Kampus
Mahasiswi
Opini
Dimana Ruang Anak Bermain Imajinatif, Jika Belajar Harus Selalu Duduk Dan Menulis (Sudut Psikologi Konstruktivisme)
APERO FUBLIC I Dalam pendidikan dasar terutama fase A, proses belajar masih sering dianggap berhasil jika anak duduk dengan tenang, diam, serta mengikuti instruksi gurunya. Padahal seorang anak juga membutuhkan kesempatan untuk bergerak, mencoba hal baru, serta menggunakan imajinasinya.
Aturan belajar yang terlalu kaku dan kurang memberikan waktu untuk bermain dapat menghambat perkembangan anak. Sebenarnya, bermain merupakan bagian penting dalam proses belajar karena dapat membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir termasuk juga memahami konsep matematika yang lebih sulit.
Menurut teori konstruktivisme, anak belajar dengan lebih baik ketika mereka diberi kesempatan untuk bergerak, mencoba, dan menggunakan imajinasinya. Jika anak terlalu dibatasi untuk bergerak dan hanya diminta duduk serta menulis, mereka dapat mengalami kesulitan memahami materi yang bersifat abstrak sebelum benar-benar memahami konsep dasarnya melalui pengalaman nyata.
Hal ini menimbulkan pertanyaan penting dalam dunia pendidikan yakni bagaimana anak dapat mengembangkan kreativitas dan imajinasinya jika kegiatan belajar terlalu kaku dan hanya fokus pada duduk, mendengarkan dan menulis?.
Menurut teori perkembangan kognitif Jerome Bruner, anak belajar melalui tiga tahap, yaitu belajar dengan melakukan secara langsung, belajar melalui gambar atau bentuk visual (iconic), dan belajar menggunakan simbol atau bahasa.
Pembelajaran menjadi kurang efektif ketika anak langsung diminta menghafal nama, rumus, atau sifat-sifat bangun geometri tanpa terlebih dahulu mencoba dan melihat contoh nyata.
Oleh karena itu, anak sebaiknya diberi kesempatan untuk melakukan kegiatan langsung dan mengamati gambar sebelum mempelajari konsep yang lebih abstrak.
Hubungan teori konstruktivisme dengan praktik pembelajaran terlihat dari lembar kerja siswa pada foto.
Tiga anak menunjukkan hasil karya berupa kolase dari potongan kertas bangun datar berbentuk lingkaran, segitiga, persegi panjang, dan persegi dengan berbagai warna. Kegiatan yang dilakukan anak tersebut bukan sekadar membuat karya, tetapi juga membantu anak mengembangkan kemampuan berpikir dan memahami bentuk geometri.
Berbeda dengan metode menghafal definisi, kegiatan menggunting, menyusun, dan menempel bangun datar membuat anak belajar secara langsung. Misalnya, anak menggunakan segitiga sebagai atap rumah, persegi panjang sebagai dinding, dan lingkaran sebagai daun pohon.
Menurut teori Constructionism dari Seymour Papert, benda konkret seperti potongan kertas dapat membantu anak memahami konsep abstrak melalui kegiatan membuat karya sesuai imajinasinya.
Saat menyusun bangun datar menjadi gambar, anak belajar memahami posisi, bentuk, dan hubungan antara bagian-bagian suatu benda. Misalnya, anak menyusun lingkaran menjadi tajuk pohon atau segitiga menjadi atap rumah.
Kegiatan ini membantu mengembangkan kemampuan berpikir dan memahami ruang, yang menjadi dasar untuk mempelajari konsep matematika seperti luas, keliling, dan simetri.
Antusiasme anak-anak saat menunjukkan hasil kolase bangun datar menunjukkan bahwa mereka merasa mampu dan memiliki kebebasan untuk berkarya.
Menurut teori Self-Determination dari Deci dan Ryan, perasaan tersebut dapat meningkatkan motivasi belajar anak. Dengan kegiatan yang menyenangkan, matematika tidak lagi dianggap sebagai pelajaran yang menakutkan, tetapi menjadi kesempatan bagi anak untuk berkreasi, menunjukkan kemampuan, dan merasa bangga terhadap hasil karyanya.
Pembelajaran matematika pada anak usia sekolah dasar perlu didukung oleh ruang kelas dan kurikulum yang lebih sesuai dengan kebutuhan anak. Jika anak terus-menerus diminta duduk diam, mencatat, dan mengikuti aturan yang kaku tanpa kesempatan untuk berkreasi, mereka dapat merasa bosan dan kesulitan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif serta memahami bentuk dan ruang.
Untuk menjadikan pembelajaran matematika lebih menyenangkan, guru perlu menerapkan pendekatan konstruktivisme dengan melibatkan anak secara langsung. Materi bangun datar dapat diajarkan melalui kegiatan menggunting, menyusun, membongkar, dan menggabungkan bentuk geometri menjadi gambar sesuai imajinasi anak sebelum mereka mempelajari rumus atau simbol matematika.
Lembar kerja siswa sebaiknya tidak hanya berisi soal tertulis atau kegiatan menyalin, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk menempelkan hasil karya, berkreasi, serta mendiskusikan hasil pekerjaannya bersama guru dan teman.
Susunan meja dan kursi juga sebaiknya tidak selalu menghadap ke papan tulis. Guru dapat mengatur ruang kelas agar anak lebih mudah bekerja sama, bergerak, bereksplorasi, dan memamerkan hasil karyanya.
Kesimpulan
Anak perlu diberi kesempatan untuk bermain dan berimajinasi dalam pembelajaran. Menurut teori konstruktivisme, pemahaman matematika tidak cukup dibangun melalui hafalan, tetapi juga melalui pengalaman langsung, seperti mencoba, menyusun, dan mengolah berbagai benda.
Dalam pembelajaran bangun datar, misalnya, anak dapat menyusun potongan kertas menjadi gambar rumah atau pohon. Kegiatan ini membantu anak memahami bentuk geometri secara nyata, mengembangkan kreativitas, dan melatih kemampuan berpikir tentang ruang.
Oleh karena itu, pembelajaran matematika sebaiknya tidak hanya berfokus pada duduk dan menulis, tetapi juga memberikan ruang bagi anak untuk bereksplorasi dan belajar melalui imajinasi.
Oleh: Anti Lutviana, S.Pd
Universitas Islam Negri Jurai Siwo Lampung (UIN JUSILA, jurusan S2 Pendidikan Agama Islam.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment