Cerita Kita
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
SKENARIO TERBAIK-NYA
APERO FUBLIC I CERITA KITA.-- Tahun 2020 menjadi momen yang membingungkan bagi banyak orang. Pandemi COVID-19 mengubah banyak rencana, termasuk impianku yang baru lulus dari SMPN 1. Sebagai lulusan dari sekolah yang tergolong favorit, egoku saat itu cukup tinggi. Aku hanya ingin melanjutkan pendidikan ke SMKN 1 dan mengambil jurusan Teknik Komputer dan Jaringan (TKJ), yang menjadi primadona saat itu.
Namun, sistem zonasi mempersulit langkahku karena jarak rumah yang cukup jauh. Harapan satu-satunya adalah jalur nilai. Guru-guruku sempat meyakinkan bahwa nilaiku aman untuk masuk ke sana. Di masa pandemi yang membuat sistem pendaftaran daring menjadi serba meribetkan, aku dan seorang temanku hampir setiap hari datang ke sekolah demi mencari informasi. Kami bahkan rela berangkat saat subuh agar tidak tertinggal antrean yang mengular panjang.
Saat hari pengumuman tiba, aku langsung memeriksa situsnya dengan penuh harap. Namun, kenyataannya justru berbanding terbalik dengan ekspektasi. Namaku tidak ada di daftar siswa yang diterima. Sementara itu, temanku yang berjuang bersama justru lolos di jurusan Elektro lewat jalur nilai, meskipun selisih nilai kami sangat tipis. Rasanya benar-benar terpukul dan kecewa.
Dengan perasaan sedih, aku mencari sekolah SMK lainnya dan aku mengambil formulir pendaftaran di SMK swasta Bintang Harapan. Sesampainya di rumah, formulir itu hanya kudiamkan. Gengsi dan egoku memberontak karena masih berharap bisa masuk sekolah negeri. Akhirnya, aku berkata kepada orang tua;
"Aku tidak mau sekolah di swasta. Lebih baik aku sekolah di kampung atau masuk pondok saja."
Ibu langsung menolak opsi pertama. Beliau khawatir jika aku tinggal bersama nenek di kampung, aku justru akan tumbuh menjadi anak yang manja. Karena pilihan tersisa hanya pondok pesantren yaitu sebuah dunia yang asing bagi keluargaku.
Kami mulai bertanya ke tetangga dan kerabat. Sempat ada saran dari saudaraku untuk mondok di daerah Majenang, Jawa Tengah, tetapi Ibu melarang karena jaraknya terlalu jauh untuk ukuran anak yang baru pertama kali mondok.
Akhirnya, seorang tetangga menyarankan sebuah pondok di daerah Bogor. Kami pun langsung pergi ke sana untuk survei. Lokasinya cukup terpencil, berada di tengah hutan dan hampir di atas bukit. Di sana, seorang kakak laki-lakiku bertanya kepadaku,
"Bagaimana, cocok tidak?", Tanpa berpikir panjang, aku langsung mengiyakan. Saat itu, aku hanya ingin lari dari kenyataan dan menyembuhkan luka hati karena ditolak di sekolah negeri.
Hari keberangkatan pun tiba. Karena protokol kesehatan yang ketat, keluargaku hanya bisa mengantarku sampai di depan pondok. Aku harus masuk ke lingkungan pondok sendirian. Saat menata baju di dalam lemari dengan dibantu oleh pengurus pondok, air mataku tiba-tiba menetes. Pikiranku berkecamuk dengan berbagai pertanyaan:
“Apakah aku akan betah?”
“Bisakah aku ikhlas?”
“Bagaimana dengan makannya?”
“Bagaimana nanti kalau mau mandi?”
Banyak pertanyaan yang mampir dipikiranku saat baru datang dipondok. Sebagai lulusan SMP umum, aku diwajibkan masuk kelas intensif selama satu tahun untuk mengejar ketertinggalan pelajaran, terutama dalam hal bahasa resmi pondok. Di sinilah perjuanganku yang sebenarnya dimulai.
Hidup di pondok berbasis bahasa ternyata sangat menguji mental. Kami diwajibkan berkomunikasi menggunakan bahasa resmi. Jika tidak sengaja melanggar atau keceplosan berbicara dengan bahasa daerah, mata-mata bahasa akan mencatat nama kami.
Hukumannya sangat membuat malu, yaitu wajib memakai kerudung pelanggar dengan warna yang mencolok. Berkeliling pondok dengan kerudung itu rasanya benar-benar menjatuhkan mental karena menjadi pusat perhatian santri lain.
Kondisi fasilitas yang terbatas juga menjadi tantangan harian. Di pondok ini, air adalah barang yang sangat berharga dan harus dihemat. Mandi tidak bisa dilakukan dengan santai, melainkan harus menggunakan strategi khusus. Kalimat-kalimat seperti;
"Aku mandi setelah kamu, ya!", menjadi kode wajib agar tidak kehabisan antrean di kamar mandi yang bisa memakan waktu berjam-jam.
Urusan perut pun sama saja. Karena antrean dapur selalu mengular, kami harus saling bekerja sama agar tidak terlambat mengikuti kegiatan pondok. Kalimat seperti,
"Nitip ambil makan, ya," atau "Aku antre makan di belakangmu, ya!".
Selalu terdengar setiap hari. Pada awalnya, aku merasa sangat kesal dan ingin pindah. Aku terus membandingkan keadaan ini dengan kenyamanan yang biasa kurasakan di rumah.
Namun, seiring berjalannya waktu, aku mulai terbiasa. Aku belajar mengatur waktu agar tidak terlambat mengantre air dan makan.
Aku juga mulai memahami arti tanggung jawab dari tugas piket harian dan kerja bakti. Kami berbagi tugas menyapu halaman, mengepel lantai, membersihkan kamar mandi, hingga membantu mengangkut batu dan pasir untuk pembangunan fasilitas pondok yang baru.
Bekerja bersama di bawah terik matahari tanpa memandang latar belakang asal-usul ternyata menumbuhkan rasa persaudaraan yang sangat kuat. Kalimat saling “booking” kamar mandi yang dulunya terucap karena terpaksa, perlahan-lahan berubah menjadi wujud saling pengertian antar-saudara sekamar.
Tantangan hidupku bertambah ketika aku dipercaya untuk naik kelas menjadi pengurus pondok. Mengurus ratusan santri dengan karakter yang berbeda-beda memberikan pengalaman yang tidak bisa digambarkan dengan kata-kata.
Setiap hari ego dan kesabaranku diuji. Aku harus menjaga kedisiplinan aturan bahasa, menertibkan antrean, hingga menenangkan santri-santri baru yang menangis karena rindu rumah, sama persis seperti diriku beberapa tahun lalu.
Rasa lelah yang kurasakan sering kali luar biasa, tetapi ada kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri saat melihat santri yang kami bimbing bisa mandiri. Menjadi pengurus mengajariku arti sejati dari sebuah pengabdian.
Tahun demi tahun berlalu, dan semua kesulitan itu kini berubah menjadi kenangan manis yang kurindukan. Antrean air yang dulu membuatku mengeluh kini mengingatkanku pada arti kesabaran. Ketakutan akan kerudung bahasa dan keamanan yang mencolok kini menjadi cerita lucu, dan lelahnya mengurus ratusan santri bertransformasi menjadi pelajaran kepemimpinan yang sangat berharga.
Kini, aku sering tersenyum sendiri jika mengenang masa-masa itu. Aku masuk pondok bukan karena niat murni dari hati, melainkan karena ingin mengobati rasa kecewa.
Namun, rencana Allah ternyata jauh lebih indah. Lewat segala keterbatasan di pondok, aku ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat, mandiri, dan pandai bersyukur.
Saat ini, aku sedang menempuh kuliah semester dua di program studi Pendidikan Agama Islam. Lucunya, aku masih menjalani kehidupan sebagai seorang santri, meskipun sekarang berada di pondok pesantren yang berbeda dengan sistem dan adat yang baru.
Perjalanan masa lalu telah mendewasakanku, dan bismillah, semoga langkahku untuk kuliah sambil mondok saat ini selalu diberikan kelancaran oleh-Nya. Aamiin. Sebab pada akhirnya aku paham, patah hati karena gagal masuk sekolah negeri bukanlah sebuah kesialan, melainkan cara elegan dari Allah untuk meruntuhkan egoku.
Melalui ketatnya aturan dan keterbatasan fasilitas di pesantren, Dia tidak hanya melatih kemandirian dan ketangguhan mental belajarku, tetapi juga menuntunku ke jalur terbaik untuk menemukan makna hidup yang sesungguhnya.’
Oleh: Hanifah Nazwa Khoerunisa
Editor. Tim Redaksi
Hanifah Nazwa Khoerunisa, mahasiswa Universitas Islam Negeri Saifuddin Zuhri, Purwokerto. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, program studi Pendidikan Agama Islam.
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment