Feature
Kampus
Mahasiswi
Pendidikan
Dua Alat Ukur, Satu Benda Kerja, Hasil Berbeda: Cara Siswa Teknik Pemesinan Belajar Presisi
APERO FUBLIC I Satu benda kerja diukur tiga kali dengan tiga alat berbeda, dan hasilnya tidak pernah persis sama. Dari kejanggalan sederhana itulah peserta didik kelas X Teknik Pemesinan SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta diajak memahami satu hal mendasar dalam dunia pemesinan: ketelitian bukan urusan angka di buku, melainkan penentu kualitas produksi.
Pembelajaran mata pelajaran Alat Ukur dengan materi jangka sorong dan mikrometer tersebut dikemas melalui praktik pengukuran benda kerja secara langsung. Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan Praktik Kependidikan (PK) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang dijalankan Kartika Anggun Sari, mahasiswa Program Studi Pendidikan Teknik Mesin UNY.
Pembelajaran dirancang agar bersifat kontekstual, yakni menghubungkan konsep ketelitian alat ukur dengan penerapannya pada pekerjaan teknik pemesinan sehari-hari. Selain memperkuat pemahaman konsep dasar pengukuran, kegiatan ini sekaligus mengintegrasikan tujuan keempat Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu Pendidikan Berkualitas.
Kartika menerapkan model pembelajaran Discovery Learning, yang mendorong peserta didik menemukan konsep dari hasil pengamatan dan pengukuran mereka sendiri. Kegiatan dibuka dengan demonstrasi penggunaan jangka sorong berketelitian 0,05 mm dan 0,02 mm, serta mikrometer berketelitian 0,01 mm. Dari demonstrasi tersebut, peserta didik diarahkan mengamati bagian-bagian alat ukur, cara pembacaan skala, hingga tingkat ketelitian masing-masing alat.
"Peserta didik tidak hanya menerima teori, tetapi diajak menemukan sendiri cara membaca dan menggunakan alat ukur melalui proses praktik langsung," ujar Kartika.
Peserta didik kemudian dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk merumuskan permasalahan seputar perbedaan hasil pembacaan pada jangka sorong dan mikrometer. Mereka mendiskusikan cara menentukan tingkat ketelitian yang sesuai dengan jenis benda kerja, serta hubungan antara skala utama dan skala nonius maupun skala putar dalam pembacaan hasil ukur.
Memasuki tahap praktik, setiap kelompok mengukur dimensi benda kerja secara berulang menggunakan ketiga alat tersebut. Hasil pengamatan dicatat, lalu tingkat akurasi dan ketelitian antaralat dibandingkan. Data yang terkumpul dipakai untuk menentukan alat ukur yang paling sesuai berdasarkan jenis dan ukuran benda kerja, sebelum akhirnya dicocokkan dengan konsep dasar mengenai fungsi dan ketelitian alat ukur.
"Perbedaan hasil pengukuran menjadi petunjuk penting bagi peserta didik untuk memahami pentingnya memilih alat ukur yang tepat sesuai kebutuhan pekerjaan," tutur Kartika.
Konsep yang ditemukan peserta didik selanjutnya dikaitkan dengan penerapannya di dunia kerja teknik pemesinan, di mana ketepatan memilih dan membaca alat ukur sangat menentukan kualitas hasil produksi. Pengaitan tersebut sekaligus memperkenalkan keterampilan pengukuran sebagai bekal keahlian dasar sebelum peserta didik memasuki dunia industri.
Melalui pembelajaran yang investigatif dan kontekstual, peserta didik diharapkan tidak hanya mampu membedakan fungsi dan ketelitian jangka sorong serta mikrometer, tetapi juga memahami keterkaitan keterampilan pengukuran dengan kebutuhan industri. Kegiatan ini turut melatih kemampuan bekerja sama, ketelitian, kedisiplinan, serta keberanian menyampaikan hasil praktik berdasarkan data.
Integrasi SDGs 4 dalam pembelajaran ini diharapkan menumbuhkan kesadaran bahwa penguasaan kompetensi pengukuran merupakan bagian dari upaya mewujudkan pendidikan vokasi yang berkualitas dan relevan dengan kebutuhan dunia kerja.
Oleh: Kartika Anggun Sari
Mahasiswi PK, Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Feature

Post a Comment