Esai
Kampus
Mahasiswa
Pendidikan
Produktif atau Terobsesi ? Obsesi Produktivitas Anak Muda dan Dampaknya pada Kesehatan Mental
“Aku lagi sibuk banget.”
APERO FUBLIC I ESAI.--- Kalimat sederhana ini perlahan menjadi identitas baru anak muda masa kini. Kesibukan seolah berubah menjadi ukuran keberhasilan. Semakin padat jadwal seseorang, semakin dianggap keren dan berkembang. Dari kuliah, organisasi, pekerjaan sampingan, hingga membangun personal branding di media sosial, semuanya dilakukan secara bersamaan demi mengejar satu hal: terlihat produktif.
Fenomena ini semakin kuat sejak media sosial menjadi bagian utama kehidupan sehari-hari. Setiap hari, linimasa dipenuhi dengan pencapaian orang lain. Ada yang berhasil mendapatkan beasiswa, membangun bisnis di usia muda, menjadi content creator sukses, atau memiliki rutinitas hidup yang terlihat sempurna.
Tanpa disadari, semua itu membentuk standar sosial baru bahwa anak muda yang baik adalah mereka yang selalu aktif, sibuk, dan terus menghasilkan sesuatu. Padahal, tidak semua kesibukan berarti pertumbuhan. Banyak anak muda sebenarnya sedang kelelahan, tetapi merasa tidak boleh berhenti karena takut tertinggal dari orang lain.
Mereka terus memaksa diri untuk bergerak, bahkan ketika tubuh dan pikirannya sudah tidak baik-baik saja. Inilah yang kemudian melahirkan pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang produktif, atau sebenarnya hanya terobsesi untuk terlihat produktif?
Obsesi produktivitas menjadi salah satu masalah sosial yang cukup serius di kalangan generasi muda saat ini.
Masalah ini memang terlihat sederhana karena dibungkus dengan istilah motivasi, pengembangan diri, dan semangat meraih mimpi. Namun, jika diperhatikan lebih dalam, budaya ini justru dapat melahirkan tekanan psikologis yang perlahan merusak kesehatan mental anak muda.
Salah satu penyebab utamanya adalah media sosial. Platform digital saat ini bukan hanya menjadi tempat komunikasi, tetapi juga arena perbandingan sosial. Anak muda tidak lagi hidup berdasarkan kebutuhan dirinya sendiri, melainkan berdasarkan apa yang dianggap keren oleh lingkungan digital. Mereka merasa harus selalu update pencapaian, harus terlihat sibuk, dan harus terus berkembang agar mendapat pengakuan sosial.
Masalahnya, media sosial hanya menampilkan bagian terbaik dari kehidupan seseorang. Orang jarang menunjukkan kegagalan, rasa lelah, atau tekanan mental yang mereka alami. Akibatnya, banyak individu membandingkan hidupnya yang nyata dengan kehidupan orang lain yang sudah dipoles sedemikian rupa di internet. Perbandingan inilah yang kemudian memunculkan rasa tidak cukup.
Ketika seseorang merasa hidupnya tertinggal dibanding orang lain, muncullah tekanan untuk bekerja lebih keras tanpa mengenal batas. Banyak anak muda akhirnya menjalani pola hidup yang tidak sehat: tidur kurang, memforsir tenaga, kehilangan waktu bersama keluarga, bahkan mengorbankan kesehatan mental demi memenuhi target-target yang sebenarnya belum tentu mereka inginkan.
Fenomena ini sering disebut sebagai hustle culture, yaitu budaya yang menganggap bahwa kesuksesan hanya bisa dicapai dengan bekerja tanpa henti. Dalam budaya ini, istirahat sering dipandang sebagai kemalasan. Orang yang santai dianggap tidak ambisius, sedangkan mereka yang terus sibuk dianggap lebih bernilai. Padahal, manusia bukan mesin yang bisa terus dipaksa bekerja tanpa batas.
Ironisnya, banyak anak muda sebenarnya tidak lagi memahami tujuan dari kesibukan yang mereka jalani. Mereka hanya takut tertinggal. Mereka takut dianggap gagal jika hidupnya tidak sehebat orang lain di media sosial. Akibatnya, produktivitas tidak lagi lahir dari kesadaran diri, tetapi dari tekanan sosial dan rasa cemas.
Dampak pertama dari kondisi ini adalah burnout. Burnout merupakan kelelahan emosional akibat tekanan yang berlangsung terus-menerus. Seseorang yang mengalami burnout biasanya kehilangan semangat, mudah lelah, sulit menikmati aktivitas, dan merasa hidupnya kosong. Yang paling berbahaya, burnout sering tidak disadari karena dianggap sebagai bagian normal dari perjuangan hidup.
Selain burnout, obsesi produktivitas juga memicu overthinking.
Banyak anak muda terus memikirkan masa depan secara berlebihan. Mereka merasa harus sukses sebelum usia tertentu, harus memiliki pencapaian besar lebih cepat, dan harus selalu berkembang setiap waktu. Jika target itu tidak tercapai, mereka mulai menyalahkan diri sendiri dan merasa tidak berguna.
Padahal, setiap orang memiliki proses hidup yang berbeda. Tidak semua orang harus berhasil di usia muda. Namun karena pengaruh media sosial, banyak anak muda merasa hidup adalah perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin.
Cara berpikir seperti ini sangat berbahaya karena membuat seseorang sulit menikmati proses kehidupannya sendiri.
Lebih jauh lagi, tekanan produktivitas dapat menyebabkan krisis identitas.
Banyak anak muda akhirnya kehilangan arah hidup karena terlalu sibuk mengikuti standar orang lain. Mereka tidak lagi bertanya “apa yang benar-benar saya inginkan?”, tetapi lebih fokus pada “apa yang membuat saya terlihat sukses di mata orang lain?”. Akibatnya, mereka mudah merasa kosong meskipun sudah mencapai banyak hal.
Dalam perspektif Islam, fenomena ini sebenarnya menunjukkan hilangnya keseimbangan hidup. Islam tidak pernah mengajarkan manusia untuk hidup secara berlebihan. Allah SWT berfirman bahwa manusia dijadikan sebagai umat yang wasathiyah atau umat yang seimbang.
Artinya, kehidupan harus dijalani dengan proporsional antara usaha, ibadah, istirahat, dan hubungan sosial. Seperti apa yang sudah dijelaskan pada Al-Qur’an surah Al-Qashash ayat 77 yang berbunyi;
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِى الْاَرْضِۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ
“Dan, carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (pahala) negeri akhirat, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia. Berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” QS. Al-Qashash [28]: 77
Dalam Islam, bekerja keras memang dianjurkan, tetapi memaksakan diri hingga merusak kesehatan bukanlah sesuatu yang dibenarkan. Jadi antara urusan akhirat dan urusan dunia harus seimbang, kita tidak boleh terlalu sibuk mencari keduniaan dan juga tidak boleh terlalu mencari urusan akhirat.
Sayangnya, banyak anak muda hari ini justru mengukur nilai dirinya hanya dari pencapaian duniawi.
Mereka lupa bahwa manusia bukan hanya membutuhkan kesuksesan materi, tetapi juga ketenangan jiwa. Akibatnya, hidup terasa penuh tekanan karena semua hal diukur berdasarkan prestasi dan validasi sosial.
Jika dilihat dari perspektif kebangsaan, kondisi ini juga menjadi ancaman bagi masa depan generasi muda Indonesia.
Bangsa ini memang membutuhkan anak muda yang aktif, kreatif, dan produktif. Namun bangsa juga membutuhkan generasi yang sehat secara mental, memiliki empati sosial, dan mampu berpikir jernih dalam menghadapi tantangan zaman.
Apabila generasi muda terus hidup dalam tekanan produktivitas yang tidak sehat, maka yang muncul bukan generasi kuat, melainkan generasi yang mudah cemas, kehilangan arah, dan rapuh secara mental. Hal ini tentu berbahaya karena kualitas suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan intelektual, tetapi juga oleh kesehatan mental masyarakatnya.
Selain itu, budaya obsesi produktivitas juga membuat manusia semakin individualis. Banyak orang terlalu fokus mengejar target pribadi hingga kehilangan kepedulian sosial. Mereka sibuk membangun citra diri, tetapi lupa membangun hubungan yang sehat dengan lingkungan sekitar. Padahal, dalam kehidupan berbangsa, solidaritas dan kepedulian sosial merupakan hal yang sangat penting.
Karena itu, fenomena ini tidak boleh dianggap sebagai masalah pribadi semata. Ini adalah persoalan sosial yang perlu disadari bersama. Lingkungan keluarga, pendidikan, dan media memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang anak muda terhadap makna kesuksesan dan produktivitas.
Pada akhirnya, produktivitas bukanlah sesuatu yang salah. Produktivitas tetap penting sebagai bagian dari proses berkembang dan membangun masa depan. Namun, produktivitas akan menjadi berbahaya ketika berubah menjadi obsesi yang memaksa manusia terus bergerak tanpa arah dan tanpa jeda.
Karena itu, makna produktivitas perlu dibangun ulang. Produktif tidak harus selalu sibuk. Berkembang juga tidak harus selalu terlihat hebat di media sosial. Terkadang, menjaga kesehatan mental, meluangkan waktu bersama keluarga, dan mampu berdamai dengan diri sendiri juga merupakan bentuk keberhasilan hidup.
Anak muda perlu belajar bahwa hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan secepat mungkin. Setiap orang memiliki waktunya masing-masing. Tidak semua hal harus dicapai sekarang, dan tidak semua pencapaian orang lain harus dijadikan standar kehidupan pribadi.
Selain itu, penggunaan media sosial juga perlu dilakukan secara lebih bijak. Media sosial seharusnya menjadi sarana belajar dan berbagi manfaat, bukan tempat untuk terus membandingkan diri. Anak muda harus mampu membedakan antara motivasi yang sehat dan tekanan sosial yang merusak mental.
Lembaga pendidikan juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang lebih manusiawi. Prestasi memang penting, tetapi kesehatan mental peserta didik juga harus diperhatikan. Pendidikan seharusnya tidak hanya mencetak manusia yang kompetitif, tetapi juga manusia yang sadar diri dan mampu menjalani hidup secara seimbang.
Dalam perspektif Islam, keberhasilan sejati bukan hanya tentang seberapa banyak yang dicapai, tetapi juga tentang seberapa baik seseorang menjaga dirinya, akhlaknya, dan hubungannya dengan Allah SWT. Sebab hidup yang baik bukan sekadar hidup yang sibuk, melainkan hidup yang memiliki makna dan keberkahan.
Maka, di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, mungkin yang paling dibutuhkan generasi muda hari ini bukanlah kemampuan untuk terus berlari, tetapi kemampuan untuk berhenti sejenak, memahami arah hidup, dan tetap berjalan tanpa kehilangan dirinya sendiri.
Oleh: Zayyan Nabil Hizbullah
Program Studi Tasawuf dan Psikoterapi, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Sunan Ampel Surabaya.
Email : Zayyannabil05@gmail.com
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment