7/03/2019

Pidato Presiden Soekarno Saat Peringatan Nuzulul Qur'an Maret 1960


Dalam setiap acara kenegaraan Presiden Soekarno selalu mendapat kesempatan untuk berpidato di hadapan hadirin, baik itu di suatu tempat misalnya di masjid, suatu daerah, atau di istana negara sendiri. Pidato-pidato Presiden Soekarno banyak yang menggunakan teks sehingga dapat diterbitkan oleh sejarawan kemudian hari. Atau pidato beliau tersimpan pada arsip-arsip negara di istana negara di Jakarta. Pidato sangat bermanfaat untuk memgambarkan ekspresi kepemikiran seseorang. Pidato juga sarana pengungkapan pandangan seseorang pada suatu pokok permasalahan. Pidato termasuk dalam seni berkata-kata, untuk dapat berpidato seseorang harus memiliki wawasan luas. Umat Islam selalu akrab dengan pidato, karena pidano dihadirkan setiap jumat, pada shalat jumat. Berikut adalah contoh salah satu pidato Presiden Soekarno. Pidato ini mengetengakan pokok pemikiran Islam dalam tema, Islam, Agama Amal.

Amanat pada Peringatan Nuzulul Qur’an di Istana Negara, Jakarta, 15 Maret 1960.

Saudara-saudara sekalian,
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh.

Alhamdulillah, malam ini kita berkumpul di sini, pada malam Nuzulul Qur’an dan menyaksikan penyerahan Qur’an pusaka, melewati tangan Y.M. Menteri Agama, kepada Presiden Republik Indonesia. Isyah Allah saudara-saudara, akan saya simpan dan saya pelihara Qur’an pusaka ini dengan sebaik-baiknya dan disinilah tempatnya pula saya mengucapkan salam kehormatan dan terima kasih kepada semua saudara-saudara yang telah membanting tulang, bekerja keras untuk membuat Qur’an pusaka ini, terutama sekali kepada Haji Abubakar Aceh.
    Saudara-saudara, Qur’an pusaka yang terbuat di dalam tiga bagian, yang bagian awalnya terletak di sana, bagian kedua dan ketiga, di dalam peti itu, sebagai saudara-saudara mengerti dan saudara-saudara mendengar sendiri dari uraian Saudara Haji Abubakar Aceh, ini adalah sekadar tumpukan kertas-kertas dengan tulisan-tulisan di atasnya. Tumpukan kertas-kertas di atasnya, yang malahan saya mengucap syukur kehadirat Allah SWT., saya ikut-ikut menuliskan beberapa huruf daripada tulisan-tulisan itu.
    Tapi bagaimanapun juga saudara-saudara, ini adalah sekadar kertas dengan aksara-aksara, tulisan-tulisan diatasnya. Tetapi sebagai saudara-saudara mengerti, apalagi sesudah mendengarkan uraian Y.M. Menteri Agama dan Y.M. Menteri Djojomartono; yang hebat, yang abadi, yang menguasai jiwa kita sekalian ialah, ini, makna daripada tulisan-tulisan itu. Dan memang tulisan-tulisan yang tertera di atas kertas itu, membawa makna. Dan makna itulah saudara-saudara, sebagai saudara-saudara telah mengerti makna itu adalah abadi, maka itu adalah berisikan petunjuk yang hebat sekali kepada seluruh perikemanusiaan.
    Berulang-ulang saya di sini mensitir ucapan Thomas Carlyle, sebagai tadi juga di sitir oleh Saudara Muljadi Djojomartono akan beberapa ucapan Thomas Carlyele yang antara lain berkata, “Bahwa justru makna daripada kata-kata, aksara-aksara yang tertulis di dalam kitab Qur’an itu, membuat padang pasir yang tadinya sekadar pasir, meledak. Dan api ledakannya itu dilihat oleh kemanusiaan di tujuh penjuru dunia.” Saudara Muljadi mensitir Thomas Carlyle, yang menggambarkan bahwa oleh kekuasaan isi kata dari Qur’an ini, bangsa Arab yang tadinya bangsa biadab, tadinya bangsa yang suka berkelahi, tadinya bangsa yang pemabuk, tadinya bangsa yang suka mengubur hidup-hidup anak perempuan, bangsa yang tadinya bangsa penipu, di dalam satu abad telah mendirikan satu kerajaan yang megah antara, Andalusia dan Delhi.
    Dan sekarang saudara-saudara malahan isi dari kalimat-kalimat Qur’an tersebut di seluru muka bumi. Saya sering mensitir ucapan Thomas Carlyle yang mengatakan, “En het zand der woestijn bleek geen zand te zijn, het bleek kruit te zijn, het ontplofte en den ontploffing werd gehoorde door de gehele mensheid.” Artinya, pasir daripada pasir ini, di padang pasir ini, ternyata bukan sekadar pasir. Ternyata pasir ini adalah mesiu. Mesiu ini kena cetusan api daripad Qur’an daripada agama Islam. mesiunya meledak dan ledakannya didengarkan oleh seluruh perikemanusiaan.
    Saudara-saudara, kita semuanya tadi mendengarkan pembacaan surat pertama Al-Fatihah, yang malahan sering dikatakan oleh ulama-ulama Islam, bahwa di dalam surat Al-Fatihah ini tersimpan segenap isi Al-Quran. Ber-Al-Fatihah yang pada pokoknya bukan saja memuji kepada Allah SWT. Yang dikatakan yau middin. Tuhan daripada hari yang kemudian, bahwa kita memohon kepada-Nya petunjuk, mohon diberi tahu jalan yang benar. Iyya kana’budu wa iyya kanasta’in, ih-dinash sirathal mustaqim sirathal mustaqim shirathal ladzina an’amta alaihim, ghairil magh’dhudi alaihim, waladhalin, mohon diberi tahu jalan yang benar, jalan yang dikaruniahi oleh Tuhan, bukan jalan yang dimurkai oleh Tuhan.
    Perhatikkan saudara-saudara, kita di dalam surat Al-Fatihah itu, dengan mengucapkan kalimat-kalimat dari surat Al-Fatihah itu memohon petunjuk, memohon diberi tahu oleh Allah SWT. Akan jalan yang benar, bukan jalan yang dimurkai. Dan tuhan memberitahu jalan, Tuhan memberitahu jalan itu, antara lain seluruh Al-Quran itu tiap-tiap surat, tiap-tiap kalimat, tiap-tiap kata daripada Qur’an itu adalah petunjuk, ini adalah jalan yang benar, itu adalah jalan yang salah. Sekadar petunjuk saudara-saudara. Tetapi apakah kita cukup dengan mendapatkan petunjuk, itulah jalan yang baik? Tidak! saudara-saudara. Kita harus berjalan di atas jalan itu, sesudah kita mendapat petunjuk dari Allah SWT. Akan jalan yang benar. Kita tidak hanya cukup dengan hanya mendapat pahala, sekarang kita akan mendapat kenikmatan hidup duniawi dan akhiat. Kita harus berjalan melalui jalan yang benar itu, jangan melalui jalan yang tidak benar. Dus kita harus berjalan, dus kita harus berbuat, dus, kita kini beramal, tidak cukup dengan mengetahui mana jalan yang benar.
    Kita memohon di dalam surat Al-Fatihah diberikan petunjuk jalan yang benar, tetapi tidak cukup bagi kita, hanya mengetahui jalan yang benar. Kita harus menjalani jalan yang benar itu. oleh karena itu, tepatlah beberapa perkataan beberapa ahli agama, ulama-ulama agama, yang mengatakan bahwa agama Islam adalah agama amal, bukan sekadar agama untuk mengetahu jalan yang benar, tetapi agama amal, the gospel of action.
    Dikatakan bahwa kitab Al-Quran itu, demikianlah perkataan seorang ahli agama Islam dari negara asing, dari negeri asing dengan mengatakan “Islam is the gospel of action”,”Islam is her evangelic van de daad”, Islam adalah satu agama amal, perbuatan. Sebagaimana kita mendengar dalam surat Al-Fatihah pujian kita kepada Allah SWT, yang disebutkan Tuhan itu arrahman arrahim tempo hari yang sudah saya terangkan kepada saudara-saudara, perbedaan antara perkataan rahmania dan rahimiahRahmania: Tuhan memberi kenikmatan kepada kita, sekadar sebagai cinta Tuhan kepadamu tanpa kita beramal apa-apa, demikianlah kataku tempo hari. Seorang anak bayi procot keluar dari gua garba ibunya, sudah mendapat rahmaniah dari Allah SWT., oleh karena dia bisa melihat, oleh karena dia bisa menghirup udara segar, oleh karena dia bisa menetek, air tetek yang manis, oleh karena dia dilahirkan di atas bumi yang kaya, padahal sang bayi itu saudara-saudara, belum berbuat apa-apa, tetapi oleh karena rahmaniah Allah SWT., saudara-saudara, demikianlah kataku tempo hari, adalah ganjaran atas amal.
    Saya berkata tempo hari, jikalau kita menanam padi, menggarap tanah kita bekerja mati-matian untuk menanam padi, untuk membawa hasil padi, membawa hasil beras yang bisa kita makan, yang bisa kita berikan kepada istri kita, kepada anak kita, yang bisa kita jual supaya kita bisa mendapat uang agar kita bisa membeli pakaian, itu adalah rahmaniah dari Allah SWT, Upah, ganjaran atas amal-amal kita.
    Oleh karena itu saudara-saudara, maka tepat sekali jikalau di dalam agama Islam pokoknya Al-Quran, dinamakan The Gospel of Action,” “Het evangelic van de daad” agama daripada amal. Perbuatan.
    Pada malam ini kita berkumpul di Istana Negara ini saudara-saudara, untuk memuliahkan Nuzulul Qur’an, untuk menyaksikan penyerahan Qur’an sebagai pusaka. Pada malam ini, kita semua harus mencamkan dalam hati kita, marilah kita selalu beramal. Hanya dengan amal kita dapat menolong diri kita sendiri, hanya dengan amal kita bisa menolong bangsa kita sendiri. Hanya dengan amal kita bisa menolong tanah air kita. Hanya dengan amal kita bisa menolong bangsa kita. Hanya dengan amal kita bisa mencapai cita-cita rakyat Indonesia, yaitu untuk negara yang merdeka dan berdaulat penuh, masyarakat yang adil dan makmur didalmnya.
    Tadi pagi ketika memberi amanat kepada Angkatan ’45 saya katakan, tiap-tiap manusia Indonesia sekarang ini boledikatan dengan setuju dengan Manifesto Politik. Manifesto Politik adalah saudara-saudara, seperti satu petunjuk. Isinya jalan untuk mencapai kemakmuran. Itu jalan untuk mencapai kebahagiaan. Itu Undang-Undang Dasar 1945. Itu sosialisme ala Indonesia. Itu ekonomi terpimpin. Itu demokrasi terpimpin. Itu jalan kemakmuran. Itu jalan kepribadian jalan kebudayaan Indonesia sendiri.
    Tetapi tidak cukup kita sekadar mengetahui jalan itu, tidak cukup kita mengetahui bahwa ekonomi terpimpin jalan mencapai kemakmuran ekonomi. Tidak cukup kita hanya mengetahui bahwa demokrasi terpimpinlah membawa kita kepada pengerahan tenaga yang sebaik-baiknya, untuk menyelesaikan revolusi kita.
    Kita harus beramal, kita harus berjalan, kita harus – di dalam istilah saya – harus membanting tulang, mengulurkan tenaga kita, memeras keringat kita mati-matian.
    Hidup selamat duniawi, hidup selamat ukhrawi, hanyalah kita capai dengan amal, tidak dengan cara berdiam diri sekadar “Ins. Blaue hinein” membiarkan segala keadaan berjalan sendiri.
    Sekian saudara-saudara, amanat saya, dengan ini saya mengucapkan beribu-ribu terima kasih sekali lagi. Kepada semua pekerja yang membuat Qur’an pusaka ini. Dan seperti saya katakan, insya Allah SWT. Qur’an pusaka ini akan saya pelihara dan saya simpan dengan cara sebaik-baiknya. 

Terima kasih. Soekarno.

Selain mengajarkan tentang keislaman yang baik, dalam pidato beliau tergambar penekanan pada politik demokrasi terpimpin dalam memimpin Indonesia. Sehingga masa pemerintahan ini disebut masa demokrasi terpimpin.

Rewrite: Joni Apero.
Palembang, 2018.
Sumber: A. Dahlan Ranu Wijaya, dkk. Wacana Islam: Kenangan 100 Tahun Bung Karno. Jakarta: Grasindo, 2001.

By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment