Esai
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Dampak Tekanan Finansial Terhadap Aktivitas Akademik Mahasiswa
APERO FUBLIC I OPINI.- Malam itu layar laptop masih menyala, menampilkan tumpukan materi UAS yang belum selesai dipelajari. Di sudut kamarnya, hanya tersisa beberapa bungkus mi instan dan saldo dompet yang nyaris kosong. Nur mengaku bagi sebagian mahasiswa penerima KIP Kuliah, di setiap akhir semester bukan hanya tentang menghadapi ujian, tetapi juga tentang bertahan di tengah dana yang mulai menipis.
Ketika kebutuhan hidup harus dipangkas dan tekanan akademik terus meningkat, fokus belajar pun perlahan ikut dipertaruhkan.
Pertaruhan yang sangat berat sekali. kondisi finansial satu semester tak selalu mengalir dalam irama yang tetap. Dana bantuan pendidikan sekitar Rp4,8 juta yang hadir setiap semester diawalnya terasa seperti nafas lega, cukup menopang hari-hari dan tuntutan akademik yang terus berdatangan.
“Untuk bulan pertama, kedua, ketiga itu masih cukup memadai buat kebutuhan sehari-hari sama kebutuhan kuliah, seperti print atau keperluan lainnya,” ujarnya. sebuah ketenangan yang nyata, meski tak abadi.
Namun, di balik ketenangan itu, roda akademik terus berputar menuntut lebih. Pada bulan-bulan awal semester, setiap lembar fotokopi, setiap tugas yang dicetak, setiap media pembelajaran yang dibentuk dengan tangan sendiri, semuanya masih bisa terpenuhi tanpa dahi yang berkerut.
Bagi mahasiswa PGSD, membuat media dan model bahan ajar bukan sekadar tugas biasa, itu adalah bagian dari napas perkuliahan mereka, bekal sebelum benar-benar berdiri di hadapan murid.
Terlebih, kurikulum yang berlaku kini tak lagi memberi ruang bagi cara lama, ia menuntut perubahan, mendorong mahasiswa keguruan untuk memikirkan ulang bagaimana ilmu disampaikan dan bagaimana belajar seharusnya terasa.
Hingga akhirnya, tanpa banyak peringatan, sesuatu mulai bergeser. Memasuki bulan keempat tepat ketika jadwal ujian mulai membayang di cakrawala. apa yang semula terasa cukup perlahan menunjukkan batasnya. Uang yang dulu mengalir tenang kini seperti sungai di musim kemarau masih ada, tapi terus menyusut. Tagihan kecil yang biasanya tak terasa kini terasa menghimpit, sementara tuntutan perkuliahan tidak ikut mengecil.
Bulan keempat punya bobotnya sendiri. Bukan sekadar soal angka di dompet yang berkurang, melainkan soal ritme hidup yang mulai kehilangan kelonggaran. Hal-hal yang sebelumnya bisa dipenuhi tanpa banyak pikir, kini memerlukan perhitungan. Setiap keputusan kecil makan apa hari ini, perlu cetak atau tidak, bisa ditunda atau tidak, semuanya menjadi lebih berat dari biasanya.
Dan yang menarik, bukan selalu soal jumlahnya yang kurang. "Kalau di awal kita ngeluarin uang lebih banyak, nanti pasti ngaruh ke akhirnya. Biasanya mulai kerasa pas udah mau UAS, finansial jadi kurang mencukupi," katanya. Uang yang sama, semester yang sama hanya pola penggunaannya yang menentukan apakah akhir semester akan dijalani dengan tenang atau dengan menghitung sisa dengan was-was.
Tapi di balik semua itu, ada beban yang jauh lebih berat dari sekadar tagihan. Nur tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh lagi. Bapak sudah pergi, meninggalkan ibu yang kini terbaring di rumah dalam keadaan sakit, sendirian.
Kakak sudah punya dunianya sendiri, merantau jauh dengan rumah tangga yang harus ia jaga. Adik masih mondok, masih sekolah, masih butuh waktu untuk mengerti bahwa dunia tidak selalu mudah. Maka Nur berdiri di tengah semua itu, di kota yang bukan kampung halamannya, menanggung hari-harinya sendiri, tanpa jaring pengaman yang bisa dihubungi kapan saja.
Bantuan pendidikan yang ia terima bukan sekadar uang kuliah ia adalah seluruh hidupnya selama berbulan-bulan. Tidak ada kiriman di akhir bulan, tidak ada yang bisa ditelepon saat dompet menipis. Yang ada hanya satu angka yang tertera setiap kali beasiswa cair, dan dari angka itulah ia membangun seluruh hari-harinya: makan, tempat tinggal, ongkos, dan mimpi yang ingin ia pertahankan.
Pengeluaran yang bagi orang lain terasa wajar. secangkir kopi, fotokopi satu bundel, makan siang di luar, bagi Nur adalah keputusan yang harus dipertimbangkan.
Dan ketika malam semakin larut dan pikiran tidak bisa tenang, yang hadir bukan hanya kelelahan dari tumpukan materi. Ada suara lain yang berbisik lebih keras, tentang ibu yang sakit di rumah, tentang besok makan apa, tentang apakah uang yang tersisa masih cukup untuk dua minggu ke depan.
"Kalau kita ngerasa kekurangan finansial, jadinya overthinking. Kita mikir, nanti buat makan gimana, buat kebutuhan lain gimana," katanya. Kekhawatiran itu tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya belajar menyimpannya lebih rapi, agar tidak terlalu terlihat.
Di sekitarnya, kehidupan teman-teman tampak berjalan lebih ringan. Ada yang bebas memesan makanan tanpa menghitung, ada yang tidak perlu berpikir panjang soal ongkos pulang. Nur menyaksikan itu semua dalam diam bukan dengan kepahitan, tapi dengan kesadaran bahwa ia memang berdiri di jalur yang berbeda.
Jalur yang lebih sempit, lebih sepi, dan harus ditempuh dengan lebih banyak perhitungan. Di sanalah ia belajar sesuatu yang tidak ada dalam silabus mana pun bahwa bertahan bukan hanya soal nilai yang harus dijaga, tetapi soal hati yang harus terus dikuatkan.
Meski langkahnya tidak selalu ringan, ada satu hal yang tidak pernah Nur biarkan goyah, semangatnya untuk belajar. Di tengah hari-hari yang penuh perhitungan, ia tetap hadir di kelas, tetap mengerjakan tugas, tetap menjaga ritme perkuliahan yang terus berputar. Bukan karena semua itu mudah, melainkan karena ia tahu betul apa yang dipertaruhkan.
"Kalau saya pribadi, keterbatasan keuangan nggak mempengaruhi pengerjaan tugas," ujarnya. Ada tekad yang berbicara dari balik kata-kata itu bahwa kesulitan boleh datang, tapi tidak boleh ikut masuk ke dalam ruang belajar dan mengambil alih.
Sebagai penerima KIP Kuliah, Nur memahami bahwa nilai bukan sekadar angka yang tercetak di lembar transkrip. Ia adalah tali yang menghubungkan hari ini dengan hari-hari berikutnya. Di kampusnya, penurunan IPK bisa berdampak langsung pada kelanjutan beasiswa yang selama ini menopang seluruh hidupnya.
Konsekuensi itu tidak pernah jauh dari pikirannya bahkan di momen-momen paling lelah sekalipun. "Kalau IPK turun, itu bisa berpengaruh ke beasiswa yang kita dapat. Kalau kurang dari batas tertentu, beasiswanya bisa saja dicabut," katanya. Kalimat itu bukan sekadar informasi ia adalah pengingat yang selalu ia bawa, diam-diam, ke setiap kelas yang ia masuki.
Maka ia hadir. Bukan sekadar hadir secara fisik, duduk di bangku dan mendengarkan. Ia hadir dengan sungguh-sungguh mencatat, bertanya, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan memastikan tidak ada celah yang membiarkan kesempatan ini luruh sia-sia.
Di tengah segala keterbatasan, menjaga performa akademik adalah bentuk perjuangan yang paling nyata yang bisa ia lakukan sekaligus cara paling konkret untuk memastikan pintu pendidikan itu tidak tertutup sebelum waktunya.
Tapi ada alasan lain yang tumbuh lebih dalam dari sekadar takut kehilangan beasiswa. Ada rasa tanggung jawab yang tidak tertulis di mana pun, namun selalu terasa.
"Saya kan mahasiswa KIP Kuliah, nah menurut saya mendapatkan KIP Kuliah ini berarti saya harus menjalankan kewajiban saya sebagai mahasiswa, karena saya telah diberikan sebuah beasiswa dari negara untuk bisa belajar dan mengembangkan diri, kompetensi saya di kelas," ujarnya.
Negara telah mempercayakan sesuatu kepadanya, bukan hanya uang, tapi kesempatan. Dan kesempatan itu, baginya terlalu berharga untuk dijalani dengan setengah hati.
Maka ia terus berjalan, satu semester demi satu semester, membawa beban yang tidak ringan tapi juga membawa keyakinan bahwa semua ini sedang menuju ke suatu tempat yang layak untuk diperjuangkan.
Dorongan itu tidak selalu datang dalam bentuk ambisi yang berkobar.
Kadang ia hadir dengan lebih tenang seperti bisikan yang mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapat giliran yang sama untuk duduk di ruang kuliah, memegang buku, dan bermimpi dengan leluasa.
Kesadaran itulah yang membuat setiap kelas terasa lebih dari sekadar kewajiban, setiap tugas lebih dari sekadar beban, dan setiap langkah kecil terasa seperti sesuatu yang harus dijaga dengan sepenuh hati.
Di luar dirinya, ia melihat bahwa setiap mahasiswa membawa ceritanya sendiri. Ada yang berjibaku mempertahankan nilai agar bantuan yang diterima tidak dicabut di tengah jalan. Ada pula yang harus membagi dirinya menjadi dua separuh untuk bangku kuliah, separuh lagi untuk pekerjaan yang menanti setelah kelas usai. Masing-masing berjalan di jalurnya, masing-masing menanggung beratnya sendiri.
Namun di balik semua perbedaan itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui hampir semua dari mereka. bagaimana caranya agar urusan perut dan urusan pikiran tidak saling berebut ruang?.
Bagaimana menjaga agar kecemasan tentang hari esok tidak ikut duduk di bangku kuliah, tidak ikut membaca buku, tidak ikut menggerus mimpi yang sedang dengan susah payah dibangun.
Maka Nur membangun caranya sendiri untuk bertahan, bukan dengan cara yang rumit, melainkan dengan kebiasaan kecil yang dilakukan sejak awal yaitu memilah, memprioritaskan, dan mencoba membaca apa yang belum datang. Sejak beasiswa cair, uang itu tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Ia dipetakan, diarahkan, diberi tujuan.
"Kalau saya dapat uang itu untuk belajar, berarti uang itu saya gunakan buat belajar dan kebutuhan kuliah," ujarnya. sederhana, tapi di balik kesederhanaan itu ada disiplin yang tidak mudah dijaga.
Dan ketika ada kebutuhan besar yang sudah bisa diprediksi misalnya pembayaran TOEFL, keperluan perkuliahan yang memakan biaya tidak sedikit ia tidak menunggu. Sejak beasiswa cair, sejumlah uang langsung disisihkan, disimpan terpisah seolah sudah memiliki nama dan alamatnya sendiri.
"Jangan sampai uang itu kepakai buat yang lain," katanya. Bukan pelit, bukan kikir melainkan sebuah cara menjaga agar impian yang sedang dibangun tidak runtuh hanya karena lupa bersiap.
Mengatur uang, pada akhirnya, bukan semata soal angka. Ia adalah seni membaca waktu mengenali kebutuhan yang belum datang, menyiapkan diri sebelum gelombang benar-benar tiba.
Strategi bertahan tidak selalu lahir dari rencana besar; kadang ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat diam-diam, jauh sebelum keadaan memaksa. Dan ia tahu betul bahwa setiap mahasiswa menemukan jalannya sendiri ada yang mencari penghasilan tambahan, berjualan, mengajar, atau mengambil pekerjaan di sela-sela jadwal kuliah yang padat.
Tapi jalan itu tidak selalu terbuka lebar untuk semua orang. "Kalau aku mah bukan orang pebisnis," katanya sambil tertawa kecil. "Bukannya nambah tenang, yang ada malah tambah pusing sendiri." Ia menyaksikan beberapa temannya mencoba menjalani dua peran sekaligus mengajar di sekolah dasar di pagi hari, lalu duduk kembali sebagai mahasiswa di siang harinya.
Dua dunia yang berjalan beriringan, meski tidak selalu dengan mudah. Ia mengagumi itu, tapi ia juga jujur pada dirinya sendiri: untuk saat ini, itu bukan jalannya.
Dan mungkin memang tidak perlu ada satu jalan yang sama untuk semua orang. Ada yang bertahan dengan memperketat, ada yang bertahan dengan menambah, ada pula yang masih meraba-raba di antara keduanya. Yang pasti, di ujung semua pilihan itu, ada satu benang yang sama sebuah keinginan sederhana namun tidak mudah.
Agar mimpi yang dibawa jauh dari rumah tidak harus gugur hanya karena kantong yang tak selalu penuh. Bahwa kuliah, dengan segala harga yang harus dibayar, tetap layak untuk diselesaikan sampai akhir, sampai tuntas, sampai benar-benar selesai.
Oleh : Hilda Nurul Ajizah Fauziah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Tarbiyah dan Keguruan, Tadris Bahasa Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Esai

Post a Comment