Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Sleman
Yogyakarta
Program Sensory Time RA Fairuz AqilaMenstimulasi Tumbuh Kembang Anak agar Siap Belajar
Sensory Time di RA Fairuz Aqila
APERO FUBLIC I SLEMAN.– Raudhatul Athfal (RA) Fairuz Aqila di Dusun Sorogenen, Purwomartani, Kalasan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, melaksanakan program Sensory Time secara konsisten setiap pagi dalam kegiatan pembelajaran harian. Kegiatan yang dilaksanakan oleh tim pendidik RA Fairuz Aqila ini ditujukan bagi peserta didik usia 4–6 tahun sebagai bagian dari upaya memberikan stimulasi sesuai kebutuhan tumbuh kembang anak.
Program ini juga mendukung penerapan PAUD Holistik Integratif serta berkaitan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera dan SDGs 4 tentang Pendidikan Berkualitas.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Ummi Dwi Siti Nur Ovifah, S.Pd. sebagai guru RA Fairuz Aqila, program Sensory Time bertujuan membantu mempersiapkan anak sebelum mengikuti kegiatan inti melalui aktivitas bermain dan bergerak sesuai aturan, sehingga sistem limbik anak terbuka dan tumbuh rasa senang.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan secara konsisten di pagi hari dan diawali dengan pengamatan jeli terhadap kondisi anak. Hasil asesmen diagnostik prasekolah dianalisis untuk menentukan prioritas stimulasi. Contohnya, terdapat anak yang menunjukkan kecemasan, refleks grasp dan Moro yang masih tampak saat melompat, serta kemampuan memegang benda pipih yang belum kuat.
Stimulasi diberikan melalui berbagai aktivitas sensorik dan motorik, seperti menjepit, meremas, melompat, serta aktivitas keseimbangan dan koordinasi visual. Seluruh anak diberikan kesempatan mengikuti kegiatan dengan pendampingan guru. Program ini juga melibatkan kepala sekolah, orang tua, puskesmas, rumah sakit, dan dokter tumbuh kembang sesuai kebutuhan anak.
Program Sensory Time mendukung kesiapan anak mengikuti pembelajaran dari aspek fisik, psikologis, dan kognitif. Anak memperoleh stimulasi pada sistem sensorik, seperti taktil, bilateral, vestibular, proprioseptif, visual, dan auditori, sekaligus melatih koordinasi gerak, keseimbangan, serta kemampuan mengikuti instruksi dan aturan bermain.
Anak juga terbiasa bergerak secara teratur, sehat, dan bahagia. Karena seluruh indera sudah distimulasi dan sistem limbik terbuka, anak siap belajar dan fokus. Kegiatan ini juga membantu guru mengenali kebutuhan perkembangan anak secara lebih dini sehingga dapat dilakukan pendampingan dan tindak lanjut sesuai kebutuhan.
Apabila ditemukan anak yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, seperti suspek ADHD atau slow learner, sekolah berkoordinasi dengan orang tua dan tenaga kesehatan untuk memperoleh rujukan serta penanganan yang sesuai. Anak biasanya dirujuk ke RS Hermina dari fasilitas kesehatan pertama.
Dengan demikian, program ini mendukung SDGs 3 melalui perhatian terhadap kesehatan dan tumbuh kembang anak serta SDGs 4 melalui kesiapan belajar dan pengalaman pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak.
Keberlangsungan program didukung oleh konsistensi guru dalam memberikan stimulasi, penyediaan media dan alat kegiatan, pelatihan tumbuh kembang anak, evaluasi program secara berkala, serta pendampingan kepala sekolah kepada guru.
Kepala sekolah, guru, orang tua, dan tenaga kesehatan diharapkan terus menjalin kerja sama dalam memantau perkembangan dan memberikan stimulasi sesuai kebutuhan masing-masing anak.
Melalui pelaksanaan yang berkelanjutan, program Sensory Time diharapkan membantu anak tumbuh dan berkembang sesuai usianya serta siap memasuki jenjang sekolah dasar, baik secara fisik, psikis, maupun kognisi.
Dokumentasi Kegiatan Sensory Time
| Anak meniup bola di atas gelas kertas untuk melatih kekuatan otot mulut dan kontrol pernapasan. |
| Anak memindahkan tutup botol dari baki berisi air untuk menstimulasi indera peraba dan koordinasi mata dan tangan. |
| Anak menggulung tali pada paralon untuk menarik bara, melatih kekuatan lengan dan keseimbangan tubuh. |
Anak memindahkan bola dari gelas kiri ke gelas kanan secara bergantian untuk melatih koordinasi kedua sisi tubuh. |
Sumber :
Wawancara dengan Ummi Dwi Siti Nur Ovifah, S.Pd., dan dokumentasi Program Sensory Time RA Fairuz Aqila.
Tag : Pendidikan Anak Usia Dini, Kesehatan, Sensory Time, SDGs.
Oleh: Hellenita Indah Nugraha
Mahasiswa PK dari Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment