7/20/2021

Teori Rekonstruksi Nama Sungai Komering dan Suku Komering.

APERO FUBLIC.- Nama-nama tempat atau sesuatu kawasan pada masyarakat zaman dulu terbentuk tanpa disadari oleh masyarakat setempat. Sangat jarang sekali masyarakat menamakan nama tempat tinggal atau nama sesuatu di sekitar mereka secara langsung, kecuali benda alat kehidupan dan nama anak-anak mereka. Nama-nama yang bersifat bukan milik pribadi terbentuk tanpa sengaja dan berlangsung dalam kurun waktu cukup lama. Selain itu, nama tempat atau nama kawasan alam sekitar mereka diambil dari nama-nama hal-hal yang dominan atau hal yang banyak dan terkenal.

Sebagai contoh misalnya nama Desa Gajah Mati di Musi Banyuasin yang awalnya hanyalah sebuah pemukiman biasa tanpa nama, diistilahkan dengan talang. Suatu ketika penduduk setempat menemukan bangkai gajah di dalam sebuah sungai kecil disekitar pemukiman (talang) mereka. Lalu berceritalah mereka pada warga lain kalau menemukan seekor gaja mati di dalam sungai kecil di tepi talang mereka. Sehingga semuanya tahu kalau ada gajah yang mati di sungai tersebut.

Sungai kecil belum ada namanya, selain itu banyak juga sungai-sungai lainnya. Maka saat berkomunikasi satu sama lain yang merujuk ke sungai yang di temukan adanya gajah mati. Maka penjelasan mereka selalu menyebut gajah mati. Misalnya dalam percakapan mereka seorang ibu-ibu yang mandi di sungai tersebut. “Ayo mandi di sungai,?” Kemudian yang satunya menjawab. “Sungai mana?.” Sebab memang banyak sungai-sungai di sekitar pemukiman mereka. “Mandi di sungai yang ada gajah mati dulu.” Jawab dan jelas ibu itu. Dengan disebut sungai yang ada gajah mati tersebut, yang lain jadi mengerti.

Begitulah selanjutnya dalam percakapan sehari-hari penduduk. Dalam hal mandi, memancing, memasang bubu, tempat berladang, menandai tempat adanya sesuatu yang berharga, selalu mengidentitaskan sungai tersebut dengan adanya gajah mati. Lama kelamaan penjelasan dan identitas adanya gajah mati menjadikan nama sungai kecil tersebut dengan nama Sungai Gajah Mati.

Manusia makhluk sosial, tentu mereka menjalin interaksi sosial dengan masyarakat lain. Masyarakat tersebut pun keluar dari pemukiman mereka, berinteraksi dengan masyarakat lain. Semisalnya belajar, tukar informasi, berdagang atau membeli sesuatu ke daerah lain. Mereka menjelaskan kalau pemukiman mereka terletak di dekat Sungai Gajah Mati. “Kalian dari mana?.” Lalu menjawab, “Kami dari Talang yang terletak di dekat Sungai Gajah Mati.” Lama kelamaan Talang atau pemukiman mereka dikenal dengan nama Talang Gajah Mati, orang Gajah Mati, talang mereka di dekat Sungai Gajah Mati. Nama Gajah Mati terbentuk dengan sendirinya seiring waktu, dan sampai sekarang nama sungai dan nama pemukiman tetap Gajah Mati.

Rekonstruksi nama tradisional tersebut adalah gambaran dari nama-nama tempat tradisional dari zaman dahulu. Sebab itulah, salah satu nama asli suatu kawasan tradisional tidak bisa dijadikan istilah suku bangsa. Sebab nama tempat tradisional terbentuk secara lepas yang dipengaruh kehidupan sosial masyarakat setempat, alam, budaya dan bahasa. Identitas suku bangsa dapat diberikan kalau sudah memiliki ciri-ciri khas dari sisi kebudayaan tidak bersambung dan ras yang berbeda.

Berikut ini kita merekonstruksi nama Sungai Komering dan nama Suku Komering. Nama Sungai Komering diambil dari nama seorang saudagar buah pinang dari India. Saudagar buah pinang ini kemungkinan datang ke Minanga untuk membeli buah pinang. Namanya dikenal dengan, Komering Sing. Kemudian saudagar pinang ini meninggal dunia dan dimakamkan di hulu sebuah sungai yang belum bernama (Muara Dua). Kata Komering berasal dari bahasa India yang berarti Pinang. Komering Sing bisa jadi memiliki makna, Juragan Pinang. Perlu juga di ketahui kalau penyebutan sungai zaman dahulu kita orang-orang Melayu dengan istilah Bantanghari.

Van Royen menamakan masyarakat yang mendiami sepanjang aliran Sungai Komering tersebut dengan, Jelma Daya. Namun mengapa orang-orang menyebut mereka dengan orang komering atau suku Komering. Sebagaimana rekonstruksi nama tempat di atas, nama sungai Gajah Mati dan nama desa Gajah Mati. Masyarakat mengambil istilah penjelas dengan menyebut sesuatu yang dominan atau sesuatu yang dikenal luas oleh masyarakat setempat. Maka penjelas sungai besar di kawasan mereka sekaligus membedakan dari sungai-sungai lain dengan menyebut Makam Komering.

Sebagai contoh, “memancing ikan di mana?. “ Lalu menjawab, “Di sungai, tempatnya tidak jauh dari makan Komering.” Atau, “mandi di mana?. “Di sungai.” Sungai mana?.” Di sungai yang ada makam Komering?. “ Percakapan demikian terus berlanjut dari waktu ke waku. Masyarakat terus mengidentifikasi dan penjelas tentang sungai yang disisinya ada kuburan Komering Sing. Lama kelamaan, beranak pinak, menyebar dan terus demikian dalam hal percakapan mengenai sungai mereka yang tidak bernama itu. Maka terbentuklah nama sungai tersebut dengan nama Sungai Komering.

Lalu mereka juga meyebar ke wilayah lain dan berinteraksi dengan kelompok masyarakat Melayu lainnya di Sumatera Selatan atau sekitarnya. Mereka menjelaskan kalau tempat tinggal mereka di dekat sungai Komering atau Sungai yang disisinya ada kuburan orang terkenal dan kaya, yaitu Komering Sing (Saudagar Pinang). Maka orang mengerti dan tahu letaknya. Oleh sebab itu, mereka kemudian menamakan mereka dengan orang yang tinggal di dekat Sungai Komering. Agar mudah maka disebutlah orang  Komering saja. Lalu para penulis yang tidak tahu menahu tentang ilmu budaya, sejarah, dan bahasa menulis dengan istilah suku.

Maka terbentuklah nama suku, yaitu Suku Komering. Semasa Kesultanan dan Hindia Belanda masyarakat juga mengidentifikasi mereka dengan Orang Uluan. Karena mereka tinggal di hulu. Lalu merasa berbeda satu sama lain. Padahal mereka adalah satu kelompok masyarakat, yaitu Melayu. Perlu kita ketahui kalau istilah suku adalah istilah tradisional untuk menamakan suatu kawasan dimana sebuah kelompok masyarakat tinggal atau nama daerah secara tradisional.

Nama sungai, nama gunung, nama orang, tidak sesuai dan tidak benar dijadikan nama sebuah suku bangsa. Sepertinya kita perlu menafsirkan kembali arti dari suku tersebut?. Kita juga perlu kritisi kapan kata suku kita kenal dan siapa yang mengenalkannya?. Apakah ada motif politik atau motif pecah belah pada Bangsa Melayu Nusantara perlu dipertanyakan. Suku????.

Disusun: Tim Apero Fublic
Editor. Desti, S.Sos.
Tatafoto. Dadang Saputra.
Palembang, 21 Juli 2021.
Sumber: Arlan Ismail. Periodisasi Sejarah Sriwijaya: Bermula di Minanga Komering Ulu Sumatera Selatan, Berjaya di Palembang, Berakhir di Jambi. Palembang: Unanti Press, 2002. Sumber nama Gajah Mati: Berdasarkan rekonstruksi dari cerita-cerita tetua masyarakat di Desa Gajah Mati.

Sy. Apero Fublic.

0 komentar:

Post a Comment