7/03/2019

Penciptaan Lingkungan Positif pada Lingkungan Dunia Anak-anak

Apero Fublic.- Manusia adalah mahkluk sosial yang tidak dapat lepas dari lingkungan masyarakatnya. Kehidupan manusia tidak dapat berkembang apabila tidak memiliki lingkungan sosial. Baik itu perkembangan dari segi biologis atau kebudayaan.

Manusia adalah makhluk yang sangat kompleks dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya. Ditinjau dari bentuk fisik atau dari kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Begitupun dari pola perilaku, nalar, dan pemikirannnya. Kebutuhan kehidupan tersebut didapati dari interaksi dengan sesama manusia lainnya.

Baik manusia di dalam lingkungannya  (ingroup) atau dengan manusia di luar lingkungannya (outgroup). Lingkungan-lingkungan tersebut dinamakan dengan lingkungan sosial. Dari lingkungan sosial tersebut terjadilah proses belajar kebudayaan. Baik secara langsung dan tidak langsung.

Pembelajaran tersebut dimulai saat manusia tumbuh seiring waktu kehidupannya. Maka pengaruh lingkungan dimana anak tinggal akan menjadi bentuk dirinya dikemudian hari. Oleh karena itu, anak manusia memerlukan lingkungan yang baik untuk berkembang. Maka rekayasa lingkungan sosial dan lingkungan jiwa perlu dipelajari dan diterapkan.


Penciptaan lingkungan pada anak adalah, kita menghadirkan dunia yang menjadi interaksi anak tumbuh dan beraktifitas sesuai dengan norma kebaikan-kebaikan. Baik itu norma kebaikan dalam jangka pendek atau norma kebaikan jangka panjang.

Lingkungan yang dimaksud ada dua. Pertama, lingkungan sosial. Kedua lingkungan alam jiwanya. Lingkungan sosial adalah tempat dimana anak tersebut beraktifitas, seperti bermain, belajar, interaksi keadaan sekeliling tempat tinggal, orang-orang yang dia temui disetiap hari, dan tempat-tempat yang dia kunjungi.

Sedangkan lingkungan alam jiwa adalah hal-hal yang menjadi acuan dia berpikir dan bertindak. Baik jangka pendek dan jangka panjang. Seperti peniruannya terhadap perilaku orang terdekat. Dari sikap dan aktivitas ayah, ibu, kakak, keluarga dan kerabat, tetangga, guru, teman dan manusia lain.

Lingkungan jiwa bersifat ide atau cara pandang. Sehingga nantinya ide-ide tersebut tertanam dengan baik dalam pikiran anak. Karena lingkungan alam jiwa anak-anak, diibarat lahan subur yang tidak ada tanamannya. Sehingga benih apa saja yang jatuh akan tumbuh dengan baik.


Benih-benih yang dimaksud tersebut terdapat pada lingkungannya (sosial dan jiwa). Sedangkan para penanam benih tersebut adalah orang-orang terdekat, sekitar dan orang-orang dimana anak berinteraksi. Sebagai contoh, ketika seorang anak melihat ayahnya, kakaknya, pamannya, tetangganya merokok. Maka akan tertanam pemikiran merokok itu adalah hal biasa.

Seorang lelaki akan dianggap laki-laki ketika dia merekok. Maka merokok menjadi benih yang ditanam orang-orang tersebut didalam lingkungan jiwa anak-anak. Semakin besar dia tumbuh, akan bertemu dengan orang-orang baru dan semuanya juga merokok. Semakin kuatlah pandangannya bahwa laki-laki memang merokok.

Jiwa anak tadi membenarkan kebiasaan merokok dan rokok itu bukan hal buruk. Dengan demikian si anak tadi akhirnya juga merekok dikemudian hari. Oleh karena itulah, hampir semua laki-laki menjadi perokok. Maka buatlah lingkungan sosial yang rama pada anak-anak.


Mari kita belajar dari filsuf Cina, Kong Hu Cu. Menurut Kong Hu Cu belajar adalah sebagai cara untuk perbaikan diri sendiri dan sebagai syarat untuk mencapai perbaikan orang lain. Karena objek pendidikan yang mendasar adalah latihan moral untuk orang muda. Yang secara jelas itu adalah peranan orang-orang tua.

Belajar adalah bagian dari hidup kita yang sama banyaknya dengan kita bernafas. Bahkan belajar dapat terjadi secara tidak disadari melalui peniruan begitu saja pada tetangga kita (Raymond Dauson: 1999:26). Dari kutipan tersebut dapat kita pahami bahwa belajar adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan.

Belajar bukan hanya di sekolah atau di tempat-tempat tertentu. Tetapi belajar itu terjadi sepanjang hari. Perbuatan kita tanpa sadar akan menjadi mata pelajaran bagi yang melihat. Kita juga harus belajar dari kesalahan kita, apakah itu berdampak baik bagi orang sekeliling kita. Kalau kita perokok, menyadari itu salah. Maka kita berusaha agar orang yang kita sayangi jangan sampai seperti kita.

Keluarga adalah penentu pertama dalam penentuan moral dan kehidupan anak pada masa depan. Karena akan ada peniruan-peniruan yang berkelanjutan selama dia tumbuh (regenerasi). Kita semua bertanggung jawab pada lingkungan anak-anak. Keluarga bertanggung jawab di dalam rumah tangga. Tetangga bertanggung jawab dengan anak-anak tetangganya. Masyarakat bertanggung jawab di tempat-tempat umum.


Penciptaan Lingkungan Sosial
Lingkungan sosial adalah lingkungan di mana anak berinteraksi dan berkativitas. Di mulai dari rumah, tempat pendidikan, tempat bermain dan seterusnya. Untuk menentukan lingkungan sosial anak dapat kita pelajari dari sejarah.

Sebagai contoh lingkungan sosial dapat dipelajari dari kehidupan filsuf Cina bernama Mengzi. Ibu Mengzi memiliki reputasi legendaris sebagai seorang ibu yang bijaksana dalam memilih lingkungan yang benar tempat dia membesarkan anaknya. Ibu Mengzi pindah dari area sekeliling pasar. Karena Mengzi selalu bermain dan menjajakan jualan.

Kemudian ibu mengzi pindah ke lingkungan sekitar sekolah. Perlahan Mengzi kecil melupakan lingkungan pasar tempat dia dahulu. Kemudian dia mulai memperhatikan anak-anak yang belajar dan sering mengikuti upacara keagamaan (Raymond Dauson: 1999:26).


Kalau di zaman sekarang mungkin akan sulit pindah kelingkungan yang kita inginkan. Maka dari itu kita akan menciptakan secara pribadi lingkungan tersebut.  Dimulai dari mengajak anak ke perpustakaan anak-anak. Kemudian membantu membaca buku-buku anak-anak, seperti dongeng, cerpen atau komik yang sesuai untuk anak-anak.

Lalu banyak berkunjung ke toko-toko buku, bazar buku. Di hari-hari keagamaan ajak ketempat-tempat ibadah agama kita masing-masing. Berikan pengalaman-pengalaman positif lainnya. Dekatkan dengan dunia pendidikan. Dekatkan anak dengan buku-buku. Kalau anda perokok jangan terlalu sering merokok di dekat anak-anak anda.


Ajarkan hidup bersih, seperti membiasakan menyikat gigi, mencuci kaki sebelum tidur. Aku ingat masa kecil dulu ketika ayah dan ibu tidak mengajarkan menjaga kesehatan gigi. Bukan salah mereka tetapi memang kesadaran itu belum tumbuh di tengah masyarakat, karena saya lahir di pedesaan.

Dari sini dapat diambil hikmah. Kalau anak-anak tidak akan tahu kalau mereka tidak diberi tahu atau dibimbing. Maka kebiasan menyikat gigi sebelum tidur, mencuci kaki dan wajah diajarkan pada mereka. Sebelum gigi mereka berlobang. Kalau sudah berlobang ajaklah ke dokter gigi dan cabut gigi geraham berlobangnya. Aku ingat waktu aku sekolah dasar. Datang dokter pencabut gigi dari kota. Mereka ditugaskan oleh negara untuk membantu kesehatan gigi anak-anak.

Tapi saat mereka masuk ruangan kelas kami yang masih kelas dua sekolah dasar jadi takut. Sebab si dokter hanya bertanya siapa yang mau dicabut gigi berlobang. Kami anak-anak takut sebab tidak mengerti. Tidak satupun kami maju, dan tidak ada guru-guru yang mendampingi. Para dokter dan para guru kami waktu itu tidak menciptakan lingkungan sosial yang baik walau mereka sudah memiliki pendidikan cukup.

Untuk hiburan arahkan dengan tontonan yang mendidik. Kalu setiap sore tontonannya sinetron maka kehidupannya tidak jauh dari cerita sinetron-sinetron tersebut. Apalagi sinetron di negara kita yang bertema tahayul dan berebut harta. Ditambah kadang ada perkataan yang mengarah perbuatan tidak senono dan adegan tidak pantas.


Kemudian ajarkan kesederhanaan dan tanggung jawab. Kadang orang salah membedakan antara kasih sayang dengan memanjakan. Orang tua menuruti semua keinginan anak-anak mereka dengan alasan sayang. Sehingga mereka lupa bagaimana mendidik.

Bentuk kasih sayang pada anak adalah mendidik, bukan memanjakan. Maka, ajarkan tanggung jawab. seumpama mainannya yang berantakan setelah dia selesai bermain. Agar memintanya merapikan kembali. Awalnya dibantu dan lama-lama dia pandai sendiri. Setelah dia agak besar, sudah berumur sepuluh tahunan, ajarkan cara mencuci kaos kakinya sendiri.

Agar melatih mereka bertanggung jawab dan mandiri. Nanti, apabila mereka kulia atau bersekolah tinggal di asrama sudah mandiri. Contoh memanjahkan anak. Misalnya diumurnya yang masih dibawah sepuluh tahun sudah diberikan smartphone. Membuka aplikasi youtub berjam-jam.

Kemudian matanya menjadi rusak. Pada saat menginjak usia remaja sudah memakai kacamata minus. Inilah yang dimaksud memanjakan bukan menyayangi. Sayang dan cinta itu melindungi dan sekaligus mendidik. Orang tua harus mampu melihat dampak dikemudian hari dari apa-apa yang mereka perbuat saat anak-anak.

Penciptaan Lingkungan Batin.
Lingkungan batin adalah lingkungan yang paling menentukan watak dan pemikiran anak dikemudian hari. Lingkungan batin ibarat ideologi dalam kehidupan berbangsa. Sehingga akan menjadi landasan dirinya berbuat, bertindak, dan berpikir. Hal yang perlu kita tanamkan adalah nilai-nilai moral.

Baik dari ajaran agama yang dianut dan etika sosial dari kebiasaan masyarakat sendiri (adat-istiadat). Ketika aku waktu kecil, ayah mengajarkan bahwa tidak boleh menyebut nama orang yang lebih tua dari kita, adat peraturanAdat peraturan adalah apabila orang tersebut lebih tua dari kedua orang tua kita, misalnya kakak dari ibu kita (Uwa), bernama Mahmud. Dia memiliki anak tertua bernama Azzam.

Maka ayah mengajarkan saya memanggilnya Uwa Azzam. Jangan Uwa Mahmud, karena menyebut nama orang tua tidak sopan. Apa yang ayah ajarkan tersebut sampai sekarang saya gunakan. Ketika ada orang yang lebih tua dari ayah atau ibu, maka aku akan memanggil dengan nama anak tetua mereka atau yang sesuai.


Memberitahu yang boleh dan tidak bole. Kalau anak perempuan ajarkan norma kewanitaan, harga diri sebagai wanita. Cara berpakaian dan cara bergaul yang benar. Memberikan nasihat-nasihat baik.

Anak-anak walau dia belum mampu mencernah nasihat dan  kata-kata. Tetapi dia akan mengingat dan merekam semuanya. Nanti perkataan dan nasihat tersebut akan terjawab sepanjang perjalanan hidupnya. Seperti catatan yang terurai yang dapat dibaca otaknya sepanjang waktu.

Lingkungan batin anak juga harus terhidar dari komplik. Hindari pertengkaran di depan anak-anak dengan bentakan antara suami istri. Jangan suka memaki dan berghibah didekat anak-anak. Karena nanti saat dia sedang marah juga akan memaki sebagaimana ucapan yang dia dengar.

Lingkungan jiwa anak membutuhkan ketentraman dan asupan-asupan positif. Perhatian yang cukup, dan kasih sayang yang ditunjukkan akan memberikan kebahagiaan pada anak. Agar dia tumbuh menjadi bangga dengan kehidupannya. Tidak melahirkan sikap rendah diri yang membuat dia terpuruk. Atau sebaliknya dia akan menjadi pembenci kehidupan.


Kesimpulan.
Lingkungan sosial dan lingkungan jiwa akan menentukan siapa dia dikemudian hari. Keluarga, tetangga, masyarakat sekitar bertanggung jawab dalam penciptaan lingkungan yang positif tersebut. Di zaman yang kompleks sekarang kita harus menciptakan lingkungan tersebut.

Karena sangat sulit menghindari secara alami pengaruh-pengaruh lingkungan sosial kita. Maka kita harus menciptakan sendiri lingkungan tersebut. Agar anak tidak mencari lingkungannya sendiri. Membuat dunianya sendiri yang sesuai kesukaannya. Sedangkan dia belum memiliki akal dan pengetahuan yang cukup.

Kalau anda memiliki anak yang menyukai kekerasan, berkelakukan kurang baik. Mungkin anak itu sewaktu kecilnya menciptakan lingkungannya sendiri. Kalau anak membuat lingkungan sendiri dalam menemukan siapa dirinya. Dia akan tumbuh menjadi manusia yang keras dengan sesuatu yang dia yakini. Beruntung kalau dia mendapat jalan kebaikan.


Maka jangan salahkan mereka, sebab anda tidak cukup cerdas dalam menciptakan lingkungan anak-anakmu sendiri. Langkah awal adalah dengan mengjarkan batinnya dengan hal-hal positif. Cara mengajarkan anak terbaik adalah dengan cerita. Baik cerita dongeng, cerpen, bacaan-bacaan.

Atau komentar positif pada kejadian nyata di sekeliling lingkungan kita. Lalu beri ulasan pengajaran dari cerita dongeng, cerpen, bacaan-bacaan tersebut dengan dipadu moral keseharian kita. Ceritakan tokoh-tokoh yang jujur dan baik. Dengan demikian, anak tidak merasa kalau dia sedang digurui. Karena mengajar yang paling baik tidak menggurui. Perlahan-lahan pemikirannya akan sama dengan yang anda katakan dan ceritakan.

Maka dari itu, ibu yang berpendidikan tinggi sangat diperlukan dalam menciptakan generasi moderen. Sehingga orang tua dapat mengendalikan lingkungan sosial dan lingkungan jiwa anak. Satu hal, kebanyakan orang tua di negara kita hanya memberi makan dan uang jajan tanpa memberikan ajaran moral didalam jiwa anak-anak. Sehingga anak-anak mendapatkan lingkungan jiwanya dari luar, seperti dari televisi, hanpone, orang lain, teman dan sebagainya.

Oleh. Joni Apero
Editor. Desti. S.Sos.
Palembang, 21 April 2019.
Sumber foto. Julia Anggraini.

Daftar Bacaan:
Bakker SJ. Filsafat Kebudayaan Sebuah Pengantar. Yogyakarta: Kanisius, 1984.
Raymond Dawson. Kong Hu Cu: Penutu Budaya Kerajaan Langit. Ter. Y. Joko  Suyono. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 1999.
Yulia Budiwati. Ilmu Budaya Dasar. Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.
Sumber foto: Mahasiswa PIAUD Universitas Islam Negeri Raden Fatah Palembang.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment