Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Stigma Kesehatan Mental di Masyarakat: Ketika Masalah Psikologis Masih Dianggap Sepele
APERO FUBLIC I Pernah ga sih saat kalian sedang mengungkapkan perasaan yang sedang kalian pendam kepada orang, tapi orang itu malah ngomong… “kurang ibadah itu, banyak-banyak ibadah deh”, “yaudah si ngapain dipikirin banget dah”, atau “eh tapi biasanya lo keliatan baik-baik aja sih wkwk.”
Kalimat seperti ini mungkin kedengarannya biasa bagi sebagian orang, tapi bagi seseorang yang sedang berjuang dengan kesehatan mentalnya, perkataan tersebut bisa terasa menyakitkan.
Tanpa disadari, ucapan yang dianggap sebagai nasihat justru dapat membuat seseorang merasa tidak dipahami. Hal inilah yang menunjukkan bahwa stigma terhadap kesehatan mental masih menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian di masyarakat.
Menurut saya, stigma terhadap kesehatan mental masih cukup sering ditemukan karena kurangnya pemahaman masyarakat mengenai kondisi psikologis seseorang. Masalah seperti depresi dan kecemasan terkadang dikaitkan dengan lemahnya iman atau anggapan bahwa seseorang sudah jauh dari Tuhan.
Padahal, kesehatan mental tidak bisa dinilai hanya dari sisi keagamaan saja. Setiap orang mempunyai pengalaman hidup, lingkungan, dan permasalahan yang berbeda-beda. Oleh karena itu, kita tidak bisa langsung menyimpulkan penyebab seseorang mengalami masalah psikologis tanpa memahami keadaan yang sebenarnya.
Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa seseorang yang sedang mengalami masalah kesehatan mental belum tentu menunjukkan kesedihan secara langsung. Ada orang yang masih bisa tertawa, bercanda, beraktivitas seperti biasa, bahkan terlihat bahagia ketika berada di tengah orang lain.
Namun, hal tersebut tidak selalu menggambarkan apa yang sedang mereka rasakan. Menurut saya, inilah alasan mengapa kita tidak seharusnya menilai kondisi seseorang hanya berdasarkan penampilannya. Apa yang terlihat dari luar belum tentu sama dengan apa yang sedang dialami di dalam dirinya.
Kurangnya pemahaman tersebut dapat membuat masyarakat memberikan penilaian yang keliru terhadap orang yang mengalami masalah kesehatan mental. Ketika seseorang mulai bercerita tentang kesulitannya, mereka justru bisa mendapatkan tanggapan seperti dianggap terlalu sensitif, kurang bersyukur, atau hanya mencari perhatian.
Padahal, belum tentu orang tersebut membutuhkan nasihat panjang. Bisa jadi, mereka hanya ingin didengarkan dan mendapatkan pengertian dari orang-orang di sekitarnya. Menurut saya, kebiasaan menganggap remeh masalah orang lain perlu diubah karena kita tidak pernah benar-benar mengetahui seberapa berat sesuatu yang sedang mereka hadapi.
Hal ini sejalan dengan penjelasan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam artikel Memutus Rantai Stigma Kesehatan Jiwa (2024), yang membahas bagaimana stigma terhadap masalah kesehatan jiwa dapat membuat seseorang merasa malu atau takut untuk mencari pertolongan.
Stigma dan diskriminasi menjadi persoalan yang perlu diatasi karena dapat menghambat seseorang dalam memperoleh dukungan yang dibutuhkan. Menurut saya, keadaan ini cukup memprihatinkan karena orang yang sedang mengalami kesulitan justru bisa merasa semakin sendirian akibat penilaian dari lingkungannya.
Padahal, mereka membutuhkan dukungan agar dapat menghadapi permasalahannya dengan lebih baik. Stigma tersebut juga dapat membuat seseorang memilih untuk memendam masalahnya sendiri. Mereka mungkin takut dianggap aneh, menjadi bahan pembicaraan, atau mendapatkan respons negatif apabila menceritakan apa yang sedang dirasakan.
Akibatnya, mereka bisa menunda mencari bantuan karena khawatir tidak akan dipahami. Menurut saya, kondisi ini menunjukkan bahwa cara masyarakat memandang kesehatan mental memiliki pengaruh terhadap keberanian seseorang untuk terbuka.
Lingkungan yang seharusnya menjadi tempat untuk memperoleh dukungan justru dapat menjadi sumber tekanan apabila dipenuhi dengan penilaian yang merendahkan. Selain itu, pembahasan mengenai kesehatan mental dan agama juga perlu disikapi dengan lebih bijaksana.
Menurut saya, ibadah dan dukungan spiritual dapat menjadi sumber ketenangan bagi seseorang dalam menghadapi kesulitan hidup. Akan tetapi, kita tidak seharusnya langsung menganggap bahwa setiap masalah psikologis terjadi karena kurangnya ibadah.
Persoalan kesehatan mental dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pengalaman hidup, tekanan lingkungan, hubungan sosial, dan kondisi individu. Karena itu, memberikan nasihat keagamaan tanpa memahami keadaan seseorang terlebih dahulu justru berisiko membuat mereka merasa disalahkan.
Dukungan spiritual dan bantuan profesional sebenarnya tidak harus dipertentangkan.
Seseorang tetap dapat menjalankan ibadah sesuai keyakinannya sekaligus mencari bantuan dari psikolog atau tenaga kesehatan lainnya ketika dibutuhkan. Psikolog dapat membantu seseorang memahami permasalahan, mengenali pola pikir dan perilaku, serta menemukan cara menghadapi kesulitan yang sesuai dengan kondisinya.
Mencari bantuan profesional bukan berarti seseorang kurang beriman atau tidak mampu menyelesaikan masalahnya sendiri. Justru, menyadari bahwa dirinya membutuhkan bantuan merupakan salah satu langkah untuk menjaga kesejahteraan diri.
Sebagai mahasiswa psikologi, saya merasa bahwa pemahaman mengenai kesehatan mental seharusnya tidak hanya dipelajari dalam lingkungan perkuliahan, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pengetahuan tersebut akan lebih bermakna apabila dapat membantu kita memahami orang lain tanpa terburu-buru memberikan penilaian.
Namun, kepedulian terhadap kesehatan mental bukan hanya tanggung jawab mahasiswa psikologi atau tenaga profesional. Masyarakat secara umum juga perlu memiliki kesadaran bahwa setiap orang berhak mendapatkan dukungan ketika menghadapi kesulitan psikologis.
Upaya mengurangi stigma dapat dimulai dari hal-hal sederhana, seperti berhati-hati dalam berbicara, tidak menyebarkan cerita pribadi orang lain tanpa izin, dan tidak menjadikan masalah kesehatan mental sebagai bahan candaan. Kita juga perlu membiasakan diri untuk bertanya dan mendengarkan daripada langsung berasumsi.
Apabila seseorang bercerita tentang masalahnya, kita dapat memberikan ruang bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan tanpa memaksakan pendapat atau membandingkan kesulitannya dengan pengalaman orang lain. Sikap seperti ini dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih terbuka dan saling menghargai.
Pada akhirnya, menurut saya, kita tidak seharusnya menunggu seseorang berada dalam kondisi yang sangat terpuruk untuk mulai menunjukkan kepedulian. Kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik karena keduanya dapat saling memengaruhi.
Memahami orang lain berarti menyadari bahwa setiap individu mempunyai perjuangan yang tidak selalu terlihat dan tidak semua masalah memiliki penyebab yang sama. Kita mungkin tidak mampu memahami seluruh pengalaman seseorang, tetapi kita tetap bisa memilih untuk tidak menambah beban mereka melalui perkataan yang menyakitkan.
Saya berharap masyarakat dapat menjadi lebih terbuka dan peka terhadap kesehatan mental. Kita perlu belajar mendengarkan tanpa menghakimi, menghargai perasaan orang lain, serta memberikan dukungan tanpa meremehkan masalah yang mereka hadapi. Daripada menjatuhkan seseorang dengan perkataan yang menyakitkan, akan lebih baik jika kita saling menguatkan dan membantu mereka menemukan pertolongan yang tepat.
Sebab, kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Terkadang, kesediaan untuk mendengarkan dan tidak menghakimi sudah menjadi langkah awal untuk membuat seseorang merasa lebih aman dalam menghadapi masalahnya.
Penulis: Melati Izzaura Irawan
Mahasiswi Fakultas Psikologi, UIN Ar-Raniry.
Editor. Tim Redaksi
Daftar Pustaka
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 29 Oktober). Memutus rantai stigma kesehatan jiwa.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 30 Juni). Orang dengan gangguan jiwa (ODGJ): Mitos, stigma dan upaya yang dilakukan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (t.t.). Kesehatan jiwa: Masalah yang sering disepelekan dan dianggap tidak penting.
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment