Esai
Kampus
Kesehatan
Mahasiswi
Pendidikan
Menjaga Kehidupan Tanpa Sebagai Tulang Kepala : Professionalisme Perawat pada Pasien Post Craniectomy di Era 5.0
APERO FUBLIC I ESAI.- Profesi perawat sering kali dipahami masyarakat hanya sebatas pekerjaan melakukan tindakan teknis di rumah sakit. Padahal, perawat memiliki tanggung jawab besar dalam menjaga keselamatan, kenyamanan, dan kualitas hidup pasien selama proses perawatan.
Salah satu kondisi yang memperlihatkan pentingnya profesionalisme perawat yaitu dalam perawatan pasien post craniectomy, yaitu pasien yang hidup tanpa sebagian tulang kepala setelah menjalani operasi bedah saraf akibat trauma kepala, stroke, maupun perdarahan otak.
Kondisi tersebut membuat pasien berada dalam keadaan yang sangat rentan karena sebagian jaringan otak tidak lagi terlindungi secara sempurna. Pasien post craniectomy memiliki risiko tinggi mengalami peningkatan tekanan intrakranial, penurunan kesadaran, infeksi, maupun cedera pada area kepala yang tidak lagi terlindungi tulang tengkorak.
Hinkle dan Cheever (2022) menjelaskan bahwa pasien neurologi membutuhkan observasi ketat dan pemantauan neurologis yang berkelanjutan untuk mencegah komplikasi yang dapat mengancam nyawa.
Memasuki Era Society 5.0, perawatan pasien post craniectomy beradaptasi dengan perkembangan kemajuan tekonolgi digital. Perawat memantau tingkat kesadaran, tanda vital, refleks pupil, hingga perubahan kondisi pasien sekecil apa pun menggunakan teknologi seperti monitoring tanda vital digital, electronic health record (EHR), hingga sistem alarm keselamatan pasien yang dapat membantu perawat melakukan deteksi dini terhadap perubahan kondisi neurologis pasien secara lebih cepat dan akurat.
Selain kemampuan klinis dan adaptasi dengan teknologi digital, perawat menjaga kehidupan pasien post craniectomy dengan nilai-nilai profesionalisme perawat yaitu nilai altruisme, otonomi, integritas, dan penghormatan terhadap martabat manusia (Berman et al., 2021).
Perawat mengintegrasikan kompetensi teknologi dengan profesionalisme keperawatan agar pelayanan yang diberikan tidak hanya efektif dan modern, tetapi juga aman, etis, dan berorientasi pada kebutuhan pasien.
Melalui nilai altruisme perawat berkomitmen tinggi melayani dalam memberikan asuhan keperawatan, tidak hanya merawat secara fisik, tetapi juga memberikan perhatian, tanggung jawab, dan ketulusan kepada pasien. Potter et al. (2023) menjelaskan bahwa sikap caring dari perawat dapat meningkatkan kenyamanan psikologis pasien serta memperkuat hubungan saling percaya.
Profesionalisme perawat juga tampak melalui penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia (human dignity). Dalam nilai profesional keperawatan, setiap pasien harus diperlakukan dengan hormat, empati, dan tanpa diskriminasi. Pasien post craniectomy sering merasa takut dipandang berbeda oleh lingkungan sekitarnya akibat perubahan kondisi fisik yang dialami.
Perawat menjaga rasa percaya diri dan kenyamanan pasien selama masa pemulihan. Sikap sederhana seperti berbicara dengan sopan, menjaga privasi pasien, serta memberikan dukungan emosional yang tulus merupakan bentuk nyata profesionalisme perawat yang sering kali tidak disadari masyarakat dan tidak dapat digantikan oleh teknologi.
International Council of Nurses (2021) menegaskan bahwa perawat memiliki tanggung jawab menghormati hak, nilai, dan martabat pasien dalam setiap tindakan keperawatan di tengah perkembangan teknologi kesehatan.
Era Society 5.0 bagi profesi perawat menunjukkan bahwa teknologi bukan pengganti perawat, melainkan alat pendukung dalam menghadirkan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas dan berfokus pada kemanusiaan.
Pasien yang hidup tanpa perlindungan tulang kepala membutuhkan perawat yang tidak hanya terampil, tetapi juga mampu memberikan rasa aman, dukungan emosional, dan harapan selama proses pemulihan.
Kesimpulannya, profesionalisme perawat dalam perawatan pasien post craniectomy di Era 5.0 bukan hanya tentang keterampilan teknis, tetapi juga tentang nilai-nilai kemanusiaan yang mendasari praktik keperawatan.
Melalui pemahaman ini, kita dapat melihat bahwa profesi perawat merupakan profesi profesional yang memiliki peran besar dalam menjaga kehidupan manusia. Profesionalisme perawat bukan sekadar identitas pekerjaan, melainkan bentuk nyata kemanusiaan yang hadir di sisi pasien ketika berada pada titik paling rapuh.
DAFTAR PUSTAKA
Berman, A., Snyder, S. J., & Frandsen, G. (2021). Kozier & Erb’s fundamentals of nursing: Concepts, process, and practice (11th ed., Global ed.). Pearson.
Hinkle, J. L., & Cheever, K. H. (2022). Brunner & Suddarth’s textbook of medical-surgical nursing (15th ed.). Wolters Kluwer.
International Council of Nurses. (2021). The ICN code of ethics for nurses. ICN.
Potter, P. A., Perry, A. G., Stockert, P., & Hall, A. (2023). Fundamentals of nursing (10th ed). Elsevier.
Oleh : Dita Valentin
Mahasiswi S1 Keperawatan Ekstensi, Fakultas Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment