7/20/2021

Mengenal Minanga: Wilayah Asal Dapunta Hyang Jaya Naga Maha Datu Kedatuan Sriwijaya.

APERO FUBLIC.- Minanga dalam pembahasan ini adalah suatu kawasan wilayah yang terletak di Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Namun sekarang dalam administrasi ditulis dengan Menanga. Di tahun 2002 wilayah Minanga terdiri dari dua desa, Menanga Tengah dan Menanga Besar. Desa Menanga Tengah atau Minanga Tengah terletak di daerah rawa-rawa dataran rendah.

Selain pada prasasti Kedukan Bukit di Seguntang, nama Minanga sebagai nama wilayah juga tercatat secara resmi semasa Kesultanan Palembang Darussalam. Minanga mengadakan perjanjian dengan Ratu Sinuhun yang dibuktikan piagam lempengan tembaga tentang batas-batas wilayah Marga Minanga dengan aksara Arab Melayu. Piagam tersebut tersimpan sebagai dokumen Marga Semendaway Suku III. Minanga kemudian setelah terbentuk Negara Indonesia ditulis dalam administrasi dengan Menanga. Sementara masyarakat disana sampai sekarang masih menyebutnya dengan, Minanga.

Ada hal-hal menarik dalam nama-nama tradisional yang masih digunakan atau dikenal masyarakat di sana. Seperti adanya suatu tempat yang sekarang sudah menjadi ladang pertanian yang bernama “Talang Pasar Melaka.” Seperti Kampung Datu (Kampung Ratu) kemungkinan menggambarkan suatu pemukiman bangsawan di Minanga. Kampung Balak, dimana kata Balak berasal dari kata Bala yang berarti prajurit atau laskar. Kampung Taman Sari yang berarti tempat pemandian putri Datu. Kampung Kinawor, kata kinawor berasal dari kata Kawor dengan sisipan in yang bermakna tempat yang menarik (taman). Di duga tempat dimana putra-putri datu beristirahat dan bersantai.

Dalam perjalanan sejarah tersisa sebuah perkampungan yang bernama Minanga. Minanga berkembang menjadi dua desa, yaitu Menanga Besar dan Menanga Tengah. Masuk administrasi Kecamatan Semendawai Barat, Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur, Provinsi Sumatera Selatan. Nama Minanga atau yang ditulis sekarang Menanga bukan berarti tempat tersebut sebagai Kota Sriwijaya pertama. Tapi secara budaya dan bahasa dengan penggunaan nama Minanga (Menanga) memberikan gambaran jejak-jejak Minanga dimana Dapunta Hyiang Jaya Naga berangkat dan menuju Muka Upang (Bukit Seguntang) lalu membuat wanua sebagaimana terpahat pada prasasti kedukan bukit. Mengingat kawasan sekitar tersebut terletak di tepi laut semasa ribuan tahun lalu. Mungkin Minanga tersebut ada kaitannya dengan Minanga di prasasti Kedukaan Bukit. Perkembangan pemakaian nama Minanga sekarang seperti pada nama-nama perusahaan diantaranya perusahaan perkebunan kelapa sawit PT. Perkebunan Minanga Ogan.

Bagaimana lokasi Minanga yang dahulu di tepi pantai timur Sumatera Selatan hilang. Proses alam jawabnya, mulai dari pengikisan tanah dan lumpur yang di bawa oleh air hujan dan arus sungai dan arus banjir. Waktu demi waktu pengikisan tanah dari Bukit Barisan terus mengalir dan mengendap ke arah selat Bangka. Kemudian tercipta rawa-rawa dan hutan bakau. Kalau kita perhatikan hampir sebagian besar wilayah pantai timur Sumatera Selatan adalah dataran renda. Kawasan itu, terdiri dari paya-paya yang memanjang, rawa-rawa, hutan bakau, lebung, sungai-sungai dengan tanah berpasir putih dan hitam. Ciri demikian sampai ke pesisir pantai selat Bangka.

Menurut penelitian paleogeografi, teluk dimana Minanga terletak di dekat Sungai Komering bermuara, terus menjauh dari pesisir laut purba Sumatera Selatan. Tanah dan lumpur yang dibawa oleh arus Sungai Komering, dan tanah pengikisan bukit Barisan membuat pendangkalan dan tercipta dataran rendah yang berlumpur subur. Perlahan ditumbuhi pepohonan dan tercipta lahan gambut dan rawa-rawa.

Menurut analisis paleogeografi pantai timur Sumatera Selatan diperkirakan bergeser 125 meter dalam setahun. Tentu tidak semua bergeser demikian, tergantung pada arus sungai dan banyaknya bukit. Kalau pesisir pantai tidak begitu dekat dengan perbukitan tentu pergeseran juga tidak terlalu cepat. Pada laut dangkal pembentukan daratan baru oleh pengikisan tanah adalah biasa. Bukan hanya di pesisir pantai timur  Sumatera Selatan, tapi juga pada pesisir pantai laut dangkal lainnya di dunia. Berbeda dengan pesisir lautan aktif dimana ombak besar selalu bergerak. Justru sebaliknya akan terjadi abrasi dan tenggelam secara perlahan.

Sebagai eksperimen Anda dapat memperhatikan sebuah lembah bukit. Lalu dibawahnya ada sebuah penampungan air. Perhatikan saja, dimana waktu demi waktu penampungan air terus mendangkal tertimbun lumpur. Atau kamu perhatikan kanal-kanal di perkotaan, dimana selalu penuh oleh lumpur dalam kurun waktu beberapa tahun. Atau kamu memperhatikan sebuah muara sungai di sebuah sungai. Kamu akan menemukan adanya endapan tanah lumpur yang terbawa arus sungai. Sepertinya, penelitian arkeologis dan studi bahasa dan budaya yang mendalam perlu dilakukan di kawasan yang diduga adan pemukiman awal Kedatuan Sriwijaya perlu dilakukan secara serius.

Dikutif dari Kompas (9/10/2019) dimana masyarakat Kecamatan Cengal, Kabupaten Ogan Komering Ilir, melakukan perburuan harta karun yang diduga peninggalan masyarakat masa Kedatuan Sriwijaya. Hal-hal yang mereka temukan di lahan gambut tersebut, seperti keramik, guci, kendi dan butiran emas. Selain itu, kebakaran lahan gambut yang dulunya adalah laut purba juga tidak mustahil menghancurkan material arkeologis peninggalan kedatuan Sriwijaya. Dalam hal ini, Minanga di Sumatera Selatan belum diperhatikan oleh peneliti sebagai tempat asal Kedatuan Sriwijaya dan sebagai tanah kelahiran Maha Datu Kedatuan Sriwijaya, Dapunta Hyang Jaya Naga.

Alasan Pendukung Teori Minanga Ogan Komering Ulu Timur, Sumatera Selatan.

1.Kabar I-Tsing.

Menurut kesaksian I-tsing Kota Sriwijaya yang dia singgahi dalam pelayaran pertama berada di muara sungai dan di tepi pantai. Hal demikian sesuai dengan posisi Minanga yang berada di muara Sungai Komering dan pantai. I-tsing menyebut nama tempat singgah dengan nama Fo-shih.  Kalau kita sebut Minanga di Jambi di sekitar candi Muara Takus. Maka hal tersebut bertentangan dengan prasasti kedukan bukit tahun 683 M. Dimana Dapunta Hyang baru datang dan membuat wanua.

Bertentangan juga dengan penjelaskan I-tsing dimana dia terlebih dahulu singga di Fo-shih, lalu barlayar menuju Moloyu di Jambi. Kemudian dia pergi ke India, saat pulang dia mendapati Melayu sudah menjadi bagian dari Shi-li-fo-shih. Itu menunjukkan kalau Melayu adalah wilayah lain dari Sriwijaya. Fo-shih sebutan singkatan I-tsing untuk Shi-li-fo-shih atau Sriwijaya.

2. Rekonstruksi Tahun dan Prasasti Kedukan Bukit.

Palembang pada awalnya sebuah tanjung berbukit yang dikenal dengan Bukit Seguntang. Dapunta Hyang dari Minanga datang ke Bukit Seguntang (Muka Upang) membawa 20 ribu orang, 200 peti, dan sebanyak 1312 prajurinya berjalan kaki dari darat. Lalu dia mendirikan wanua atau tempat kediaman baru dan lengkap dengan barak-barak prajuritnya di Muka Upang.

Sebagaimana dikabarkan I-tsing kalau Melayu (Jambi) telah bersatu dengan Sriwijaya saat dia pulang dari India. Maka tidak mungkin kalau Minanga asal Dapunta Hyang di Jambi (sekitar candi muara takus) pergi bersama pasukannya ke Seguntang (Palembang) kemudian pulang ke Melayu lagi lalu menaklukkan Melayu (Jambi). Dengan Demikian Minanga di Jambi tertolak sebagai tempat asal Datu Dapunta Hyang bertolak membawa 20 ribu pasukannya.

Palembang bukan kota pertama Kedatuan Sriwijaya, sebab pada tahun 671 M Fo-Shih (singkatan dari Shih-li-fo-shih) sudah dikunjungi I-Tsing. Tahun 683 M (605 Saka) Dapunta Hyang baru melakukan ekspedisi ke Bukit Seguntang dan membuat wanua sebagamana tertulis pada prasasti Kedukan Bukit. I-tsing tinggal di India selama 10 tahun (675-685). Saat pulang dia singga di Melayu (Jambi) lagi dan mendapati Melayu sudah menjad bagian dari Shih-li-fo-shih (fo-shih). Berarti antara satu sampai tiga tahun Melayu diatklukkan oleh Dapunta Hyang setelah mereka tiba di Bukit Seguntang.

3.Bahasa Melayu Kuno Sumatera Selatan (Seminung).

Selain itu, pendukung teori Minanga di Sumatera Selatan adalah bahasa-bahasa yang digunakan oleh prasasti-prasasti peninggalan Sriwijaya yang berbahasa Melayu Kuno. Masih memiliki kemiripan dengan kosa kata yang digunakan masyarakat Sumatera Selatan, terutama masyarakat Melayu Seminung. Seperti kata Wanua yang berarti tempat tinggal, daerah atau sejenisnya. Kata Wanua masih digunakan masyarakat Seminung (Komering, Daya, ranau, Lampung) dengan istilah tempat tinggal, “Nua.” Tambahan awalan Wa dalam prasasti berarti sedang melakukan, atau sama dengan beb ing dalam bahasa Inggris, menjadi wanua.

Selain itu, gelang Hyang atau Pu-Hiyang masih digunakan oleh masyarakat di Sumaetra Selatan. Pu bermakna orang yang dihormati disuatu tempat, sedangkan hyiang bermakna terhormat, tinggi dan mulia (Dewa, pemimpin). Di Sumatera Selatan banyak tempat-tempat keramat dengan gelar Puyang (pu-hyang) dalam penyebutan awam. Tempat keramat atau legenda-legenda orang sakti dan dihormati selalu di gelari Pu-hyang atau puyang. Diantarnya legenda Puyang Burung Jauh, Puyang Dulu, Puyang Tengah Lama, Puyang Depati, dan lainnya.

Kosa kata yang terdapat pada Prasasti Sriwijaya yang menggunaka bahasa Melayu kuno Sumatera Selatan rumpun Seminung diantaranya, "Talu" bermakna kalah atau tunduk. Mulam-Mulang berarti kembali. Dalam bahasa Sekayu disebut Ngulang juga berarti kembali. Awai, dalam bahasa Indonesia berarti memanggil. Dalam bahasa Sekayu Ngawai juga cara memanggil. Hal demikian menandakan kosa kata bahasa sangat mendukung asal usul dari masyarakat Sriwijaya. Masih banyak kosa-kata yang sama namun tidak dimuat dalam artikel ini.

Selain itu, banyak juga nama-nama orang pada makam tua di Minanga yang memberikan isyarakat sebagai cikal bakal gelar Melayu. Seperti makan yang bernama dengan gelar Tan. Seperti, Tan Junjungan, Tan Adi, Tan Mandiga, Tan Salela, Tan Robkum, Tan Hyang Agung, Tan Aji, Tan Minak Batara, Tan Mahadum. Kita juga menemukan nama bergelar Tan pada prasasti telaga batu, Tan Drun Luwah.

Gelar tersebut berkembang dan meluas di Kawasan Jazira Melayu. Tan masih dipakai di Malaysia, seperti Tan Sri. Kemudian ada Tun, lalu berkembang menjadi Tuan, Tengku, danTeuku. Gelar Datu sepajang masa hegemoni Kedatuan Sriwijaya semua raja-raja di Nusantara bergelar Datu. Hal demikian dapat ditelusuri dari naskah-naskah kelasik dan cerita-cerita hikayat lama. Namun sayangnya para penerjemah mengganti kata Datu dengan Raja. Sehingga gelar Datu tidak dikenal oleh generasi muda Nusantara (Melayu). Datu juga berkembang menjadi gelar kehormatan, Datuk. Kata Datun termuat dalam hikayat masyarakat Lombok, yang berarti Ratu. Datu dan Datun gelar raja dan ratu asli Nusantara.

Bahasa-bahasa tersebut cukuplah sebagai penguat pengaruh bahasa Melayu dari Sumatera Selatan sebagai Induk kebudayaan dan Bahasa Melayu (Indonesia) di Nusantara. Menjelaskan kawasan asal muasal kelahiran Kedatuan Sriwijaya.

4. Geografis.

Alasan keemapat adalah alasan geografis, sesuai keterangan prasasti kedukan bukit sebanyak 1312 prajurit berjalan kaki. Maka dari Minanga harus dapat ditempu dengan berjalan kaki dari daratan. Perjalanan juga harus tidak lebih lama dari 28 hari sebab mereka bersama membuat wanua di Muka Upang (Bukit Seguntang) pada bulan Asada tahun 605 Saka.

I-tsing mengabarkan kalau Fo-shih terletak di muara sungai dan di dekat pantai. Dalam peta purba pesisir pantai timur Pulau Sumatera tampak sungai-sungai tersebut bermuara di tempat yang berbeda dengan lokasi-lokasi wilayah sekarang (2021), seperti Palembang dan Jambi.

Peta Purba Pantai Timur Jambi dan Palembang (Obdeyen 1942). Di gambar oleh Akmaluddin, SE. (Pra Seminar Sriwijaya 1978:62).

Jambi terletak di suatu tanjung atau teluk dan dikelilingi laut. Sungai Batanghari masih bermuara di sekitar Muara Tembesi. Palembang di tanjung Bukit Seguntang dikelilingi laut. Sungai Musi masih bermuara di terusan di pertemuan Sungai Rawas dan Sungai Lakitan. Sungai Ogan masih bermuarah di Muara Kuang. Sungai Lematang masih bermuara di sekitar Prabumuli atau Pendopo. Sungai Komering bermuara di Minanga di dalam sebuah teluk.

Dari semua keterangan tersebut menjelaskan hanya Minanga di Sumatera Selatan yang sesua dengan Minanga di Prasasti Kedukan Bukit dan kabar dari I-tsing. Menurut keterangan paleogeografi dari penelitian Dinas Purbakala 1954. Untuk Minanga yang di daerah lain kemungkinan pengaruh dari taklukan oleh Sriwijaya. Sebagaimana kebiasaan manusia saat pindah ke suatu tempat membawa nama tempat asalnya, lalu dinamakan pada daerah yang baru mereka diami. Misalnya Kampung Melayu dimana dikampung tersebut dihuni oleh orang-orang Melayu.

Oleh. Joni Apero.
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 19 Juli 2021.
Sumber: Arian Ismail. Periodisasi Sejarah Sriwijaya: Bermula di Minanga Komering Ulu Sumatera Selatan, Berjaya di Palembang, Berakhir di Jambi. Palembang: Unanti Press, 2002. Sumber Peta: Peta Pantai Timur Sumatera Selatan Purba. Hasil Penelitian Dinas Purbakala 1954 dan Lampiran Kongres Ilmu Pengetahuan Nasional I-1958. Digambar Ulang Oleh Akmaluddin, SE.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment