Menjaga Budaya Batak Toba di Era Digital melalui Empat Literasi
![]() |
Mahasiswa dalam kegiatan organisasi dengan nuansa budaya Batak Toba. |
APERO FUBLIC I Perkembangan teknologi membuat kehidupan mahasiswasemakin dekat dengan dunia digital. Komunikasi, penyebaran informasi, hingga promosi kegiatan organisasi kini dapat dilakukan melalui media sosial. Namun, di tengh perkembangan tersebut, ada hal lain yang juga perlu tetap diperhatikan, yaitu bagaimana generasi muda mempertahankan budaya yang menjadi bagian dari identitas mereka.
Salah satu gambaran tersebut dapat dilihat dari aktivitas Himpunan Mahasiswa Batak Toba (Himabato) di Politeknik Mandiri Bina Prestasi Medan. Berdasarkan hasil wawancara dengan pengurus dan anggota, kegiatan himpunan tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenal dan melestarikan budaya Batak Toba.
Dalam menjalankan kegiatan organisasi, media digital sudah menjadi bagian dari kehidupan himpunan. Ketua Umum Himabato, Mikael Sibarani, menjelaskan bahwa WhatsApp, Instagram, dan Facebook digunakan dalam aktivitas organisasi. Media tersebut membantu komunikasi sekaligus menjadi sarana promosi kegiatan. Penggunaan media sosial terutama terlihat ketika mendekati kegiatan PKKMB.
Pengurus memanfaatkan Instagram dan Facebook untuk memperkenalkan himpunan kepada mahasiswa baru. Menurut penulis, langkah tersebut cukup relevan dengan kehidupan mahasiswa saat ini. Jika ingin memperkenalkan budaya kepada generasi muda, maka ruang digital yang memang sering mereka gunakan juga perlu dimanfaatkan.
Pelestarian budaya tidak harus selalu dilakukan dengan cara lama. Media digital dapat menjadi jembatan untuk memperkenalkan budaya Batak Toba melalui informasi mengenai kegiatan, kesenian, bahasa, maupun nilai-nilai budaya. Dengan begitu, budaya tidak hanya hadir ketika ada acara tertentu, tetapi juga dapat dikenal melalui kehidupan digital mahasiswa.
Salah satu kegiatan yang menjadi bagian dari Himabato adalah Gondang Naposo. Kegiatan ini menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk mengenal budaya secara langsung. Billy Banjarnahor, anggota Humas, menceritakan bahwa keterlibatan dalam kegiatan tersebut memberikan pengalaman baru, seperti belajar manortor dan berkesempatan menjadi parhata dalam kegiatan Gondang Naposo
Pengalaman tersebut menurut penulis menunjukkan bahwa literasi budaya tidak hanya berarti mengetahui suatu budaya secara teori. Mahasiswa juga perlu terlibat langsung didalamnya. Ketika seseorang belajar manortor atau mengambil peran sebagai parhata, ia tidak hanya melihat budaya sebagai sesuatu yang diwariskan, tetapi ikut menjadi bagian dari proses pelestariannya. Selain budaya, kegiatan organisasi juga berkaitan dengan literasi finansial. Menjalankan sebuah kegiatan tentu membutuhkan perencanaan dan pengelolaan dana. Grace Sela Gultom selaku bendahara menjelaskan bahwa pembukuan keuangan himpunan masih dilakukan secara manual menggunakan buku. Setelah itu, data keuangan tersebut direkap kembali menggunakan Microsoft Excel sebelum disera
Hal
ini menunjukkan bahwa pengelolaan keuangan organisasi sudah memadukan cara
manual dan digital. Proses tersebut juga dapat menjadi pengalaman belajar bagi
mahasiswa. Mereka dapat memahami bahwa mengelola keuangan bukan hanya tentang
mendapatkan uang, tetapi juga mencatat, merekap, dan mempertanggungjawabkan penggunaannya.
Untuk memenuhi kebutuhan kegiatan seperti Gondang Naposo, pengurus melakukan berbagai cara untuk memperoleh dana. Di antaranya melalui kegiatan mengamen, meminta sumbangan dari kampus, sumbangan dari undangan, serta kontribusi dari mahasiswa.
Menurut Grace Sela Gultom, mencari dana menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan kegiatan karena tidak semua anggota atau pihak yang terlibat selalu dapat memberikan kontribusi. Dari kondisi tersebut, organisasi mahasiswa sebenarnya dapat menjadi tempat belajar finansial yang nyata. Mahasiswa belajar bagaimana mencari sumber dana, menyesuaikan dana dengan kebutuhan kegiatan, melakukan pencatatan, hinggamembuat laporan keuangan.
Pembelajaran seperti ini dapat menjadi bekal yang berguna bukan hanya untuk organisasi, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dalam aspek literasi sains, Himabato juga pernah melakukan kegiatan kunjungan dan memberikan bantuan kepada korban banjir di Sibolga pada Desember 2025. Kegiatan tersebut memperlihatkan adanya kepedulian mahasiswa terhadap persoalan lingkungan dan bencana yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
Selaku
wakil ketua yang turut menjadi peserta dalam wawancara menunjukkan bahwa komunikasi
melalui WhatsApp terasa lebih sederhana dalam kegiatan organisasi. Hal ini memperlihatkan
bahwa media digital dapat membantu anggota
mengikuti komunikasi dan aktivitas himpunan dengan lebih praktis. Dengan demikian, keempat literasi tersebut sebenarnya dapat saling melengkapi. Literasi digital membantu himpunan berkomunikasi dan mempromosikan kegiatan. Literasi finansial membantu pengurus mengelola dana dan mempertanggungjawabkan keuangan. Literasi budaya menjadi bagian penting dalam mengenalkan dan mempertahankan budaya Batak Toba. Sementara literasi sains dapat dikembangkan melalui pengalaman mahasiswa dalam memahami persoalan lingkunga dan bencana.
Menurut penulis, tantangan pelestarian budaya di kalangan generasi muda bukan hanya mengenai apakah mereka masih tertarik terhadap budaya atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana budaya tersebut dapat diperkenalkan dengan cara yang dekat dengan kehidupan mereka. Himabato dapat menjadi salah satu ruang untuk menjawab tantangan tersebut. Kegiatan seperti Gondang Naposo membuktikan bahwa mahasiswa masih dapat belajar dan terlibat langsung dalam budaya.
Di sisi lain, teknologi dapat digunakan untuk memperluas jangkauan pengenalan budaya, sementara pengelolaan finansial dan kegiatan kepedulian lingkungan membuat pengalaman organisasi menjadi semakin beragam. Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu dipelajari, dialami, dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman. Ketika budaya dipadukan dengan kemampuan digital, finansial, kepedulian terhadap lingkungan, dan pengetahuan lainnya, organisasi mahasiswa dapat menjadi ruang belajar yang tidak hanya mempertahankan identitas budaya, tetapi juga mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi masyarakat yang terus berubah.
Catatan Penutup: Budaya tidak cukup hanya diwariskan, tetapi perlu dipelajari, dialami, dan dikembangkan sesuai dengan perkembangan zaman.
Oleh:
Estefanie Lamtiur Gultom
Mahasiswa
Pendidikan Masyarakat, Universitas Negeri Medan
Editor.
Tim Redaksi
Sy.Apero Fublic


Post a Comment