Daratan dan Hutan
JATIM
Jember
Kampus
Lingkungan Hidup
Opini
Pendidikan
Sosial Masyarakat
Sungai
Di Jember, Ada Warga yang Berjalan 500 Meter Demi Satu Ember Air
APERO FUBLIC I Kemarau panjang yang berlanjut hingga akhir tahun membuat lebih dari 2.456 kepala keluarga di 10 kecamatan di Kabupaten Jember kini kesulitan mendapatkan air bersih. Kecamatan yang terdampak meliputi Puger, Wuluhan, Silo, Tempurejo, Kalisat, Sumberjambe, Jombang, Pakusari, Rambipuji, dan Bangsalsari.
Di wilayah-wilayah ini, sumur warga mengering, mata air menyusut, dan warga harus berjalan ratusan meter hanya untuk mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari. Bagi sebagian orang di pusat kota, ini mungkin belum terasa. Namun, bagi warga di kecamatan-kecamatan tersebut, mencari air bersih kini menjadi pekerjaan berat setiap hari.
Bukan Sekadar Soal Panasnya Matahari
Memang benar curah hujan menurun drastis tahun ini. Namun, persoalan air bersih di kecamatan-kecamatan tersebut tidak cukup dijawab dengan alasan "kemarau panjang" semata.
Faktanya, banyak desa yang sebelumnya tidak pernah mengalami kekeringan kini ikut terdampak. Ini menandakan bahwa kita belum memiliki infrastruktur penampungan dan jaringan distribusi yang merata hingga ke kecamatan-kecamatan terjauh.
Saat musim hujan tiba, air berlalu begitu saja tanpa tertampung dengan baik. Lalu saat kemarau datang, bantuan air baru dikirim solusi darurat yang baik untuk sesaat, tetapi belum menyentuh akar masalahnya.
Bantuan Harus Tepat Waktu dan Merata ke Setiap Kecamatan
Upaya penyaluran air bersih oleh BPBD, PMI, dan pemerintah daerah patut diapresiasi. Namun, warga di kecamatan-kecamatan terpencil berhak mengetahui kapan bantuan akan tiba di wilayah mereka, dan berapa lama penyaluran ini akan berjalan.
Sering kali warga di Silo, Tempurejo, atau Wuluhan harus menunggu lebih lama dibanding wilayah yang lebih dekat ke kota. Ketidakpastian ini membuat warga cemas berlebihan.
Seorang warga di Kecamatan Silo mengaku harus berjalan sekitar 500 meter setiap pagi demi mendapatkan air bersih, sementara sumur di rumahnya sudah benar-benar kering sejak dua bulan lalu.
Cerita serupa terulang di banyak kecamatan lain. Bantuan memang meringankan, tetapi tidak seharusnya menjadi satu-satunya solusi yang diandalkan tahun demi tahun.
Solusi Jangka Panjang Harus Merata Hingga ke Kecamatan Terjauh
Pembangunan embung, sumur resapan, penanaman kembali daerah tangkapan air, dan perpanjangan jaringan pipa bersih semua ini seharusnya sudah direncanakan dan dibangun jauh sebelum musim kemarau tiba, terutama di kecamatan-kecamatan yang paling rentan kekeringan seperti Puger, Silo, Wuluhan, dan Tempurejo.
Tidak adil jika warga di wilayah pedesaan dan pinggiran selalu menjadi yang paling berat menanggung dampak kekeringan, sementara pembangunan sumber air bersih belum merata hingga ke rumah-rumah mereka.
Jangan Biarkan Kekeringan Menjadi Rutinitas Tahunan
Pada akhirnya, warga di seluruh kecamatan di Jember tidak menuntut sesuatu yang berlebihan. Mereka hanya butuh air bersih yang tersedia di rumah, kapan pun dibutuhkan bukan kemewahan, melainkan hak dasar.
Penyaluran air darurat memang diperlukan saat krisis, tetapi yang lebih dibutuhkan adalah perencanaan jangka panjang yang adil dan merata, terutama bagi kecamatan-kecamatan yang paling membutuhkan.
Sebab, ketika warga di Silo, Wuluhan, atau Tempurejo harus berjuang hanya untuk setetes air bersih, itu bukan lagi soal cuaca melainkan tanda bahwa kita belum cukup menjaga kebutuhan paling mendasar sesama warga Jember. Jangan biarkan setiap musim kemarau selalu dimulai dengan harapan, dan berakhir dengan antrean air yang panjang di kecamatan-kecamatan kita.
PENULIS:
- Shofiyatul Izzatu Millah
- Deajeng Kafnani
- Farah Aulia Tanasyah
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Program Studi Tadris IPS.
Editor. Tim Redaksi

Post a Comment