Kampus
Mahasiswi
Media Sosial
Opini
Pendidikan
Teknologi
Wajah dan Suara di Balik Media Sosial: Ketika Deepfake AI Mengaburkan Batas Realitas
“Kalau suatu hari kamu menerima panggilan telfon dari kelaurgamu di kampung yang meminta untuk mengirimkan uang, apakah kamu akan langsung percaya?”.
APERO FUBLIC I OPINI.- Mungkin beberapa tahun lalu pertanyaan itu hanyalah terdengar seperti adegan dalam film fiksi ilmiah. Namun, siapa sangka saat ini pertanyaan itu justru menjadi suatu kewaspadaan yang harus dihadapi. Teknologi deepfake AI membuat wajah dan suara seseorang dapat ditiru dengan tingkat kemiripan yang sangat tinggi, bahkan sangat sulit dibedakan oleh orang awam.
Siapa sangka, media sosial yang dianggap menjadi tempat berbagi cerita dan informasi kini menjadi ancaman baru yang harus dihadapi. Tidak lagi informasi palsu yang beredar, tetapi juga banyak foto, video, dan rekaman suara yang dihasilkan AI untuk membuat banyak orang terkecoh.
Dahulu, masyarakat terbiasa mempercayai apa yang mereka lihat dan dengar. Sebuah video akan dianggap sebagai bukti nyata, dan suara orang akan dianggap sebagai identitas yang sulit untuk dipalsukan. Namun, dengan kehadiran deepfake AI mulai mengubah pola pikir manusia untuk memandang realitas.
Dengan adanya bantuan dari kecerdasan buatan, seseorang bisa dengan mudah untuk membuat video yang memperlihatkan orang lain yang sedang bicara sesuai dengan suara dari orang tersebut. Kemampuan teknologi yang semakin canggih ini memanglah membawa banyak manfaat kepada masyarakat. Akan tetapi, di tangan orang yang salah, deepfake AI justru dapat menjadi alat untuk menyebarkan informasi palsu dan merusak citra dari orang lain yang ditiru.
Belakangan ini, banyak beredar di sosial media mengenai konten yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan. Mulai dari foto, video, hingga rekaman suara yang tampak sangat meyakinkan. Tidak sedikit pengguna internet tertipu dan sulit membedakan mana yang asli dan palsu, terutama orang tua yang baru mengikuti arus perkembangan teknologi.
Bahkan di beberapa platform, teknologi ini dimanfaatkan sebagai bahan untuk membuat meme dengan menampilkan wajah publik figure. Seperti stiker meme wajah Bahlil yang sering digunakan oleh beberapa pengguna sebagai bahan candaan dalam interaksi media sosial yang dilakukan. Selain bisa menjadi hiburan, teknologi deepfake AI ini juga bisa berpotensi digunakan untuk penipuan, pencemaran nama baik, pemerasan, hingga penyebaran disinformasi dalam skala besar.
Ilustrasi Dihasilkan Oleh Chatgpt
Sebagaimana kasus yang pernah terjadi pada tahun 2025, banyak beredar video beberapa kepala pemeritahan yang diedit untuk disebarkan di beberapa platform khususnya Facebook dengan target orang tua. Video tersebut berisikan tentang promosi judol, promosi produk penipuan, bahkan hingga hoaks mengenai bantuan pemerintah.
Perkembangan teknologi yang super cepat membuat hukum harus mampu beradaptasi. Di Indonesia sendiri, penyalahgunaan informasi elektronik telat diatur melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) beserta perubahannya. Selain itu, Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi (UU PDP) juga ikut andil dalam memberikan perlindungan terhadap identitas dan data pribadi Masyarakat.
Meski demikian, fenomena deepfake AI menunjukkan perkembangan yang lebih cepat dibandingkan dengan regulasi. Oleh karena itu, pembaruan hukum dan peningkatan literasi digital perlu dilakukan. Kemajuan teknologi hadir bukan untuk ditakuti, melainkan sebagai alat bantu untuk mempermudah masyarakat dalam berbagai bidang dan mengembangkan kreativitas.
Kemampuan berpikir kritis dan selektif terhadap informasi menjadi senjata paling ampuh untuk menghadapi fenomena deepfake AI. Di era kecerdasan buatan, menjaga kebenaran tidak lagi cukup hanya dengan melihat dan mendengar. Sebab, wajah dapat dipalsukan, suara dapat ditiru, dan realitas pun dapat direkayasa. Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan lagi soal renungan seberapa canggih teknologi akan berkembang, tetapi seberapa siap masyarakat menghadapi kenyataan bahwa apa yang mereka lihat dan dengar tidak lagi mencerminkan kenyataan.
Oleh : Dinda Rahmadani Rizki
Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Fakultas Sains dan Teknologi
Progam Studi Perpustakaan dan Sains Informasi.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment