bazaar Karya Juara perlahan berubah ketika siswa SMP Adisa mulai berinteraksi dengan para pengunjung. Tidak lagi sekadar menunggu, mereka mulai menyapa, menawarkan hasil karya, hingga menjawab pertanyaan tentang produk yang dibuat selama mengikuti program PEDAL JUARA (17/08/2026).
Salah satu pengunjung yang merasakan perubahan tersebut adalah Nazwa, anggota Komunitas Literasi Remaja Tambun Selatan. Saat berbincang dengan peserta, ia melihat keberanian anak-anak untuk merespons pertanyaan dan menjelaskan apa yang mereka kerjakan.
“Anak-anaknya pada berani untuk menjawab. Saat aku beli aku juga tanya-tanyakan, pokoknya responsif dan keren banget sih,” ujar Nazwa.
Bagi peserta, bazaar menjadi lebih dari sekadar kegiatan menjual produk. Mereka mendapat kesempatan untuk berhadapan langsung dengan orang-orang di luar lingkungan sekolah, memperkenalkan karya yang dibuat sendiri, serta belajar menyampaikan informasi kepada orang lain.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari PEDAL JUARA, program Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) yang diinisiasi mahasiswa IPB University di SMP Adisa, Bantargebang.
Program ini menggabungkan pembelajaran berbasis pengalaman dengan penguatan karakter dan pengenalan kewirausahaan lingkungan untuk mendorong peserta mengenali kemampuan diri sekaligus memandang pendidikan sebagai bagian dari masa depan mereka.
Dalam proses pembuatan produk hingga pelaksanaan bazaar, peserta tidak hanya belajar menghasilkan barang yang dapat dijual. Mereka juga berlatih menghadapi situasi yang tidak sepenuhnya bisa diprediksi, mulai dari mencari cara memperkenalkan produk hingga merespons pertanyaan dari pembeli.
Interaksi dengan Komunitas Literasi Remaja Tambun Selatan turut memperluas pengalaman tersebut. Percakapan yang terjadi membuat peserta memiliki ruang untuk mempraktikkan kemampuan berkomunikasi secara langsung, sementara anggota komunitas dapat melihat bagaimana anak-anak berusaha menyampaikan hasil karya mereka.
Perlahan, peserta yang sebelumnya cenderung menunggu mulai mengambil inisiatif. Mereka menyapa pengunjung, menawarkan produk, dan menjelaskan proses pembuatan ketika ditanya. Pengalaman tersebut membuat kegiatan jual-beli berubah menjadi ruang belajar yang mempertemukan peserta dengan masyarakat.
Nia, salah satu peserta PEDAL JUARA, merasakan perubahan setelah mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengaku pengalaman berjualan membuatnya tertarik untuk kembali mencoba membuat sekaligus memasarkan produk. “Setelah berjualan aku jadi lebih tertarik untuk membuat produk dan memasarkannya juga,” ujar Nia.
Seluruh produk peserta yang dibawa dalam Bazaar Karya Juara berhasil terjual. Meski demikian, capaian tersebut bukan satu-satunya hal yang ingin dibangun melalui kegiatan tersebut.
Bagi peserta, proses memperkenalkan karya dan berkomunikasi dengan pembeli menjadi pengalaman untuk belajar berbicara, mendengarkan, menjawab pertanyaan, sekaligus menerima apresiasi atas hasil usaha mereka.
Perkembangan itu juga terlihat oleh pihak sekolah. Kepala Sekolah Adisa, Zaenal, menilai peserta menunjukkan perubahan dalam keberanian mereka setelah mengikuti rangkaian PEDAL JUARA.
“Setelah mengikuti program sampai bazaar ini, anak-anak terlihat lebih ingin buat pergi ke sekolah ya, Kak. Apalagi anak-anak juga semakin percaya diri untuk menjawab,” ujar Zaenal.
Kehadiran komunitas dalam kegiatan tersebut turut menunjukkan bahwa proses belajar tidak selalu harus berlangsung di dalam kelas. Bagi anak-anak di Bantargebang, bertemu dengan orang baru, menjelaskan sebuah karya, dan mendengarkan tanggapan orang lain menjadi pengalaman yang dapat memperluas cara mereka melihat kemampuan diri.
Dalam konteks tersebut, literasi tidak berhenti pada kemampuan membaca dan menulis. Literasi juga hadir ketika peserta belajar memahami apa yang mereka kerjakan, menyampaikan gagasan, merespons orang lain, dan menggunakan kemampuan tersebut dalam situasi nyata.
Bazaar Karya Juara akhirnya menjadi salah satu ruang kecil bagi peserta untuk menemukan keberanian yang sebelumnya belum selalu terlihat. Dari sekadar menunggu pengunjung, mereka mulai berani membuka percakapan dan memperkenalkan sesuatu yang lahir dari tangan mereka sendiri.
Di tengah lingkungan Bantargebang, pengalaman sederhana tersebut menunjukkan bahwa ketika anak diberi ruang untuk mencoba dan berinteraksi, kesempatan untuk berkembang dapat muncul dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan mereka.
Oleh: Muhammad Wafi Robbani
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komputer, Sekolah Sains Data Matematika dan Informatika, Institut Pertanian Bogor.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment