Kampus
Mahasiswi
Opini
Pendidikan
LKP Karya Prima dan Upaya Membangun Masyarakat Melek Digital
APERO FUBLIC I Di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, memiliki telepon pintar dan mampu mengakses internet belum tentu berarti seseorang telah memiliki literasi digital yang baik. Persoalannya bukan lagi sekadar apakah masyarakat dapat menggunakan teknologi, tetapi apakah teknologi tersebut mampu digunakan untuk belajar, bekerja, mencari informasi, dan menyelesaikan berbagai kebutuhan secara tepat.
Disinilah pendidikan nonformal memiliki ruang yang penting. Tidak semua keterampilan digital dapat diperoleh melalui pendidikan formal. Sebagian masyarakat membutuhkan tempat belajar yang lebih praktis, fleksibel, dan sesuai dengan kebutuhan mereka. Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) dapat menjadi salah satu ruang yang menjembatani kebutuhan tersebut.
LKP Karya Prima merupakan salah satu lembaga pendidikan nonformal yang memberikan pelatihan keterampilan kepada masyarakat. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan, kegiatan pembelajaran di LKP Karya Prima mencakup keterampilan komputer dan Bahasa Inggris.
Pembelajaran komputer diarahkan pada kemampuan yang dapat digunakan untuk mendukung kebutuhan pendidikan maupun pekerjaan, sedangkan pembelajaran Bahasa Inggris mencakup kemampuan memahami kosakata, membaca, menulis, dan berkomunikasi.
Menurut saya, hal tersebut menunjukkan bahwa LKP tidak semestinya dipandang hanya sebagai tempat kursus. Lebih dari itu, LKP dapat menjadi ruang pemberdayaan masyarakat melalui keterampilan yang dekat dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari. Dalam pelatihan komputer, misalnya, peserta tidak hanya diperkenalkan dengan perangkat komputer.
Mereka juga belajar menggunakan Microsoft Word untuk membuat dan mengatur dokumen, Microsoft Excel untuk mengolah data dan membuat tabel, serta Microsoft PowerPoint untuk menyusun bahan presentasi. Selain itu, terdapat latihan mengetik sepuluh jari, penggunaan internet, hingga praktik mencetak dokumen dan latihan mandiri dengan bimbingan tutor.
Keterampilan tersebut mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang yang sudah terbiasa menggunakan komputer. Namun, bagi masyarakat yang belum memiliki pengalaman yang cukup dalam menggunakan teknologi, kemampuan tersebut merupakan bagian penting dari proses membangun kemandirian.
Literasi digital memang seharusnya dimulai dari kemampuan-kemampuan dasar. Seseorang perlu memahami cara menggunakan perangkat sebelum mampu memanfaatkannya secara lebih luas.
Dari kemampuan mengetik, membuat dokumen, mengolah data, dan mencari informasi, seseorang dapat perlahan membangun kepercayaan diri untuk menggunakan teknologi dalam berbagai kebutuhan.Yang menarik, penerapan literasi di LKP Karya Prima tidak hanya berkaitan dengan komputer.
Hasil observasi menunjukkan adanya keterkaitan antara literasi digital dengan pembelajaran Bahasa Inggris. Peserta menggunakan komputer dan internet untuk mencari arti kata, membaca materi, menonton video pembelajaran, mendengarkan audio, serta mengerjakan latihan secara digital. Hal ini memperlihatkan bahwa literasi tidak berdiri sendiri.
Literasi digital dapat menjadi alat untuk mengembangkan kemampuan literasi lainnya. Teknologi bukan tujuan akhir, melainkan sarana untuk memperoleh dan mengembangkan pengetahuan.Namun, tantangan yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai literasi digital hanya dimaknai sebagai kemampuan mengoperasikan perangkat.
Masyarakat juga perlu diarahkan agar mampu menggunakan teknologi secara tepat, mandiri, efektif, dan bertanggung jawab. Dalam laporan observasi, kegiatan literasi digital di LKP Karya Prima diarahkan agar peserta mampu mengoperasikan komputer, mencari informasi, dan mengolah informasi digital.
Menurut saya, aspek tersebut justru menjadi bagian yang sangat penting. Kemampuan menggunakan teknologi harus diikuti dengan kemampuan memahami informasi. Internet menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar, tetapi tidak semua informasi yang tersedia dapat langsung dipercaya.
Karena itu, masyarakat membutuhkan kemampuan untuk menggunakan teknologi sekaligus mengembangkan sikap kritis dalam memanfaatkannya.Keberadaan LKP juga menunjukkan bahwa membangun masyarakat melek digital tidak dapat dilakukan hanya dengan menyediakan perangkat teknologi.
Masyarakat membutuhkan pendampingan, latihan, dan kesempatan untuk mempraktikkan pengetahuan yang diperoleh. Dalam proses pembelajaran di LKP Karya Prima, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga melakukan praktik dan latihan mandiri dengan bimbingan tutor. Pendekatan praktik seperti ini penting karena keterampilan tidak cukup hanya dipahami secara teori.
Seseorang dapat mengetahui fungsi Microsoft Excel, misalnya, tetapi kemampuan tersebut akan lebih bermakna ketika ia mampu menggunakannya untuk mengolah data yang benar-benar dibutuhkan.Di sisi lain, masyarakat juga perlu menyadari bahwa belajar teknologi bukan proses yang selesai dalam satu kali pelatihan.
Perkembangan teknologi berlangsung terusmenerus. Keterampilan yang dibutuhkan saat ini dapat berkembang dan berubah pada masa mendatang. Karena itu, pendidikan nonformal perlu mendorong masyarakat bukan hanya untuk menguasai keterampilan tertentu, tetapi juga membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
LKP Karya Prima memberikan gambaran bahwa upaya membangun literasi digital dapat dilakukan dari lingkungan pendidikan nonformal. Komunitas dan lembaga pendidikan juga dapat berperan dalam meningkatkan minat belajar, menyebarkan pengetahuan, membantu mengembangkan keterampilan, serta membuka akses masyarakat terhadap pendidikan nonformal.
Pada akhirnya, ukuran masyarakat yang melek digital bukanlah seberapa banyak perangkat yang dimiliki, melainkan seberapa bijak dan produktif perangkat tersebut digunakan. Teknologi seharusnya membantu masyarakat menjadi lebih mandiri, bukan justru semakin bergantung.
Karena itu, keberadaan LKP seperti Karya Prima patut dilihat sebagai bagian dari upaya membangun masyarakat yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Dari sebuah ruang kursus, masyarakat dapat belajar keterampilan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki manfaat nyata dalam pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.
Membangun masyarakat melek digital tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Bisa dimulai dari satu komputer, satu ruang belajar, seorang tutor, dan kemauan seseorang untuk belajar. Dari proses sederhana itulah keterampilan tumbuh, kemandirian terbentuk, dan masyarakat perlahan menjadi lebih siap menghadapi dunia yang semakin digital.
Oleh: Sucthy Permata Sary
Mahasiswi Universitas Negeri Medan.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment