-->
Search
24 C
en
  • Penerbit MAF
  • Apero Book
  • JAF
  • LinkedIn
APERO FUBLIC
Terbitkan Artikel Anda
  • Apero Fublic
  • Popular
    • Politik
    • Ekonomi
    • Fotografi
    • Dunia Anak
    • Sosial & Masyarakat
  • Apero Fublic
  • Women
    • Women
    • Tokoh Wanita
    • Skil Wanita
    • Ibu dan Anak
    • Pendidikan & Kesehatan Wanita
  • Gatget
    • Video
  • World
  • Video
  • Featured
    • Penyakit Masyarakat
    • About
    • e-Galeri
    • Post Search
    • Daftar Kata
    • Peribahasa
    • Antologi Puisi INew
    • Antologi Puisi IINew
  • Find
    • Download Artikel
    • Download Feature
    • Andai-Andai
    • Post All
    • Flora Pangan
    • Fauna
    • Picture IndonesiaNew
    • Kamus Bahasa MusiNew
  • Lifestyle
    • Teknologi
    • Brand
    • Sport
    • Fashion
    • Fitness
    • Sunset-Sunrise
    • HijrahNew
    • NasihatNew
APERO FUBLIC
Search

Ruang Sponsor Apero Fublic

Ruang Sponsor Apero Fublic
Home Esai Kampus Mahasiswi Pendidikan Psikologi Dampak Tekanan Finansial Terhadap Aktivitas Akademik Mahasiswa
Esai Kampus Mahasiswi Pendidikan Psikologi

Dampak Tekanan Finansial Terhadap Aktivitas Akademik Mahasiswa

PT. Media Apero Fublic
PT. Media Apero Fublic
04 Jun, 2026 0 0
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp

APERO FUBLIC  I  OPINI.-   Malam itu layar laptop masih menyala, menampilkan tumpukan materi UAS yang belum selesai dipelajari. Di sudut kamarnya, hanya tersisa beberapa bungkus mi instan dan saldo dompet yang nyaris kosong. Nur mengaku bagi sebagian mahasiswa penerima KIP Kuliah, di setiap akhir semester bukan hanya tentang menghadapi ujian, tetapi juga tentang bertahan di tengah dana yang mulai menipis.

Ketika kebutuhan hidup harus dipangkas dan tekanan akademik terus meningkat, fokus belajar pun perlahan ikut dipertaruhkan.

Pertaruhan yang sangat berat sekali. kondisi finansial satu semester tak selalu mengalir dalam irama yang tetap. Dana bantuan pendidikan sekitar Rp4,8 juta yang hadir setiap semester diawalnya terasa seperti nafas lega, cukup menopang hari-hari dan tuntutan akademik yang terus berdatangan.

“Untuk bulan pertama, kedua, ketiga itu masih cukup memadai buat kebutuhan sehari-hari sama kebutuhan kuliah, seperti print atau keperluan lainnya,” ujarnya. sebuah ketenangan yang nyata, meski tak abadi. 

Namun, di balik ketenangan itu, roda akademik terus berputar menuntut lebih. Pada bulan-bulan awal semester, setiap lembar fotokopi, setiap tugas yang dicetak, setiap media pembelajaran yang dibentuk dengan tangan sendiri, semuanya masih bisa terpenuhi tanpa dahi yang berkerut. 

Bagi mahasiswa PGSD, membuat media dan model bahan ajar bukan sekadar tugas biasa, itu adalah bagian dari napas perkuliahan mereka, bekal sebelum benar-benar berdiri di hadapan murid.

Terlebih, kurikulum yang berlaku kini tak lagi memberi ruang bagi cara lama, ia menuntut perubahan, mendorong mahasiswa keguruan untuk memikirkan ulang bagaimana ilmu disampaikan dan bagaimana belajar seharusnya terasa.

Hingga akhirnya, tanpa banyak peringatan, sesuatu mulai bergeser. Memasuki bulan keempat  tepat ketika jadwal ujian mulai membayang di cakrawala. apa yang semula terasa cukup perlahan menunjukkan batasnya. Uang yang dulu mengalir tenang kini seperti sungai di musim kemarau masih ada, tapi terus menyusut. Tagihan kecil yang biasanya tak terasa kini terasa menghimpit, sementara tuntutan perkuliahan tidak ikut mengecil.

Bulan keempat punya bobotnya sendiri. Bukan sekadar soal angka di dompet yang berkurang, melainkan soal ritme hidup yang mulai kehilangan kelonggaran. Hal-hal yang sebelumnya bisa dipenuhi tanpa banyak pikir, kini memerlukan perhitungan. Setiap keputusan kecil  makan apa hari ini, perlu cetak atau tidak, bisa ditunda atau tidak, semuanya menjadi lebih berat dari biasanya.

Dan yang menarik, bukan selalu soal jumlahnya yang kurang. "Kalau di awal kita ngeluarin uang lebih banyak, nanti pasti ngaruh ke akhirnya. Biasanya mulai kerasa pas udah mau UAS, finansial jadi kurang mencukupi," katanya. Uang yang sama, semester yang sama hanya pola penggunaannya yang menentukan apakah akhir semester akan dijalani dengan tenang atau dengan menghitung sisa dengan was-was. 

Tapi di balik semua itu, ada beban yang jauh lebih berat dari sekadar tagihan. Nur tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh lagi. Bapak sudah pergi, meninggalkan ibu yang kini terbaring di rumah dalam keadaan sakit, sendirian.

Kakak sudah punya dunianya sendiri, merantau jauh dengan rumah tangga yang harus ia jaga. Adik masih mondok, masih sekolah, masih butuh waktu untuk mengerti bahwa dunia tidak selalu mudah. Maka Nur berdiri di tengah semua itu, di kota yang bukan kampung halamannya, menanggung hari-harinya sendiri, tanpa jaring pengaman yang bisa dihubungi kapan saja.

Bantuan pendidikan yang ia terima bukan sekadar uang kuliah ia adalah seluruh hidupnya selama berbulan-bulan. Tidak ada kiriman di akhir bulan, tidak ada yang bisa ditelepon saat dompet menipis. Yang ada hanya satu angka yang tertera setiap kali beasiswa cair, dan dari angka itulah ia membangun seluruh hari-harinya: makan, tempat tinggal, ongkos, dan mimpi yang ingin ia pertahankan.

Pengeluaran yang bagi orang lain terasa wajar. secangkir kopi, fotokopi satu bundel, makan siang di luar, bagi Nur adalah keputusan yang harus dipertimbangkan.

Dan ketika malam semakin larut dan pikiran tidak bisa tenang, yang hadir bukan hanya kelelahan dari tumpukan materi. Ada suara lain yang berbisik lebih keras, tentang ibu yang sakit di rumah, tentang besok makan apa, tentang apakah uang yang tersisa masih cukup untuk dua minggu ke depan.

"Kalau kita ngerasa kekurangan finansial, jadinya overthinking. Kita mikir, nanti buat makan gimana, buat kebutuhan lain gimana," katanya. Kekhawatiran itu tidak pernah benar-benar pergi, ia hanya belajar menyimpannya lebih rapi, agar tidak terlalu terlihat.

Di sekitarnya, kehidupan teman-teman tampak berjalan lebih ringan. Ada yang bebas memesan makanan tanpa menghitung, ada yang tidak perlu berpikir panjang soal ongkos pulang. Nur menyaksikan itu semua dalam diam  bukan dengan kepahitan, tapi dengan kesadaran bahwa ia memang berdiri di jalur yang berbeda.

Jalur yang lebih sempit, lebih sepi, dan harus ditempuh dengan lebih banyak perhitungan. Di sanalah ia belajar sesuatu yang tidak ada dalam silabus mana pun bahwa bertahan bukan hanya soal nilai yang harus dijaga, tetapi soal hati yang harus terus dikuatkan.

Meski langkahnya tidak selalu ringan, ada satu hal yang tidak pernah Nur biarkan goyah, semangatnya untuk belajar. Di tengah hari-hari yang penuh perhitungan, ia tetap hadir di kelas, tetap mengerjakan tugas, tetap menjaga ritme perkuliahan yang terus berputar. Bukan karena semua itu mudah, melainkan karena ia tahu betul apa yang dipertaruhkan.

"Kalau saya pribadi, keterbatasan keuangan nggak mempengaruhi pengerjaan tugas," ujarnya. Ada tekad yang berbicara dari balik kata-kata itu bahwa kesulitan boleh datang, tapi tidak boleh ikut masuk ke dalam ruang belajar dan mengambil alih.

Sebagai penerima KIP Kuliah, Nur memahami bahwa nilai bukan sekadar angka yang tercetak di lembar transkrip. Ia adalah tali yang menghubungkan hari ini dengan hari-hari berikutnya. Di kampusnya, penurunan IPK bisa berdampak langsung pada kelanjutan beasiswa yang selama ini menopang seluruh hidupnya.

Konsekuensi itu tidak pernah jauh dari pikirannya  bahkan di momen-momen paling lelah sekalipun. "Kalau IPK turun, itu bisa berpengaruh ke beasiswa yang kita dapat. Kalau kurang dari batas tertentu, beasiswanya bisa saja dicabut," katanya. Kalimat itu bukan sekadar informasi ia adalah pengingat yang selalu ia bawa, diam-diam, ke setiap kelas yang ia masuki. 

Maka ia hadir. Bukan sekadar hadir secara fisik, duduk di bangku dan mendengarkan. Ia hadir dengan sungguh-sungguh mencatat, bertanya, mengumpulkan tugas tepat waktu, dan memastikan tidak ada celah yang membiarkan kesempatan ini luruh sia-sia.

Di tengah segala keterbatasan, menjaga performa akademik adalah bentuk perjuangan yang paling nyata yang bisa ia lakukan sekaligus cara paling konkret untuk memastikan pintu pendidikan itu tidak tertutup sebelum waktunya.

Tapi ada alasan lain yang tumbuh lebih dalam dari sekadar takut kehilangan beasiswa. Ada rasa tanggung jawab yang tidak tertulis di mana pun, namun selalu terasa.

"Saya kan mahasiswa KIP Kuliah, nah menurut saya mendapatkan KIP Kuliah ini berarti saya harus menjalankan kewajiban saya sebagai mahasiswa, karena saya telah diberikan sebuah beasiswa dari negara untuk bisa belajar dan mengembangkan diri, kompetensi saya di kelas," ujarnya.

Negara telah mempercayakan sesuatu kepadanya,  bukan hanya uang, tapi kesempatan. Dan kesempatan itu, baginya terlalu berharga untuk dijalani dengan setengah hati.

Maka ia terus berjalan, satu semester demi satu semester, membawa beban yang tidak ringan tapi juga membawa keyakinan bahwa semua ini sedang menuju ke suatu tempat yang layak untuk diperjuangkan.
Dorongan itu tidak selalu datang dalam bentuk ambisi yang berkobar.

Kadang ia hadir dengan lebih tenang seperti bisikan yang mengingatkan bahwa tidak semua orang mendapat giliran yang sama untuk duduk di ruang kuliah, memegang buku, dan bermimpi dengan leluasa.

Kesadaran itulah yang membuat setiap kelas terasa lebih dari sekadar kewajiban, setiap tugas lebih dari sekadar beban, dan setiap langkah kecil terasa seperti sesuatu yang harus dijaga dengan sepenuh hati.

Di luar dirinya, ia melihat bahwa setiap mahasiswa membawa ceritanya sendiri. Ada yang berjibaku mempertahankan nilai agar bantuan yang diterima tidak dicabut di tengah jalan. Ada pula yang harus membagi dirinya menjadi dua separuh untuk bangku kuliah, separuh lagi untuk pekerjaan yang menanti setelah kelas usai. Masing-masing berjalan di jalurnya, masing-masing menanggung beratnya sendiri.

Namun di balik semua perbedaan itu, ada satu pertanyaan yang diam-diam menghantui hampir semua dari mereka. bagaimana caranya agar urusan perut dan urusan pikiran tidak saling berebut ruang?.

Bagaimana menjaga agar kecemasan tentang hari esok tidak ikut duduk di bangku kuliah, tidak ikut membaca buku, tidak ikut menggerus mimpi yang sedang dengan susah payah dibangun.

Maka Nur membangun caranya sendiri untuk bertahan, bukan dengan cara yang rumit, melainkan dengan kebiasaan kecil yang dilakukan sejak awal yaitu memilah, memprioritaskan, dan mencoba membaca apa yang belum datang. Sejak beasiswa cair, uang itu tidak dibiarkan mengalir begitu saja. Ia dipetakan, diarahkan, diberi tujuan.

"Kalau saya dapat uang itu untuk belajar, berarti uang itu saya gunakan buat belajar dan kebutuhan kuliah," ujarnya. sederhana, tapi di balik kesederhanaan itu ada disiplin yang tidak mudah dijaga.

Dan ketika ada kebutuhan besar yang sudah bisa diprediksi misalnya pembayaran TOEFL, keperluan perkuliahan yang memakan biaya tidak sedikit  ia tidak menunggu. Sejak beasiswa cair, sejumlah uang langsung disisihkan, disimpan terpisah seolah sudah memiliki nama dan alamatnya sendiri.

"Jangan sampai uang itu kepakai buat yang lain," katanya. Bukan pelit, bukan kikir melainkan sebuah cara menjaga agar impian yang sedang dibangun tidak runtuh hanya karena lupa bersiap.

Mengatur uang, pada akhirnya, bukan semata soal angka. Ia adalah seni membaca waktu mengenali kebutuhan yang belum datang, menyiapkan diri sebelum gelombang benar-benar tiba.

Strategi bertahan tidak selalu lahir dari rencana besar; kadang ia tumbuh dari keputusan-keputusan kecil yang dibuat diam-diam, jauh sebelum keadaan memaksa. Dan ia tahu betul bahwa setiap mahasiswa menemukan jalannya sendiri ada yang mencari penghasilan tambahan, berjualan, mengajar, atau mengambil pekerjaan di sela-sela jadwal kuliah yang padat.

Tapi jalan itu tidak selalu terbuka lebar untuk semua orang. "Kalau aku mah bukan orang pebisnis," katanya sambil tertawa kecil. "Bukannya nambah tenang, yang ada malah tambah pusing sendiri." Ia menyaksikan beberapa temannya mencoba menjalani dua peran sekaligus mengajar di sekolah dasar di pagi hari, lalu duduk kembali sebagai mahasiswa di siang harinya.

Dua dunia yang berjalan beriringan, meski tidak selalu dengan mudah. Ia mengagumi itu, tapi ia juga jujur pada dirinya sendiri: untuk saat ini, itu bukan jalannya.

Dan mungkin memang tidak perlu ada satu jalan yang sama untuk semua orang. Ada yang bertahan dengan memperketat, ada yang bertahan dengan menambah, ada pula yang masih meraba-raba di antara keduanya. Yang pasti, di ujung semua pilihan itu, ada satu benang yang sama sebuah keinginan sederhana namun tidak mudah.

Agar mimpi yang dibawa jauh dari rumah tidak harus gugur hanya karena kantong yang tak selalu penuh. Bahwa kuliah, dengan segala harga yang harus dibayar, tetap layak untuk diselesaikan sampai akhir, sampai tuntas, sampai benar-benar selesai.


Oleh :  Hilda Nurul Ajizah Fauziah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung, Tarbiyah dan Keguruan, Tadris Bahasa Indonesia. 
Editor. Tim Redaksi

Sy. Apero Fublic

Via Esai
Facebook
Twitter
Telegram
WhatsApp
Older Posts
Newer Posts

You may like these posts

Post a Comment

Post Populer

BULETIN APERO FUBLIC

BULETIN APERO FUBLIC

Translate

Search This Blog

Stay Conneted

facebook Like
twitter Follow
youtube Subscribe
vimeo Subscribe
instagram Follow
rss Subscribe

Featured Post

Peluang Usaha dan Model Bisnis : Mengapa Bisnis Online Menjadi Pilihan Menarik Bagi Generasi Muda?

