Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Dari Hafalan ke Kesadaran Kritis: Mengubah Cara Belajar Bahasa Inggris
Sumber: https://guruinovatif.id/
APERO FUBLIC I ESAI.-- Ketika mendengar pelajaran bahasa Inggris, banyak orang langsung membayangkan hafalan kosakata, aturan tata bahasa, dan latihan soal yang harus diselesaikan. Tidak mengherankan jika keberhasilan belajar sering diukur dari seberapa banyak kata yang diingat atau seberapa tinggi nilai yang diperoleh.
Namun, di tengah dunia yang dipenuhi informasi, perbedaan pendapat, dan berbagai persoalan sosial yang semakin kompleks, muncul pertanyaan yang layak diajukan: apakah kemampuan berbahasa cukup jika siswa tidak dibiasakan untuk berpikir kritis?.
Selama ini, pembelajaran Bahasa Inggris sebagai bahasa asing (English as a Foreign Language atau EFL) sering berfokus pada penguasaan tata bahasa, kosakata, dan kemampuan menjawab soal ujian.
Keberhasilan belajar umumnya diukur melalui nilai akademik dan kemampuan mengingat materi yang telah diajarkan. Akibatnya, siswa lebih sering berperan sebagai penerima informasi daripada peserta aktif dalam proses pembelajaran.
Padahal, bahasa bukan sekadar kumpulan aturan yang harus dihafal. Bahasa merupakan sarana untuk menyampaikan gagasan, memahami orang lain, serta merespons berbagai persoalan yang terjadi di sekitar kita.
Oleh karena itu, belajar bahasa seharusnya tidak hanya membantu siswa menguasai struktur bahasa, tetapi juga mendorong mereka untuk berpikir, bertanya, dan memahami realitas yang mereka hadapi.
Kondisi pembelajaran yang berpusat pada guru ini pernah dikritik oleh Paulo Freire melalui konsep banking model of education. Dalam model tersebut, siswa diposisikan sebagai “wadah kosong” yang menerima pengetahuan dari guru.
Pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang dapat ditransfer begitu saja tanpa melibatkan dialog dan refleksi. Akibatnya, siswa terbiasa menerima informasi, tetapi kurang terbiasa mengembangkan pemikiran secara mandiri.
Sebagai alternatif, Freire menawarkan pendekatan pedagogi kritis yang menempatkan siswa sebagai subjek aktif dalam proses belajar.
Melalui pendekatan ini, pendidikan tidak hanya bertujuan menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membangun kesadaran kritis. Siswa diajak memahami hubungan antara apa yang mereka pelajari dengan berbagai persoalan yang ada dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pembelajaran bahasa Inggris, pedagogi kritis memandang bahasa sebagai alat untuk memahami dunia. Siswa tidak hanya belajar bagaimana menggunakan bahasa dengan benar, tetapi juga bagaimana menggunakan bahasa untuk menyampaikan pendapat, mengkritisi informasi, dan berdialog dengan orang lain. Dengan demikian, proses belajar menjadi lebih bermakna karena bahasa digunakan dalam konteks yang nyata dan relevan.
Salah satu unsur penting dalam pedagogi kritis adalah dialog. Dialog tidak hanya berarti percakapan antara guru dan siswa, tetapi juga pertukaran gagasan yang memungkinkan semua pihak belajar bersama. Ketika siswa diberi ruang untuk bertanya, menyampaikan pandangan, dan menanggapi pendapat orang lain, kelas menjadi lebih hidup dan partisipatif.
Dalam suasana seperti ini, siswa tidak lagi sekadar menjadi pendengar, tetapi turut berperan dalam membangun pengetahuan.
Pendekatan tersebut dapat diterapkan melalui berbagai aktivitas yang dekat dengan kehidupan siswa.
Misalnya, topik tentang media sosial, penyebaran hoaks, perundungan siber (cyberbullying), atau persoalan lingkungan dapat dijadikan bahan diskusi dalam kegiatan membaca, berbicara, maupun menulis. Saat membahas isu-isu tersebut, siswa tidak hanya melatih kemampuan berbahasa Inggris, tetapi juga belajar menganalisis informasi, melihat berbagai sudut pandang, dan menyusun argumen secara logis.
Pembelajaran yang kontekstual seperti ini membuat bahasa terasa lebih hidup. Bahasa tidak lagi dipahami sebagai mata pelajaran yang terpisah dari kehidupan sehari-hari, melainkan sebagai alat untuk memahami dan merespons berbagai fenomena sosial. Siswa belajar bahwa bahasa dapat digunakan untuk menyuarakan gagasan, membangun pemahaman, dan berpartisipasi dalam kehidupan masyarakat.
Tentu saja, penerapan pedagogi kritis bukan tanpa tantangan. Sistem pendidikan yang masih berorientasi pada ujian, padatnya kurikulum, serta keterbatasan waktu pembelajaran sering kali membuat ruang untuk diskusi dan refleksi menjadi terbatas. Selain itu, sebagian siswa juga belum terbiasa menyampaikan pendapat karena selama ini lebih sering berada dalam pola pembelajaran yang satu arah.
Namun, tantangan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk mempertahankan cara belajar yang kurang relevan dengan kebutuhan zaman.
Perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana, seperti menghadirkan pertanyaan yang mendorong refleksi, menghubungkan materi dengan pengalaman siswa, atau memberikan ruang bagi mereka untuk berdiskusi dan menyampaikan pendapat. Langkah kecil semacam ini dapat membantu menciptakan kelas yang lebih demokratis dan bermakna.
Di tengah dunia yang semakin kompleks, kemampuan menghafal saja tidak lagi cukup. Siswa perlu belajar bertanya, berdialog, dan memahami berbagai persoalan yang mereka hadapi.
Karena itu, pembelajaran bahasa Inggris tidak seharusnya berhenti pada penguasaan kosakata dan tata bahasa. Ia perlu menjadi ruang untuk membangun kesadaran, memperluas cara pandang, dan menyiapkan generasi yang mampu berpikir kritis dalam menghadapi perubahan zaman.
Pada akhirnya, tujuan belajar bahasa Inggris bukan hanya agar siswa mampu menggunakan bahasa asing dengan baik. Lebih dari itu, pembelajaran bahasa perlu membantu mereka memahami dunia, menyuarakan gagasan, dan berpartisipasi secara aktif dalam kehidupan sosial.
Dari sinilah transformasi dari hafalan menuju kesadaran kritis menjadi penting untuk diwujudkan dalam kelas-kelas bahasa Inggris di Indonesia.
Penulis : Saadah Al Afiah
Mahasiswi Universitas Subang, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment