Kampus
Opini
Pendidikan
Gen Z Bukan Malas, Cuma Nggak Mau Diperbudak Sistem Kerja Lama
APERO FUBLIC I Kalau ada satu kalimat yang paling sering dilempar ke anak muda, mungkin ini: “Gen Z itu malas.” Resign baru tiga bulan, dibilang nggak tahan banting. Menolak lembur, dibilang kurang dedikasi.
Bertanya soal gaji dan jam kerja saat wawancara, dibilang kebanyakan nuntut. Tapi coba balik pertanyaannya: yang malas itu anak mudanya, atau kita yang malas mengevaluasi sistem kerja yang sudah usang?
Malas Itu Beda dengan Menolak Dieksploitasi
Orang malas menghindari kerja. Yang terjadi pada Gen Z lebih mirip orang yang menghitung ulang untung-rugi. Survei Deloitte Global 2025 terhadap 14.751 Gen Z dan 8.731 milenial di 44 negara menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya menimbang uang, tetapi juga makna pekerjaan dan kesejahteraan diri.
Ringkasan laporan yang sama di media Indonesia menyebut Gen Z di tanah air mengutamakan keseimbangan hidup-kerja, kesempatan belajar, dan tujuan yang bermakna. Itu bukan tanda malas. Itu tanda mereka sadar bahwa waktu, tenaga, dan kesehatan mental punya harga.
Lembur Gratis Bukan “Dedikasi”
Di banyak kantor, pulang tepat waktu masih dianggap tidak kompak. “Nggak enak sama atasan” pelan-pelan menjadi aturan tak tertulis. Padahal lembur punya aturan hukum.
PP Nomor 35 Tahun 2021 membatasi waktu kerja lembur paling lama 4 jam per hari dan 18 jam per minggu, serta mewajibkan pengusaha membayar upah lembur (dengan sejumlah pengecualian untuk sektor atau jabatan tertentu).
Artinya, ketika Gen Z menolak lembur tanpa bayaran, mereka sedang menagih hak yang sudah tertulis, bukan membangkang. Yang aneh justru budaya yang menormalkan pelanggaran itu atas nama loyalitas.
Bayangkan seorang fresh graduate yang berangkat pukul tujuh pagi dan pulang pukul sembilan malam hampir setiap hari dengan alasan “mengejar target”. Ketika ia menolak lembur yang tidak dibayar, label “nggak punya loyalitas” langsung menempel.
Cerita semacam ini akrab di linimasa dan obrolan sesama pekerja muda. Yang jarang ditanyakan adalah apakah target itu realistis, apakah jam kerjanya wajar, dan apakah imbalannya setimpal. Selama pertanyaan itu tidak dijawab, menyalahkan karakter generasi hanyalah jalan pintas untuk menghindari tanggung jawab perusahaan.
Gaji Mandek, Biaya Hidup Jalan Terus
Keluhan berikutnya soal gaji. Ongkos hidup terus naik, sementara tawaran gaji awal sering terasa jalan di tempat. Saya tidak punya satu angka nasional yang pas untuk menyamaratakan semua sektor, tetapi riset akademik memperlihatkan polanya.
Studi di International Journal of Business and Society (2025) pada karyawan Gen Z Indonesia menemukan bahwa keseimbangan hidup-kerja dan pengembangan karier memengaruhi niat pindah kerja.
Kajian yang dipublikasikan Telkom University (2025) menyoroti kompensasi yang tidak memadai dan ketidakseimbangan hidup-kerja sebagai pendorong utama. Dengan kata lain, mereka pindah bukan karena bosan, melainkan karena hitungannya tidak masuk.
Loyalitas Bukan Sinonim Penderitaan
Generasi sebelumnya diajari bahwa bertahan lama di satu perusahaan adalah bukti kesetiaan. Gen Z tumbuh di era kontrak jangka pendek dan kabar PHK yang silih berganti, sehingga mereka belajar bahwa loyalitas sering berjalan satu arah.
Frustrasi itu terlihat dalam tagar #KaburAjaDulu yang ramai di media sosial pada awal 2025, sebagaimana diulas Antara. Deloitte 2025 juga mencatat bahwa 21 persen Gen Z sudah tidak bekerja di industri atau jalur karier yang semula mereka rencanakan. Mereka tidak berpindah-pindah karena manja; mereka sedang mencari tempat yang layak.
Apa yang Bisa Dilakukan Perusahaan
Kabar baiknya, adaptasi tidak harus mahal. Pertama, transparan soal gaji, jenjang karier, dan kriteria kenaikan; orang lebih mudah bertahan ketika tahu arah. Kedua, patuhi aturan lembur dan ukur kinerja dari hasil, bukan lamanya duduk di kursi.
Ketiga, beri fleksibilitas yang masuk akal, entah jam kerja entah hibrida, tanpa menurunkan target. Keempat, ganti omelan dengan mentoring dan umpan balik rutin, karena anak muda mau belajar kalau dibimbing, bukan dihakimi. Kelima, perlakukan kesehatan mental sebagai urusan produktivitas, bukan kemewahan.
Penutup
Gen Z bukan generasi yang anti kerja. Mereka hanya menolak paket lengkapnya: beban berlebih, imbalan seadanya, lalu dicap tidak tahu terima kasih. Kalau perusahaan menginginkan tenaga dan ide mereka, tawarkan sistem yang masuk akal.
Sebab generasi yang menolak diperbudak sistem lama sebenarnya sedang memaksa dunia kerja kita naik kelas, dan itu bukan kemalasan, itu kemajuan. Pada akhirnya, perusahaan yang mau belajar dari Gen Z justru akan lebih siap menghadapi dunia kerja masa depan.
Oleh: Destia Raningsih
Mahasiswa Fakultas Hukum, Universitas Pamulang.Tangerang Selatan, November 2026.
Editor. Tim Redaksi
Referensi:
Deloitte, Global 2025 Gen Z and Millennial Survey; PP No. 35 Tahun 2021 tentang PKWT, Alih Daya, Waktu Kerja dan Waktu Istirahat, dan PHK; Jamalulel, I. dkk., International Journal of Business and Society, Vol. 26 No. 3 (2025); Rosa & Wulansari, e-Proceeding of Management Vol. 12 No. 5 (2025), Telkom University; Antara, “Gen Z in this economy” (2025); GoodStats, ringkasan survei Deloitte 2025.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment