Kampus
Opini
Pendidikan
Jadi Konten Kreator Itu Bukan Cita-cita Tapi Pelarian Dari Pengangguran ?
APERO FUBLIC I Hampir setiap anak muda pernah ditanya, “Cita-citamu apa?” Jawaban yang makin sering terdengar adalah “konten kreator”. Orang tua mengernyit, warganet berkomentar sinis: itu bukan cita-cita, itu pelarian dari pengangguran. Benarkah? Jawaban jujurnya: sebagian benar, sebagian keliru, dan keduanya layak didengar tanpa menghakimi.
Angka yang Melatarbelakangi
Mari mulai dari data. Badan Pusat Statistik mencatat pada Agustus 2023 ada 9,9 juta dari 44,47 juta penduduk usia 15–24 tahun, sekitar 22,25 persen, yang berstatus NEET, yaitu tidak bekerja, tidak bersekolah, dan tidak mengikuti pelatihan. Sebanyak 5,73 juta di antaranya perempuan muda dan 4,17 juta laki-laki muda; sekitar 5,2 juta tinggal di perkotaan.
Perlu dicatat, NEET tidak identik dengan pengangguran. BPS sendiri menyebut alasannya beragam: putus asa, disabilitas, keterbatasan akses transportasi dan pendidikan, keterbatasan finansial, hingga kewajiban rumah tangga.
Data BPS yang dilaporkan CNBC Indonesia juga menunjukkan kelompok NEET lebih banyak dialami perempuan muda, 26,54 persen dari populasinya, dibandingkan laki-laki muda yang 18,21 persen.
Pemerintah menyebut sejumlah penyebab. Bappenas menunjuk salah memilih sekolah dan jurusan, sedangkan Menteri Ketenagakerjaan saat itu menyebut ketidakcocokan antara pendidikan serta pelatihan dan kebutuhan pasar kerja.
Seorang anggota DPR, Kurniasih Mufidayati, menambahkan bahwa kenaikan UKT dan syarat pengalaman serta batas usia dalam lowongan ikut menghimpit anak muda. Dalam situasi seperti ini, wajar jika sebagian orang mencari jalan lain.
Sudut Pandang Pertama: Pintu Formal yang Sempit
Ketika lowongan sulit ditembus, platform digital menjadi pintu yang paling terbuka. Modalnya ponsel dan kemauan, tanpa CV, tanpa “orang dalam”, tanpa batas usia. Sosiolog UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Tantan Hermansah, mengingatkan bahwa persoalannya bukan sekadar anak muda tidak punya pekerjaan, melainkan juga lembaga kerja yang masih didefinisikan secara konvensional.
Jika definisinya tidak diperluas, jumlah anak muda yang dianggap “menganggur” akan terus membengkak. Dari sudut ini, menjadi kreator atau afiliator memang bisa jadi strategi bertahan hidup.
Sudut Pandang Kedua: Bisa Juga Pilihan Sadar
Tapi menyebut semuanya pelarian juga tidak adil. Survei Deloitte Global 2025 menunjukkan Gen Z tidak hanya mengejar uang, melainkan juga makna dan kesejahteraan, dan 21 persen dari mereka tidak lagi berada di jalur karier yang direncanakan sejak awal.
Banyak kreator mengembangkan keterampilan nyata: riset, penulisan naskah, penyuntingan video, analitik audiens, hingga negosiasi dengan merek. Bagi mereka, ini bukan pelarian, tetapi pekerjaan yang dipilih dengan sadar.
Garis antara dua sudut pandang itu sebenarnya kabur. Seorang mahasiswa bisa mulai membuat konten karena hobi, lalu bertahan karena lowongan yang ia lamar tak kunjung membalas. Seorang lulusan bisa menjadi afiliator sementara menunggu panggilan kerja, lalu menemukan bahwa ia justru menikmatinya.
Karena itu, label tunggal seperti “pelarian” atau “cita-cita” terlalu kaku untuk menggambarkan kenyataan yang cair. Yang lebih jujur adalah mengakui bahwa motif manusia jarang murni: ada passion, ada kebutuhan, dan ada peluang yang kebetulan datang.
Risiko yang Jarang Dibicarakan
Saya tidak menemukan data nasional resmi yang dapat diandalkan tentang penghasilan kreator atau afiliator di Indonesia, jadi tidak elok mengarang angka. Yang bisa dibahas adalah strukturnya: penghasilan bergantung pada algoritma dan tren, tidak ada gaji tetap, tidak ada pesangon, dan perlindungan sosial tidak otomatis.
Pekerja mandiri sebenarnya bisa mendaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan kategori Bukan Penerima Upah, tetapi tidak semua orang menyadarinya. Romantisasi “kerja bebas dari mana saja” sering menutupi kerentanan ini.
Jadi, Passion atau Pelarian?
Mungkin pertanyaan itu terlalu sempit. Ujiannya sederhana: seandainya lowongan formal melimpah dan gajinya layak, apakah orang itu tetap memilih jalan ini? Kalau ya, itu cita-cita. Kalau tidak, itu strategi bertahan hidup, dan tidak ada yang memalukan dari itu. Yang perlu diperbaiki bukan pilihan anak mudanya, melainkan ekosistemnya.
Kampus dan pemerintah perlu memperkuat keterkaitan pendidikan dengan kebutuhan industri dan pelatihan vokasi. Perusahaan perlu menilai kemampuan, bukan sekadar pengalaman dan usia. Sementara para kreator perlu menganggap ini sebagai usaha: mendiversifikasi sumber penghasilan, belajar mengelola keuangan, dan memastikan perlindungan sosial.
Pada akhirnya, anak muda yang memilih jalur ini sedang menjawab persoalan yang kita semua ciptakan bersama. Daripada sibuk mencibir, lebih baik kita memastikan ada banyak pintu, formal maupun digital, yang layak dilalui.
Oleh: Rachel Aleta Silviana
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pamulang, Tangerang Selatan, November 2026.
Editor. Tim Redaksi
Referensi:
Badan Pusat Statistik (Sakernas Agustus 2023), data NEET usia 15–24 tahun, dilaporkan CNBC Indonesia (15 dan 21 Mei 2024), Kabar Bursa, dan IDX Channel; Pajak.com (alasan NEET menurut BPS); Kabar Bursa, pernyataan Tantan Hermansah; Wartaekonomi dan Kompas TV, pernyataan Kurniasih Mufidayati; Deloitte, Global 2025 Gen Z and Millennial Survey (via GoodStats).
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment