6/24/2019

Lhylin Thalib. Kepada Ayah Tercinta


Apero Fublic.- Coba kalian renungkan jeritan ini, jeritan diantara batu karang dan debur ombak. Tidak dapat di dengar oleh keramaian. Kecuali hati yang mengerti dan merasa. Waktu itu, saat bumi ini dalam gelap dan badai hujan.

Aku berlari menembus tetesan yang berjuta-juta banyaknya. Aku tidak perduli dengan semua itu. Basah seluruh tubuhku, pakaianku. Diantara genangan air hujan itu, tapak kakiku menapak dengan cipratan kekiri dan kekanan.

Kilat menyalah dan petir menyambar. Angin dan hujan berpadu dan menghadirkan deru-deru suara yang bergemuruh. Dalam lari yang di antara badai hujan itu. Ada sebuah anak panah melesat menghujam dadaku, dan menembus jantungku. Aku terpental dan terjatu di dalam kubangan air hujan yang menggenang. Perlahan memerah air disekitarku, oleh daraku. Aku terjatu dan sekujur tubuhku menjadi lemah dan mataku menjadi kabur.

Aku mencoba kuat dan bertahan. Bangun kembali dan melangkah perlahan. Aku cabut sendiri perlahan panah itu. Terasa sakit dan sangat sakit. Perlahan dan perlahan panah tertarik dan lepas, bersamaan dara yang mengucur dari lukanya. Aku berlari berteriak meminta pertolongan. Lalu aku didekap oleh seorang wanita tua yang juga sedang menangis.

Dia begitu erat mendekapku, dan berbisik agar aku jangan menangis. Tahan rasa sakit itu, katanya. Lalu dia perlahan memberi obat penawar agar luka aku sembuh. Dia begitu telaten merawatku, dan membesarkan semangatku. Dia perban luka-luka itu, dan dia obati dengan baik.

Sebelum aku tidur, dia selalu berkata bahwa dia akan selalu bersamaku. Wanita tua ini, pikirku begitu luhur budinya. Bagai malaikat yang hadir menjadi pengobat. Dia kuat sekali, sehingga aku perlahan sembu dan bangkit. Satu hal yang membuat aku menangis, ternyata wanita itu juga terluka lebih dalam dari lukaku.

Tetapi dia rawat sendiri dalam diam. Sabar, tabah dan tenang seakan dia tahu ini takdir tuhan. Waktu berlalu, luka-luka itu sembuh juga dan mulai redah pulah badai dan hujan itu. Sekarang, aku mulai melangkah dalam damai dan mencoba menggapai mimpi-mimpi.

KEPADA AYAH TERCINTA.

Ayah
Aku rindu ayah
Ayah, sedang apa di sana.
Malam ini aku melihat bintang-bintang.
Bintang yang terang itu, rumah ayah.
Bersinar terang memancar,
Seperti pancaran sinar kerinduan buah hati.

Ayah
Putrimu, yang dulu selalu kau manjakan
Kini sudah beranjak dewasa.
Mencoba mandiri dan kuat.
Dibalik derita, dibalik kerinduan padamu.
Tidak jarang air mata menetes.
Mengenang kasih sayang yang engkau berikan.
Semoga ayah bahagia di alam surga.

Ayah
Jangan sedih disana
Ibu menjagaku dengan tabah
Walau sering aku nakal,
Membuat dia marah.
Tapi dia selalu memanjakan aku.
Memandang bolah mataku,
Seakan memandang ayah.
Sesungguhnya ayah masih disini.
Di hati kami, yang putih.
Seputi awan di hari-hari berlalu
Yang berpayung langit biru.

Ayah
Aku kirim doa selalu, dalam sujudku.
Semoga kau tenang di alam surga.
Ayah, akan aku ingat pengorabananmu,
Kasih sayangmu, terkenan-kenang.
Yang telah kau berikan pada keempat putrimu.
Semua itu, akan menjadi kekuatanku
Dalam menghadapi badai dunia ini.
Aku kabarkan ayah,
Dua putrimu telah menikah bahagia.
Dua masih berjuang bersama ibu.
Rumah begitu sunyi sekarang
Karena tinggal kami bertiga saja.
Aku, ibu, dan adik.

Ayah
Aku rindu ayah
Akankah ada lelaki yang menggantikanmu
Mencintai aku, seperti cintamu padaku.

Ayah,
Aku sayang ayah.

Oleh. Lhylin Thalib.
Palopo, 28 Maret 2019.
Sumber foto. Lhylin Thalib.
Kategori. Syarce Non Fiksi
Editor. Joni Apero.

Sekilas tentang penyair cantik ini. Nama lengkapnya Lhylin Thalib, lahir di To’pongo 31 Januari 1997. Sekarang dia kulia di Institut Agama Islam Negeri (IAIN), di Palopo, dengan bidang studi Pendidikan Agama Islam (PAI). Gadis cantik ini hobi membaca, dan menyukai warna pink. Untuk makanan favorit, makan yang dapat dijadikan untuk ngemil.

Motto hidupnya, “kenalilah dirimu, lalu kenali alam disekitarmu, maka kamu akan mengenal Allah SWT. Pesan-pesanya, jangan berbaring ketika adzan, nanti jenazah kita berat. Jangan berbicara ketika adzan, nanti kita tidak bisa mengucap syahadat ketika kita akan meninggal dunia. Sedangkan puisinya terkhusus untuk ayahnya yang tercinta yang kini bersama Allah SWT di surga.
Catatan: Yang mau belajar menulis: mari belajar bersama-sama: Bagi teman-teman yang ingin mengirim atau menyumbangkan karya tulis seperti puisi, pantun, cerpen, cerita pengalaman hidup seperti cerita cinta, catatan mantera, biografi diri sendiri, resep obat tradisional, quote, artikel, kata-kata mutiara dan sebagainya.

Kirim saja ke Apero Fublic. Dengan syarat karya kirimannya hasil tulisan sendiri, dan belum di publikasi di media lain. Seandainya sudah dipublikasikan diharapkan menyebut sumber. Jangan khawatir hak cipta akan ditulis sesuai nama pengirim.

Sertakan nama lengkap, tempat menulis, tanggal dan waktu penulisan, alamat penulis. Jumlah karya tulis tidak terbatas, bebas. Kirimkan lewat email: fublicapero@gmail.com idline: Apero Fublic.  Messenger. Apero fublic. Karya kiriman tanggung jawab sepenuhnya dari pengirim.

Sy. Apero Fublic

0 komentar:

Post a Comment