Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Study Tour Bukan Sekadar Jalan-Jalan: Peran Psikologi Pendidikan Dalam Membentuk Kemandirian dan Karakter Siswa Mas Darussalam Bumi Nabung
Study Tour sebagai Pembelajaran Berbasis Pengalaman
APERO FUBLIC I David Kolb menjelaskan pembelajaran melalui pengalaman sebagai proses yang menghubungkan pengalaman konkret, refleksi, pembentukan konsep, dan percobaan penerapan. Dalam study tour, siswa dapat memulai dari pengalaman konkret—misalnya mengamati koleksi museum—kemudian mencatat temuan, mendiskusikan maknanya, menghubungkannya dengan materi pelajaran, dan menyampaikan hasil pemahaman dalam bentuk laporan atau presentasi.
Rangkaian tersebut membuat kunjungan tidak berhenti pada aktivitas melihat. Siswa perlu diberi pertanyaan pemantik yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Ketika mengunjungi situs sejarah, misalnya, mereka dapat diminta mengidentifikasi bukti sejarah, membandingkan sumber informasi, dan menjelaskan kaitan peristiwa masa lalu dengan kehidupan saat ini.
Pada kunjungan lingkungan, siswa dapat mengamati persoalan sampah, keanekaragaman hayati, atau perilaku masyarakat, lalu menyusun usulan sederhana berdasarkan hasil pengamatan.
Dampak terhadap Kognitif, Sosial, dan Emosi
Dari sisi kognitif, pengalaman langsung dapat membantu siswa memahami konsep abstrak melalui contoh yang dapat diamati. Interaksi dengan objek, narasumber, dan lingkungan juga membuka ruang untuk mengembangkan pertanyaan dan berpikir kritis.
Meski demikian, pengalaman langsung tidak otomatis menjamin pemahaman; guru tetap perlu menghubungkan pengalaman dengan konsep serta memeriksa pemahaman siswa setelah kegiatan.
Dari sisi sosial, tugas kelompok memberi kesempatan untuk berlatih komunikasi, pembagian peran, pengambilan keputusan, dan penyelesaian perbedaan pendapat. Kegiatan semacam ini juga dapat memperlihatkan bagaimana siswa bertanggung jawab terhadap kelompok dan menaati kesepakatan bersama.
Secara emosional, keberhasilan menyelesaikan tugas di lingkungan baru berpotensi meningkatkan rasa percaya diri dan keberanian bertanya. Guru perlu memastikan bahwa siswa yang pemalu, memiliki kebutuhan belajar berbeda, atau menghadapi keterbatasan tertentu tetap memperoleh peran dan dukungan yang sesuai.
Peran Guru dan Rancangan Kegiatan
Agar efektif, study tour perlu dirancang sebelum, selama, dan sesudah perjalanan. Sebelum berangkat, guru menetapkan capaian belajar, menjelaskan aturan keselamatan, membagi kelompok, serta menyediakan lembar observasi yang ringkas. Selama kunjungan, guru berperan sebagai fasilitator dan pendamping, bukan hanya pengawas perjalanan. Siswa perlu diberi ruang untuk bertanya dan mengeksplorasi, dengan batasan yang jelas.
Setelah kegiatan, siswa melakukan refleksi melalui laporan, poster, presentasi, jurnal pengalaman, atau proyek tindak lanjut. Penilaian sebaiknya tidak hanya melihat kerapian laporan, tetapi juga ketepatan pengamatan, kemampuan menghubungkan temuan dengan materi, kerja sama, dan refleksi pribadi. Sekolah juga perlu mempertimbangkan biaya, aksesibilitas, izin orang tua, kebutuhan kesehatan, transportasi, dan perlindungan peserta didik agar kegiatan tidak mengecualikan siswa tertentu.
Tantangan dan Prinsip Etis
Beberapa tantangan yang dapat mengurangi nilai study tour adalah jadwal terlalu padat, dominasi aktivitas berfoto, kurangnya pengarahan, serta tidak adanya tindak lanjut. Risiko keselamatan dan ketimpangan akses juga perlu diperhitungkan sejak awal. Karena itu, sekolah sebaiknya memilih lokasi berdasarkan relevansi pembelajaran, bukan semata popularitas.
Study tour yang baik juga menghormati masyarakat dan tempat yang dikunjungi. Siswa perlu memahami etika bertanya, menjaga kebersihan, menghargai aturan lokal, dan tidak mengambil gambar orang lain tanpa izin. Dengan demikian, pembelajaran di luar kelas sekaligus menjadi latihan tanggung jawab sosial.
Bagi MAS Darussalam Bumi Nabung, study tour dapat dirancang sebagai pembelajaran terstruktur yang menghubungkan mata pelajaran umum dan keislaman dengan pengalaman nyata. Sebelum kegiatan, guru dapat menetapkan tujuan dan lembar observasi; selama kegiatan, siswa bekerja dalam kelompok dengan pembagian peran; setelahnya, siswa menyusun laporan atau presentasi yang mengaitkan temuan dengan materi.
Lokasi, biaya, aksesibilitas, izin orang tua, keselamatan, serta kesesuaian dengan kebijakan madrasah perlu dipertimbangkan. Usulan ini perlu disesuaikan dengan kondisi dan program resmi madrasah.
Kesimpulan
Study tour dapat menjadi pengalaman belajar yang kaya karena menghubungkan pengetahuan, pengalaman nyata, dan interaksi sosial. Namun, manfaatnya bergantung pada tujuan yang jelas, kegiatan observasi yang terarah, pendampingan guru, akses yang adil, keselamatan, dan refleksi setelah perjalanan.
Jika dirancang sebagai bagian dari kurikulum, study tour bukan sekadar jalan-jalan, melainkan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman, kemandirian, kerja sama, rasa ingin tahu, dan karakter siswa.
Oleh: Anas Muasan Ali, SPd
Mahasiswa UIN Jurai Siwo Lampung, Fakultas Pascasarjana, Jurusan Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Daftar Pustaka
Ahmad, A., Haris, A., Hermansyah, H., & Mulyadi, W. (2024). Peningkatan Literasi Melalui Program Study Tour di Sekolah Dasar. Muróbbî: Jurnal Ilmu Pendidikan, 8(1), 151–163. https://doi.org/10.52431/murobbi.v8i1.2513
Afriani, A., Kinanti, T. A., Br Tarigan, S. F., Anggraini, R., Pohan, N., Sakila, I., Zhafira, A., Sanjana, A., Piliang, A. S., & Rangkuti, F. R. (2024). Relevansi Study Tour dalam Dunia Pendidikan. Educational Studies and Research Journal, 1(2), 99–105. https://doi.org/10.60036/arkpr704
Azzahra, A. F., Kirani, C., Hidayah, D. R., Sahmaluddin, M. I., & Suhardi, S. (2025). Analisis Kebijakan Larangan Study Tour di SMPN 11 Kota Tangerang Selatan. Jurnal Pendidikan Tambusai, 9(2), 23651–23654. https://doi.org/10.31004/jptam.v9i2.30416
Winarni, W. (2025). Kebijakan dan Dinamika Pelaksanaan Kegiatan Study Tour di Jenjang Sekolah Dasar. Jurnal Kiprah Pendidikan, 4(3), 350–355. https://doi.org/10.33578/kpd.v4i3.p350-355.
Sy. Apero Fublic
Via
Mahasiswa

Post a Comment