6/24/2019

Wisata dan Belajar. Museum Etnobotani Indonesia



Apero Fublic.- Jalan berliku, menyusuru ujung pulau Sumatera. Dari Pelabuhan kami menyemberangi selat Sunda. Buayan ombak membuat tarian pada lambung kapal, dan seolah kami hanyalah potongan kecil yang merayap. Hanya ada langit yang bagai kubah melingkupi perjalanan di selat Sunda. Kemudian barulah kami melihat titik kecil yang timbul tenggelam.

Lama semakin lama, tibalah kami di pulau Jawa. Perjalanan ini adalah rangkaian exspedisi kami dalan studi, Praktik Kulia Lapangan (PKL), dari FKIP-Biologi, Universitas Sriwijaya. Kota pertama yang masuk agenda yang sesuai dengan jurusan biologi adalah Kota Bogor. Di Bogor tempat pertama kami kunjungi adalah Musium Etnobotani. Seperti biasa di tempat yang ramai pengunjungnya, adalah menghadirkan pedagang.

Para pedagang menawarkan barang dagangan, souvenir, fotografi, dan sebagainya. Kegiatan pertama adalah kulia umum, mengenai musium etnobotani, dan tentang musium tentunya. Saat masuk, mata kami langsung tertuju dengan berbagai material koleksi museum. Sedangkan sejarah singkat awal pendirian Museum Etnobotani, yaitu berawal dari gagasan Prof. Sarwono Prawihardjo yang ketika itu menjabat sebagai ketua Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Sekaligus bertepatan dengan peletakan batu pertama dalam pembangunan gedung baru Herbarium di tahun 1962. Tetapi gagasan tersebut baru terealisasi serta dilanjutkan, ketika Dr. Setiaji Sastrapradja memegang jabatan Direktur Lembaga Biologi Nasional (LBN), pada tahun 1973.

Setelah melalui proses yang cukup panjang, dan akhirnya museum tersebut dapat terwujud. Peresmiannya pada tahun 1982 oleh Menristek waktu itu Prof. Dr. Ing. B. J. Habibie. Dengan tema “Museum Etnobotani Indonesia, Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia."
Pada kulia umum kami dikenalkan dengan buah-buah lokal yang sudah langkah di zaman sekarang. Setelah dirasakan cukup, kemudian kami di bentuk beberapa kelompok. Setiap kelompok dipandu oleh seorang pemandu, dalam berkeliling museum.

Pada saat mengelilingi museum, kami mulai mencatat, memfoto, atau bertanya pada pemandu tentang objek koleksi museum.  Salah satu  objek favorit kami adalah awetan basah. Pada bagian awetan basah tersebut terdapat banyak sekali awetan-awetan basa yang berjajar rapi. Sehingga memiliki nilai estetika cantik, sekaligus memiliki makna saintis.

Koleksi awetan basa adalah, terbuat dari tumbuh-tumbuhan. Diantaranya merupakan tanaman obat, dan juga tanaman pangan. Kemudian kami juga dikenalkan dengan awetan kering. Awetan kering yang menjadi koleksi, di jajarkan sehingga tampak menarik. Selain itu, awetan kering juga memiliki nilai ekonomis.

Awetan kering terdiri dari tumbuhan-tumbuhan lokal yang digunakan sebagai bahan obat tradisional. Selain itu, memberikan penjelasan tentang jenis-jenis tumbuhan asal dari setiap daerah. Dengan demikian terdapat banyak pengetahuan keanekaragaman tumbuhan. Maka dapat menunjukkan  keberagaman luar biasa yang merupakan karunia Sang Ilahi.

Selanjutnya kami ke bagian koleksi herbarium. Herbarium adalah material tumbuhan yang telah di awetkan. Baik awetan basa atau awetan kering. Ruang herbarium pertama, menyajikan herbarium dari berbagai macam tumbuhan. Selain menampilkan herbarium juga menyajikan cara-cara pembuatan herbarium mulai dari pencarian spesimen, pengepakan, dan penyimpanan dan penjahitan.

Ruangan kedua adalah Ruangan Sejarah Rempah. Hampir sama dengan ruangan rempah di awal, ruangan ini juga menyajikan berbagai macam rempah-rempah yang tersebar di seluruh pelosok Nusantara. Di ruangan ini, kita bisa mempelajari berbagai macam rempah-rempah yang ada di Indonesia.

Dari sejarah dan penyebarannya di berbagai pulau Indonesia. Sedangkan Ruangan Keanekaragaman Rempah-rempah, kita dapat menemukan berbagai macam rempah-rempah yang digunakan untuk berbagai macam keperluan mulai dari bahan pangan sampai dengan obat-obatan.

Pada ruangan Sejarah Rempah, kita akan melihat ruangan yang diberi nama Ruang Emas Hijau Nusantara (gaharu). Gaharu sendiri adalah pohon yang memiliki harga jual yang tinggi karena memiliki aroma yang wangi sehingga banyak dicari oleh produsen pembuat produk minyak wangi.

Nah di ruangan ini, Traveler bisa melihat sejarah dan perkembangan dari pohon gaharu, kegunaan dari gaharu serta produk-produk yang merupakan hasil dari olahan pohon gaharu. Diujung ruangan ini kami melihat berbagai macam stand-stand. Stand-stand ini adalah stand yang menyajikan berbagai macam jenis umbi-umbian beserta olahan-olahannya.

Mulai sebagai bahan makanan pokok, makanan ringan, sereal sampai dengan jenis umbi-umbian yang merupakan hasil dari penyilangan. Di belakang stand umbi-umbian, terdapat stand batik dimana kita bisa melihat berbagai macam motif batik yang dibuat dengan menggunakan pewarna alami dari tumbuh-tumbuhan.

Dari lantai atas, sekarang saatnya kami menuju ke lantai bawah museum. Di lantai bawah adalah ruangan yang bertemakan Pemanfaatan Tumbuhan Indonesia. Di ruangan ini, kami bisa melihat berbagai macam koleksi benda-benda atau alat-alat yang berbahan dasar tumbuh-tumbuhan yang ada di seluruh Indonesia.

Koleksinya antara lain seperti anyam-anyaman, perkakas & alat berburu,  alat bercocok tanam, alat memancing, pakaian tradisional suku pedalaman, alat musik, obat-obatan, koleksi basah, permainan tradisonal anak, senjata tradisional, jenis-jenis kayu yang di manfaatkan dan lain-lain.

Luar biasa sekali memasuki museum Sejarah Nasional Indonesia. Kalau kalian pergi berkunjung ke Bogor, rasanya rugi tidak berkunjung ke museum tersebut. Pengalaman luar biasa sekali. Memasuki musium terasa sekali kalau negeri kita ini kaya dan luas. Beragam dan berbeda-beda tapi satu. Berkunjung kesini memberikan pengetahuan yang sangat besar bagi kita.

Kita dapat tenggelam ke masa lalu bangsa kita, atau kita masuk kedalam alam kebanggan menjadi orang Indonesia. Bagi adik-adik mahasiswa yang akan PPL, KKN, PKL, jangan hanya datang ketempat-tempat yang hanya memberikan pemandangan, tetapi kunjungi juga tempat-tempat bersejarah, dan museum. Hidup itu yang dibanyakkan adalah belajar, bukan tertawa atau hura-hura. Oke, terima kasih. wassalam.

Oleh. Ulandari.
Bogor, Maret 2017.
Praktik Kulia Lapangan, FKIP-Biologi, Universitas Sriwijaya.
Sumber Foto. Ulandari.
Editor. Selita. S.Pd.
Publikasi. 24 Juni 2020.

Catatan:Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: joni_apero@yahoo.com. idline: Apero FublicwhatsApp: 081367739872. Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.


By. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment