Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Sejarah
Sejarah Umum
Hitam Putih 1965: Luka Sejarah yang Tak Pernah Benar-Benar Sembuh
APERO FUBLIC I MAHASISWA.- Di balik foto-foto hitam putih yang tersimpan di arsip negara, tahun 1965 bukan sekadar deretan tanggal, melainkan awal dari salah satu bab paling kelam dalam sejarah Indonesia.
Peristiwa 1965 menjadi titik balik besar dalam perjalanan bangsa. Kudeta yang dituduhkan kepada Gerakan 30 September (G30S) tidak hanya mengguncang stabilitas politik, tetapi juga membuka jalan bagi gelombang kekerasan massal, penangkapan tanpa proses hukum, dan perubahan kekuasaan yang berlangsung selama puluhan tahun.
Dalam rentang waktu singkat, ratusan ribu orang ditangkap, dipenjara, diasingkan, bahkan kehilangan nyawa. Mereka yang dituduh terlibat—baik secara langsung maupun tidak—sering kali tidak pernah mendapatkan kesempatan membela diri. Stigma politik melekat hingga ke anak-cucu, membentuk trauma kolektif yang masih terasa hingga kini.
Namun, sejarah 1965 tidak pernah benar-benar hitam atau putih. Versi resmi negara selama bertahun-tahun mendominasi narasi publik, sementara suara para penyintas baru perlahan muncul ke permukaan setelah era reformasi.
Kesaksian mereka menghadirkan sisi lain: kisah tentang keluarga yang tercerai-berai, identitas yang dirampas, dan kehidupan yang terhenti oleh satu label politik.
Upaya pengungkapan kebenaran terus dilakukan oleh akademisi, aktivis HAM, dan jurnalis. Diskusi, buku, film dokumenter, hingga penelitian arsip internasional mencoba merangkai potongan-potongan sejarah yang selama ini terputus. Meski demikian, rekonsiliasi masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa.
Peringatan tahun 1965 seharusnya tidak berhenti pada perdebatan ideologi atau saling menyalahkan. Lebih dari itu, sejarah ini menjadi pengingat tentang rapuhnya kemanusiaan ketika kekuasaan, ketakutan, dan propaganda bertemu dalam satu waktu.
Enam dekade berlalu, peristiwa 1965 tetap hidup dalam ingatan nasional. Hitam dan putihnya sejarah mungkin tak pernah sepenuhnya terpisah, tetapi keberanian untuk mengingat dan memahami adalah langkah awal agar tragedi serupa tak terulang kembali.
PENULIS: ILHAM
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Kebangsaan Republik Indonesia.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment