Budaya Batak Toba di Era Digital: Menguatkan Generasi Muda Melalui Empat Literasi
![]() |
| Pengurus dan anggota HIMABATO dalam salah satu kegiatan kebersamaan organisasi |
Ketika organisasi mahasiswa menjadi ruang belajar budaya, teknologi, pengelolaan kegiatan, dan kepedulian terhadap masyarakat.
APERO FUBLIC I Bagaimana jika suatu hari generasi muda Batak Toba mengenal gondang hanya dari video di media sosial, mengetahui istilah Batak hanya dari internet, dan melihat manortor sebagai tontonan yang jauh dari kehidupan mereka? Batak Toba memiliki kekayaan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi, mulai dari adat, bahasa, kesenian, hingga nilai-nilai kehidupan yang menjadi identitas bersama.
Namun, generasi muda saat ini tumbuh dalam lingkungan yang
berbeda dengan generasi sebelumnya. Kehadiran teknologi digital membuat informasi
bergerak begitu cepat dan berbagai budaya dari luar dengan mudah masuk ke
kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan sekadar bagaimana
mempertahankan budaya Batak Toba, tetapibagaimana membuat budaya tersebut tetap
relevan bagi generasi muda yang hidup di tengah perubahan zaman. pelestarian
budaya tidak cukup dilakukan dengan mengajak generasi muda mencintai budaya.
Mereka perlu memiliki kemampuan untuk memahami informasi, menggunakan
teknologi, mengelola sumber daya, serta melihat persoalan masyarakat di
sekitarnya. Karena itu, pelestarian budaya perlu berjalan Bersama dengan
penguatan literasi. Empat literasi yang dapat dikembangkan adalah literasi budaya,
digital, finansial, dan sains.
Keempat literasi tersebut bukanlah kemampuan yang berdiri
sendiri. Literasi budaya menjadi akar yang menjaga identitas, literasi digital
membuka ruang untuk memperkenalkan budaya, literasi finansial membantu memastikan
kegiatan dapat terus berjalan, sedangkan literasi sains mendorong generasi muda
menggunakan pengetahuan untuk memberikan manfaat bagi masyarakat. Kehidupan organisasi
mahasiswa dapat menjadi salah satu ruang nyata untuk mengembangkan keempat
kemampuan tersebut.
Hal itu dapat dilihat dalam aktivitas Himpunan Mahasiswa
Batak Toba (HIMABATO) di Politeknik Mandiri Bina Prestasi Medan.Organisasi
tidak hanya menjadi tempat berkumpulnya mahasiswa yang memiliki latar belakang
budaya yang sama, tetapi juga dapat menjadi ruang belajar untuk mengenal
budaya, mengembangkan kemampuan organisasi, memanfaatkan teknologi, dan
membangun kepedulian sosial.
Literasi budaya merupakan titik awal dalam menjaga identitas
Batak Toba. Mengenal budaya bukan hanya mengetahui nama-nama tradisi atau
mengikuti sebuah kegiatan adat, tetapi memahami nilai dan makna yang ada di
baliknya.
Dalam kegiatan HIMABATO, literasi budaya terlihat melalui
kegiatan Gondang, Gondang Naposo, manortor, seminar budaya, serta pengenalan
bahasa dan Media sosial sering dianggap sebagai salah satu penyebab budaya
lokal semakin terpinggirkan. Namun, persoalannya bukan terletak pada teknologinya,
melainkan pada bagaimana teknologi digunakan.
Jika generasi muda hanya menggunakan media sosial untuk mengonsumsi
budaya dari luar ruang digital memang dapat menjauhkan mereka dari budaya
sendiri. Tetapi jika mereka menggunakannya untuk memperkenalkan budaya Batak
Toba, teknologi justru dapat menjadi alat pelestarian.
Dalam aktivitas HIMABATO, WhatsApp, Instagram, dan Facebook
digunakan untuk komunikasi organisasi sekaligus promosi kegiatan. Penggunaan
media tersebut menunjukkan bahwa teknologi telah menjadi bagian dari aktivitas
organisasi mahasiswa. Ruang digital tersebut sebenarnya dapat dikembangkan
lebih jauh menjadi ruang edukasi budaya melalui konten tentang bahasa Batak,
dokumentasi kegiatan adat, cerita mengenai tradisi, maupun informasi mengenai
nilai-nilai budaya Batak Toba.
Hal tersebut sejalan dengan Darwil, Ramli, dan Nawaz (2026)
yang menunjukkan bahwa teknologi dapat dimanfaatkan untuk mendokumentasikan dan
mempromosikan budaya lokal, dengan generasi muda memiliki posisi penting sebaga
agen kreatif dalam proses digitalisasi budaya. Dengan demikian, literasi digital
bukan sekadar kemampuan menggunakan media sosial. Literasi digital juga berarti
kemampuan memilih informasi, mengolahnya, dan menciptakan konten yang
bermanfaat. Dalam konteks budaya Batak Toba, kemampuan tersebut dapat menjadi
jembatan antara warisan masa lalu dan ke-hidupan generasi muda masa kini.
Sebuah kegiatan budaya tidak akan berjalan hanya dengan
semangat. Di balik sebuah acara terdapat perencanaan, kebutuhan dana, pembagian
tugas, dan pengelolaan sumber daya. Karena itu, literasi finansial juga
memiliki peran penting dalam keberlangsungan kegiatan budaya.
Dalam HIMABATO, pengelolaan keuangan dilakukan melalui
pencatatan keuangan, iuran anggota, penggalangan dana, serta sumber dana
lainnya. Grace Sela Gultom selaku bendahara menjelaskan bahwa pencatatan yang
sebelumnya dilakukan secara manual kemudian direkap menggunakan Microsoft Excel
sebelum diserahkan kepada pembina. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa
kegiatan organisasi juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa untuk bertanggung
jawab terhadap pengelolaan keuangan.
Tantangan pendanaan juga menunjukkan bahwa semangat
berorganisasi perlu diikuti dengan kemampuan mengelola sumber daya. Kegiatan
budaya membutuhkan perencanaan anggaran yang jelas agar dapat berlangsung
secara berkelanjutan. Karena itu, literasi finansial tidak hanya berkaitan dengan
kemampuan mengatur uang pribadi. Dalam kehidupan organisasi, literasi finansial
berarti mampu menyusun anggaran, menentukan prioritas, menggunakan dana secara bertanggung
jawab, serta mencari solusi ketika sumber daya terbatas.
Tasnim (2026) menunjukkan bahwa mahasiswa dengan literasi
finansial yang baik memiliki kemampuan lebih baik dalam menyusun anggaran dan
mengendalikan pengeluaran. Kemampuan tersebut menjadi relevan dalam menjaga
keberlangsungan organisasi yang bergerak dalam kegiatan budaya.
Ada anggapan bahwa pelestarian budaya hanya berkaitan dengan
pakaian adat, tarian, musik tradisional, atau kegiatan seremonial. Padahal,
budaya juga memiliki nilai kepedulian terhadap sesama dan lingkungan. Generasi
muda yang memahami budayanya seharusnya tidak hanya mampu menceritakan tradisi,
tetapi juga mampu menerapkan nilai-nilai yang dipelajarinya dalam kehidupan
sosial. Dalam konteks ini, literasi sains dapat menjadi bagian penting dari
pembentukan generasi muda yang peduli terhadap persoalan di sekitarnya.
HIMABATO pernah menunjukkan bentuk kepedulian tersebut
melalui aksi kemanusiaan dan penyaluran bantuan tanggap bencana banjir di
Sibolga pada Desember 2025. Kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa organisasi
mahasiswa dapat menjadi ruang untuk menghubungkan pengetahuan, kepedulian, dan
tindakan nyata di Tengah masyarakat.
Nur'aini (2025) menunjukkan bahwa pemahaman ekologis dan
sains pada ma- hasiswa dapat mendorong sikap, perilaku, dan partisipasi sosial
yang lebih peduli terhadap persoalan dilingkungan sekitar. Dengan demikian,
menjadi generasi muda yang berbudaya tidak cukup hanya dengan menjaga tradisi.
Nilai budaya juga perlu diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesame dan
lingkungan.Pada akhirn- ya, literasi budaya, digital, finansial, dan sains
bukan empat kemampuan yang berjalan sendiri-sendiri.
Literasi budaya memberikan akar. Literasi digital memberikan
ruang. Literasi finansial memberikan kemampuan untuk menjaga keberlanjutan.
Sementara literasi sains memberikan arah agar pengetahuan dan budaya dapat
diwujudkan dalam kepedulian sosial. Keempatnya dapat membentuk generasi muda
Batak Toba yang tidak hanya mengenal budayanya, tetapi juga mampu membawa
budaya tersebut menghadapi perubahan zaman.
Di sinilah organisasi mahasiswa seperti HIMABATO memiliki
peran penting. Organisasi dapat menjadi laboratorium kehidupan bagi mahasiswa
untuk belajar budaya sekaligus belajar menjadi bagian dari Masyarakat. Mahasiswa
dapat belajar bahasa Batak, mengikuti kegiatan seni dan budaya, membuat konten
digital, mendokumentasikan kegiatan, mengelola keuangan organisasi, serta terlibat
dalam kegiatan sosial.
Era digital memang membawa tantangan bagi budaya lokal.
Namun, teknologi tidak harus menjadi ancaman. Teknologi dapat menjadi alat untuk
memperkuat budaya apabila generasi muda memiliki kemampuan literasi yang tepat.
Karena itu, pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukan lagi, “Apakah budaya
Batak Toba akan bertahan di era digital?” Pertanyaan yang lebih penting adalah,
“Apa yang akan kita lakukan agar budaya Batak Toba tetap hidup di Tengah perubahan
zaman?”
Jawabannya tidak selalu harus berupa sesuatu yang besar.
Mengenal budaya sendiri, belajar bahasa Batak, ikut dalam kegiatan budaya, membuat
konten yang mem erkenalkan tradisi, menggunakan teknologi secara bijak,
mengelola kegiatan secara bertanggung jawab, dan terlibat dalam kegiatan sosial
adalah langkah-langkah kecil yang dapat memberikan dampak.
Budaya Batak Toba tidak cukup hanya diwariskan dari generasi
ke generasi. Budaya juga harus diberi ruang untuk tumbuh dan menemukan bentuknya
di tengah kehidupan yang terus berubah. Melalui literasi budaya, digital,
finansial, dan sains, generasi muda tidak hanya menjadi pewaris budaya, tetapi juga
penggerak budaya.
Sebab, budaya akan benar-benar tetap hidup bukan ketika hanya disimpan sebagai warisan masa lalu, melainkan ketika generasi mudanya mampu membawa nilai-nilai tersebut ke masa depan.
Catatan Penutup
Budaya Batak Toba akan tetap hidup ketika generasi muda mampu melestarikan dan mengembangkannya di era digital.


Post a Comment