PT. Media Apero Fublic- Thursday, June 04, 2026 0
Peluang Usaha dan Model Bisnis : Mengapa Bisnis Online Menjadi Pilihan Menarik Bagi Generasi Muda?
APERO FUBLIC  I  OPINI .-  Saat ini semakin banyak anak muda yang tertarik menjalankan bisnis online. Fenomena tersebut dapat dengan mudah kita li…

Most Popular

Powered by Blogger
Apero Fublic

Website Archive

  • 20261031
  • 20251139
  • 2024203
  • 2023142
  • 2022103
  • 2021365
  • 2020435
  • 2019282

MAJALAH KAGHAS

MAJALAH KAGHAS

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

JURNAL APERO FUBLIC. HUMANIORA

TABLOID APERO FUBLIC

TABLOID APERO FUBLIC

SELAK MAJO

SELAK MAJO
Karikatur

Labels

Aceh Aceh Besar Aceh Tamiang Aceh Utara Alor Amerika Serikat Anambas Andai-Andai Angkat Besi Antropologi APERO FUBLIC Apero Herbal Apero Popularity Arkeologi Artikel Asahan Atambua BABEL Badan Pemerintah Bahasa Bali Bandung Bangka Barat Bangka Belitung Bangkinang Banjarmasin Banjarnegara Banten Bantul Banyuasin Batam Batang Batu Bara Batusangkar Baubau Bawaslu Bekasi Beladiri Belanda Belu Bencana Bener Meriah Bengkayang Bengkulu Bengkulu Selatan BENGSEL Berita Berita Daerah Berita Internasional Berita Nasional Betul Daerah Binjai Biologi Biruisme Bisnis Blitar BNN Bogor Bola BOLMONGUT BOLTARA Bosnia Boven Digoel Brand Brazil Budaya Budaya Daerah Budaya Dunia Buku Populer Buletin AF Bulungan Cerita Bersambung Cerita Kita Cerita Rakyat Cerpen Ciamis Cililin Cina Dairi Daratan dan Hutan Deli Serdang Depok Dompu Dongeng Dongeng Dunia DPD RI DPR DPR RI DPRD Dunia Anak e-Biografi e-Biografi Tokoh Ekonomi Ekonomi Islam Elektronik Energi Esai Event FASHION Fauna Feature Film Filsafat Flora Flores Fotografi Gatget Gunungsitoli Healthy & Fitness Himpunan Muslim HSS HST Hukum Hukum Islam Ibu dan Anak Ideologi Ilmu Kesastraan Indragiri Hulu Iran Islam dan Budaya Islam dan Lingkungan Hidup Islam dan Masyarakat Islam dan Negara Islam dan Sosial JABAR Jakarta JAKARTA Jambi JATENG JATIM Jatinangor Jembrana Jepang Jurnal AF Jurnalisme Kita Jurnalistik Kabar Buku Kabar Desa KALBAR KALSEL KALTARA KALTENG KALTIM Kampar Kampus Kampuu Kanada Kapolri Karo Kata Mutiara Katolik Kebudayaan Keislaman Kekristenan Kepahiang Kepemimpinan Kerinci Kesehatan Kesehatan dan Pendidikan Wanita Kesenian Ketapang Keuangan Kimia Kisah Legenda KKN Kolaka Konawe Selatan Korupsi Kota Kota Bengkulu Kriminal Kuansing Kubu Raya Kuliner Kupang Labuhan Bajo Labuhan Batu LABURA Lahat Lamandau Lampung Lampung Tengah Langkat Laporan Penelitian Lebak Lebong Lembata Lewoleba Lingkungan Lingkungan Hidup Lombok Lowongan Kerja Lubuk Linggau Lubuk Pakam Magang Mahasiswa Mahasiswi Majalah Kaghas Makassar Malang Malaysia Mappi Marinir Mask Mataram Medan Media Sosial Mempawah Menembak Meranti Merauke Militer Mitos Mojokerto Morowali Morut Muara Enim Muaro Jambi MUBA Muratara Musi Rawas Musik Nasional NTB NTT Ogan Ilir OKI OKU OKU Selatan OKU Timur Olahraga Opini Ormas Otomotif Padang Padang Lawas Padang Panjang Pagaruyung Pakpak Bharat Palangkaraya Palembang Palu Pamulang Panjat Tebing Pantun Papua Papua Barat Daya Papua Selatan Papua Tengah Parigi Moutong Pariwisata Partai Pasaman Pasaman Barat Pasuruan PDF Pekanbaru Pemerintah Pemerintahan Pendape Pendidikan Penyakit Masyarakat Perancis Perkebunan Perpustakaan Pertanian Pertanian dan Alam Pesisir Selatan Pinrang PKM Politik Pontianak Populer Bisnis Populer Iklan Populer Produk Populer Profesi PPKn PPL Prabumulih PraLeader Problematika Seks Propaganda Psikologi Public Figure Puisi Puisi Akrostik Purworejo Pustakawan PWI PWI SumSel Redaksi AF Renang Riau Rote Ndao Samarinda Samosir Sampah dan Limbah Sastra Kita Sastra Klasik Sastra Lisan Sastra Moderen SDA Sejarah Sejarah Daerah Sejarah Islam Sejarah Kebudayaan Sejarah Umum Sekayu Semarang Senam Seniman Sepak Bola Sepeda Listrik Sepeda Motor Serang Seruyan Sibolga Sidoarjo Sijunjung Silat Simalungun Singapura Skil Wanita SMA Smart TV Solok Sorong Sosial Masyarakat Sosiologi Sport Suara Rakyat Sudut Pandang Sukabumi Sukamara SULSEL SULTENG SULTENGRA SULTRA Sumba Sumba Barat SUMBAR Sumber Air Sumedang SUMSEL SUMUT Sungai Surabaya Surat Kita Syarce Tablet Tabloid AF Tamiang Tanah Datar Tangerang Tanjab Barat Tanjung Selor Tapanuli Tapanuli Utara TAPANUSEL TAPTENG Tebing Tinggi Teknologi Temanggung Tenaga Kerja TNI TNI AD TNI AL TNI Angkatan Laut TNI AU Tokoh Tokoh Wanita Tradisi Transportasi TTU UKM-Bisnis Video Women World Yogyakarta

Laman Khusus

  • Cahaya
  • Daftar Kata Istilah Baru
  • e-Galeri Apero Fublic
  • Mari Kita Hijrah
  • Nasihat dan Motivasi
  • Apero Quote
  • Pribahasa Indonesia
  • Picture Indonesia
  • Pangeran Ilalang I
  • Pangeran Ilalang II

Pages

  • Pecakapan Sunset Sunrise
  • Flora Pangan Indonesia
  • Fauna Indonesia
  • Dawnload PDF Gratis
  • Dawnload Feature Gratis (PDF)

Recent Posts

Popular Posts


Editor Post


Popular Post


Populart Categoris

Andai-Andai 3 Artikel 64 Berita 1596 Berita Daerah 1583 Berita Internasional 36 Berita Nasional 1192 Brand 117 Budaya Daerah 37 Cerita Bersambung 20 Cerita Kita 53 Cerita Rakyat 12 Cerpen 23 Dongeng 67 Ekonomi 69 Elektronik 21 FASHION 13 Fauna 4 Flora 65 Healthy & Fitness 15 Ibu dan Anak 10 Islam dan Budaya 11 Islam dan Lingkungan Hidup 7 Islam dan Masyarakat 4 Jurnalisme Kita 19 Kampus 670 Kesehatan 36 Kisah Legenda 10 Kuliner 30 Mitos 15 Opini 545 PDF 3 Pantun 6 Pariwisata 45 Penyakit Masyarakat 6 Problematika Seks 6 Puisi 57 Puisi Akrostik 5 Sampah dan Limbah 2 Sastra Kita 42 Sastra Klasik 54 Sastra Lisan 15 Sejarah Daerah 24 Sejarah Kebudayaan 29 Sepeda Listrik 15 Sport 2 Surat Kita 8 Tablet 20 Teknologi 182 Tokoh Wanita 11 UKM-Bisnis 33 Video 20 Women 4 World 3 e-Biografi Tokoh 23
APERO FUBLIC

About Us

PT. Media Apero Fublic merupakan perusahaan Publikasi dan Informasi yang bergerak dalam bidang Industri Kesusastraan. Apero Fublic merupakan bidang usaha utama bidang jurnalistik.

Contact us: fublicapero@gmail.com

Follow Us

© Copyright 2023. PT. Media Apero Fublic by Apero Fublic
  • Disclaimer
  • Tentang Apero Fublic
  • Advertisement
  • Contact Us