Kampus
Mahasiswi
Medan
Opini
Pendidikan
Organisasi Mahasiswa: Banyak Kegiatan, Lalu Apa Yang Dipelajari ?
APERO FUBLIC I Sebuah organisasi mahasiswa bisa saja memiliki banyak kegiatan dalam satu periode. Ada rapat, perlombaan, penggalangan dana, kegiatan sosial, pentas budaya, hingga kegiatan perayaan. Foto-foto kegiatan kemudian memenuhi media sosial. Namun, setelah semuanya selesai, ada satu pertanyaan yang sering terlupakan: apa yang sebenarnya dipelajari mahasiswa dari semua kegiatan tersebut?
Pertanyaan itu penting karena organisasi mahasiswa seharusnya tidak berhenti sebagai tempat berkumpul. Kampus memang memberikan ruang untuk memperoleh pengetahuan melalui perkuliahan, tetapi mahasiswa juga membutuhkan ruang untuk mempraktikkan pengetahuan tersebut. Organisasi dapat menjadi salah satu ruang itu.
Di dalam organisasi, mahasiswa berhadapan dengan situasi yang berbeda dari ruang kelas. Mereka harus bekerja sama dengan orang lain, membagi tugas, menyampaikan pendapat, mengatur kegiatan, mengelola dana, menghadapi perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap keputusan yang dibuat. Semua itu merupakan pengalaman belajar.
Salah satu contoh dapat dilihat dari Keluarga Mahasiswa Nias (KAMNI) Universitas Negeri Medan (UNIMED). KAMNI merupakan wadah bagi mahasiswa Nias atau mahasiswa keturunan Nias. Selain menjadi tempat mempererat hubungan antar mahasiswa, berbagai kegiatan KAMNI juga dapat dilihat sebagai ruang pembelajaran.
Misalnya, penggunaan media sosial organisasi. Bagi sebagian orang, mengunggah poster, foto, atau video kegiatan mungkin hanya dianggap sebagai kegiatan publikasi. Padahal, jika dilakukan dengan serius, aktivitas tersebut merupakan latihan literasi digital.
Mahasiswa belajar bagaimana menyampaikan informasi kepada publik, memilih materi yang layak dibagikan, membuat pesan yang mudah dipahami, dan menggunakan media secara bertanggung jawab. Karena itu, media sosial organisasi seharusnya tidak hanya menjadi tempat menunjukkan bahwa sebuah acara telah berlangsung. Media tersebut juga dapat digunakan untuk memberikan informasi dan memperkenalkan nilai yang dibawa organisasi.
Hal serupa terjadi dalam kegiatan penggalangan dana. Penjualan donat, keripik, dan baju kaos KAMNI, misalnya, bukan hanya persoalan mencari dana untuk kegiatan. Ada proses belajar di dalamnya. Mahasiswa perlu memikirkan modal, harga jual, pemasukan, pengeluaran, target penjualan, dan penggunaan hasilnya.
Di sinilah organisasi dapat memberikan pengalaman literasi finansial yang konkret. Mahasiswa tidak hanya belajar tentang pengelolaan uang melalui teori, tetapi juga memahami bahwa sebuah kegiatan membutuhkan perencanaan dan pertanggungjawaban.
Organisasi juga dapat menjadi ruang untuk mengenalkan kebudayaan. Kegiatan tari kreasi kebudayaan Nias dan pentas seni budaya Nias menunjukkan bahwa mahasiswa dapat mengambil bagian dalam menjaga budaya daerah.
Bagi mahasiswa yang berasal dari daerah seperti Nias, budaya bukan hanya identitas yang dibawa dari rumah. Budaya juga dapat menjadi sesuatu yang diperkenalkan kepada orang lain. Kampus menjadi salah satu tempat yang memungkinkan proses tersebut berlangsung. Apalagi saat ini budaya dapat diperkenalkan melalui pertunjukan langsung maupun media digital.
Di sisi lain, kegiatan seperti Lomba Cerdas Cermat dan Olimpiade dalam Event KAMNI di Nias memperlihatkan bahwa organisasi juga dapat memberi ruang bagi kegiatan yang berkaitan dengan pengetahuan. Artinya, organisasi mahasiswa tidak harus memilih antara kegiatan sosial, budaya, dan pendidikan. Ketiganya dapat berjalan bersama.
Dari sini terlihat bahwa sebuah kegiatan sebenarnya dapat memiliki lebih dari satu fungsi. Media sosial dapat menjadi sarana komunikasi sekaligus pembelajaran digital. Penggalangan dana dapat menjadi kegiatan organisasi sekaligus latihan mengelola keuangan. Pentas budaya dapat menjadi hiburan sekaligus cara mengenalkan identitas. Perlombaan akademik dapat menjadi kegiatan sekaligus ruang untuk mengembangkan pengetahuan.
Persoalannya adalah apakah organisasi menyadari proses belajar tersebut atau tidak.
Jika organisasi hanya mengejar terlaksananya acara, maka keberhasilan mudah diukur dari jumlah kegiatan, jumlah peserta, atau banyaknya dokumentasi. Tetapi jika organisasi melihat dirinya sebagai ruang belajar, ukuran keberhasilannya menjadi lebih luas.
Mahasiswa yang sebelumnya tidak berani berbicara mungkin menjadi lebih percaya diri setelah sering mengikuti rapat. Mahasiswa yang belum pernah mengelola uang kegiatan mungkin menjadi lebih teliti setelah dipercaya memegang keuangan. Mahasiswa yang awalnya tidak memahami cara mengelola media sosial mungkin memperoleh pengalaman baru setelah bertugas di bidang publikasi.
Hal-hal seperti itu sering tidak tercatat dalam laporan kegiatan. Padahal, justru pengalaman tersebut yang dapat dibawa mahasiswa setelah masa kuliahnya selesai.
Karena itu, menurut saya, organisasi mahasiswa perlu mulai mengajukan pertanyaan yang lebih sederhana tetapi penting setelah setiap kegiatan: “Apa yang dibawa pulang oleh anggota dari kegiatan ini?”
Bukan hanya barang, sertifikat, foto, atau kenangan, tetapi pengetahuan, pengalaman, keterampilan, dan nilai.
Pertanyaan tersebut juga dapat mendorong organisasi untuk mengevaluasi kegiatannya. Jika sebuah kegiatan tidak memberikan pengalaman berarti kepada anggota, organisasi dapat memikirkan kembali cara pelaksanaannya. Jika sebuah kegiatan berhasil memberikan keterampilan baru, pengalaman tersebut dapat dikembangkan pada kegiatan berikutnya.
Dengan cara pandang seperti ini, anggapan bahwa organisasi hanya membuang waktu mahasiswa juga dapat dilihat secara lebih kritis. Organisasi memang dapat menghabiskan waktu jika kegiatannya tidak terarah. Namun, organisasi juga dapat menjadi ruang pendidikan ketika setiap kegiatan memiliki tujuan dan memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar.
KAMNI UNIMED menjadi salah satu contoh bahwa kegiatan organisasi dapat bersentuhan dengan berbagai bentuk literasi sekaligus. Ada literasi digital melalui media sosial, literasi finansial melalui penggalangan dana, literasi budaya melalui kegiatan kesenian Nias, serta pengembangan pengetahuan melalui kegiatan akademik.
Pada akhirnya, persoalan organisasi mahasiswa bukan tentang seberapa ramai sebuah kegiatan, melainkan tentang apa yang terjadi pada mahasiswa setelah kegiatan itu selesai.
Sebab, sebuah acara bisa selesai dalam satu hari. Dokumentasi bisa hilang di antara unggahan lainnya. Namun, pengalaman yang membuat seorang mahasiswa lebih mampu berbicara, bekerja sama, mengelola tanggung jawab, menghargai budaya, dan menggunakan pengetahuan dapat dibawa jauh lebih lama.
Organisasi mahasiswa seharusnya tidak hanya menghasilkan kegiatan yang selesai dilaksanakan. Organisasi juga perlu menghasilkan mahasiswa yang bertumbuh setelah kegiatan tersebut selesai.
IDENTITAS PENULIS
Nama: Siska Sitanggang
Status: Mahasiswa Universitas Negeri Medan
Tempat menulis: Medan
Tanggal dan waktu penulisan: 20 September 2026, 22.01
Alamat: Medan
Email: sitanggangsiska576@gmail.com
No. HP/WhatsApp: 081260141364
Via
Kampus

Post a Comment