Kampus
Mahasiswa
Opini
Pendidikan
Kesenjangan Antara Keberanian Berbicara dan Efektivitas Penyampaian Pesan dalam Pengembangan Sumber Daya Manusia
APERO FUBLIC I Seringkali orang mengira kemampuan berbicara di depan umum hanyalah bakat yang dimiliki mereka yang terlahir pandai menyusun kata dengan lancar dan percaya diri. Padahal pada hakikatnya hal ini bukan sekadar soal seberapa lantang suara atau seberapa indah kalimat yang terucap, melainkan seberapa baik gagasan yang kita sampaikan dapat diterima dan dipahami sepenuhnya oleh orang lain.
Kemampuan ini justru sudah kita jalani setiap hari tanpa banyak yang menyadarinya, mulai dari saat menyampaikan pendapat dalam rapat, melakukan presentasi hasil kerja, menjelaskan tugas kepada rekan yang baru bergabung, hingga berkomunikasi melalui berbagai sarana digital yang kini semakin beragam.
Hal ini menjadi sangat krusial ketika dikaitkan langsung dengan pengelolaan dan pengembangan Sumber Daya Manusia di lingkungan organisasi maupun perusahaan, karena kualitas komunikasi menjadi penentu utama seberapa baik pemahaman tumbuh, kerja sama terjalin, serta pertumbuhan kemampuan setiap orang dapat berjalan sesuai tujuan yang diharapkan.
Banyak orang lebih sibuk melatih keberanian untuk tampil di depan daripada memikirkan cara agar pesan yang dibawa benar-benar sampai jelas ke benak pendengar, padahal tanpa pemahaman yang sama di antara kedua belah pihak, segala pembicaraan tidak akan menghasilkan perubahan atau kemajuan yang berarti bagi pengembangan kualitas diri maupun kinerja seluruh tim.
Berbicara panjang lebar, menggunakan istilah yang terlalu rumit, atau menyampaikan sesuatu dengan terburu-buru sama sekali tidak menjamin pesan akan dipahami dengan tepat. Seringkali justru sebaliknya, semakin banyak kata yang diucapkan tanpa arah yang jelas, semakin mudah pendengar kehilangan inti dari apa yang sebenarnya ingin disampaikan, dan hal ini memberikan dampak yang sangat nyata dalam dunia kerja maupun pengelolaan SDM.
Ketika seorang pemimpin atau tenaga pengembang SDM menyampaikan kebijakan, rencana pelatihan, atau arahan kerja dengan cara yang berbelit-belit atau terlalu cepat, maka para anggota tim akan kesulitan menangkap apa yang menjadi tugas serta harapan yang diberikan kepada mereka.
Akibatnya muncul kesalahpahaman, pekerjaan tidak berjalan sesuai standar, dan potensi yang dimiliki setiap orang tidak dapat berkembang secara maksimal hanya karena informasi yang diterima tidak utuh atau tidak mudah dipahami. Kemampuan berbicara dengan lancar memang menguntungkan, namun hal itu menjadi tidak berguna jika isinya tidak dapat dipahami oleh mereka yang mendengarkan.
Penjelasan yang sederhana, langsung pada inti, dan mudah diikuti jauh lebih bernilai daripada pidato yang panjang namun kosong maknanya, karena tujuan utama dari setiap komunikasi adalah menyatukan pemahaman bukan sekadar memamerkan kemampuan berbicara.
Banyak orang yang sebenarnya sangat menguasai materi atau topik yang sedang dibahas, namun ketika tiba waktunya untuk menyampaikannya justru terjebak pada kebiasaan membaca seluruh tulisan yang ada di layar atau catatan yang mereka pegang.
Hal ini sering terlihat saat kegiatan pelatihan, penyuluhan, atau penyampaian program kerja yang berkaitan dengan pengembangan SDM, di mana penyampai lebih sibuk memastikan tidak ada satu kalimat pun yang terlewat dibaca daripada memastikan pendengar benar-benar mengerti makna dari setiap kalimat tersebut.
Ada pula yang menghabiskan waktu berlatih hanya untuk menghafal kata per kata sehingga ketika lupa satu bagian kecil saja, mereka langsung kehilangan arah dan pembicaraan menjadi terhenti tanpa solusi.
Padahal tujuan utama dari menyampaikan sesuatu bukanlah untuk memindahkan tulisan dari kertas atau layar menjadi ucapan, melainkan mengajak orang lain memahami gagasan yang ada di balik tulisan tersebut.
Dalam konteks pengelolaan SDM, hal ini sangat penting karena setiap arahan atau penjelasan yang diberikan akan menjadi pedoman bagi orang lain untuk bekerja, berkembang, dan memberikan kontribusi terbaik mereka.
Jika yang didengar hanyalah rangkaian kata yang dibaca tanpa jiwa atau makna yang dijelaskan, maka pesan tersebut tidak akan tertanam dalam pikiran dan tidak akan mendorong perbaikan apa pun pada diri mereka yang mendengarkannya.
Mengetahui kepada siapa kita berbicara adalah langkah yang sangat penting yang sering kali diabaikan oleh banyak orang yang ingin menguasai kemampuan berbicara di depan umum.
Cara menjelaskan sesuatu kepada rekan kerja yang sudah lama mengenal lingkungan pekerjaan tentu berbeda dengan cara menjelaskan hal yang sama kepada karyawan baru, pimpinan, atau peserta pelatihan yang datang dari latar belakang yang beragam.
Dalam bidang pengembangan Sumber Daya Manusia, kemampuan menyesuaikan gaya bahasa, contoh yang digunakan, serta kedalaman penjelasan dengan kondisi dan kemampuan pendengar adalah keterampilan yang sangat berharga.
Seseorang dapat menyampaikan materi yang sangat baik namun jika cara penyampaiannya tidak sesuai dengan pemahaman mereka yang mendengarkan, maka isi pembicaraan tersebut tidak akan memberikan manfaat apa pun.
Selain pemilihan kata yang tepat, perhatian juga perlu diberikan pada bahasa tubuh, kontak mata, intonasi suara, serta ekspresi wajah yang ditampilkan selama berbicara. Hal-hal tersebut memperkuat makna dari setiap kata yang diucapkan dan membuat komunikasi terasa lebih hidup serta lebih dekat dengan pendengar.
Ketika seseorang hanya terpaku pada teks tanpa berusaha menjalin hubungan dengan mereka yang mendengarkan, maka akan muncul jarak yang membuat pesan terasa jauh dan sulit dirasakan, padahal dalam membangun SDM yang berkualitas, rasa keterhubungan serta kepercayaan antarindividu menjadi pondasi utama yang harus dibangun melalui setiap pertemuan dan pembicaraan.
Tidak ada orang yang mampu menyampaikan sesuatu dengan sempurna sejak awal tanpa melalui proses belajar dan berlatih yang berkelanjutan. Merasa gugup, salah mengucapkan kata, atau lupa sejenak adalah hal yang sangat wajar terjadi bahkan pada mereka yang sudah berpengalaman sekalipun, dan hal ini tidak seharusnya dijadikan alasan untuk berhenti berusaha mengembangkan diri.
Dalam pengelolaan Sumber Daya Manusia, hal ini menjadi pelajaran yang berharga karena setiap proses pengembangan diri dimulai dari keberanian untuk mencoba dan belajar dari kesalahan yang dilakukan.
Kemampuan menyampaikan pesan dengan baik tidak akan terbentuk hanya dalam satu atau dua kali kesempatan, melainkan tumbuh dan terasah melalui kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.
Kita dapat memulainya dari hal-hal yang sederhana seperti berani menyampaikan pendapat dalam diskusi kelompok, menjelaskan cara melakukan sesuatu kepada teman atau rekan kerja, atau mencoba berbicara di depan kamera untuk melatih cara menyusun pikiran sebelum diucapkan.
Semakin sering kita melatih diri untuk berkomunikasi, semakin terbiasa pula pikiran kita menyusun gagasan dengan teratur dan semakin luwes cara kita menyampaikannya kepada orang lain.
Pengembangan diri dalam hal komunikasi ini juga menjadi bagian dari pengembangan kualitas SDM secara keseluruhan, karena setiap kemajuan yang dicapai oleh seorang individu akan membawa dampak baik bagi kemajuan seluruh kelompok maupun organisasi tempat ia berada. Di era digital yang semakin berkembang saat ini, kemampuan menyampaikan pesan dengan tepat justru menjadi semakin penting dibandingkan sebelumnya.
Banyaknya sarana dan saluran komunikasi yang tersedia mulai dari rapat daring, rekaman video, siaran langsung, hingga berbagai platform media sosial memudahkan kita untuk menyampaikan sesuatu kepada banyak orang sekaligus, namun kemudahan tersebut tidak serta merta membuat komunikasi menjadi efektif.
Justru karena informasi dapat tersebar dengan sangat cepat dan jumlahnya semakin banyak, kita dituntut untuk mampu menyampaikan pesan yang singkat, padat, jelas, dan mudah dipahami dalam waktu yang terbatas agar tidak tertinggal atau tertukar dengan informasi lainnya.
Hal ini memberikan tantangan sekaligus peluang besar bagi pengelolaan Sumber Daya Manusia, karena kemampuan menyaring dan menyampaikan informasi yang benar kepada seluruh anggota menjadi kunci agar organisasi tetap berjalan seirama meskipun berkomunikasi melalui sarana yang beragam.
Pada akhirnya, tujuan utama dari kemampuan berbicara di depan umum bukanlah untuk menjadi yang paling lantang atau paling percaya diri berdiri di hadapan orang banyak, melainkan memastikan setiap gagasan yang kita bawa dapat dipahami, diterima, dan dijalankan dengan baik oleh mereka yang mendengarkan.
Oleh karena itu, belajarlah bukan hanya untuk berani berbicara, melainkan belajarlah untuk memahami isi pesan yang dibawa, mengenal siapa yang akan menerima pesan tersebut, dan mencari cara terbaik agar pesan itu dapat bermanfaat bagi kemajuan bersama serta pengembangan kualitas diri dan lingkungan di mana kita berada.
Oleh: Adam Kurniawan
Mahasiswa Universitas Pamulang.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment