Cerita Kita
Puisi
Sastra Kita
Sastra Modern
23.51 WIB, Suara si Bungsu
“ 23.51 WIB, Suara si Bungsu ”
Kata siapa jadi bungsu enak ?
Kata siapa bungsu tidak banyak beban pikiran ?
Kata siapa bungsu santai dengan masa depannya ?
Kata siapa bungsu tenang ?
KATA SIAPA ???
Aku bungsu dan aku mau mematahkan steatmean itu semua.
23.51 WIB, saya menulis tentang suara hati bungsu, dinding dan heningnya kamar menjadi saksi atas perjuangan do’a dan harapan ku, hari-hariku jalani harap ada yang bermakna. Waktu berjalan begitu sangat cepat dan tanpa ku fikir aku sudah sejauh ini melangkah dan bertahan, aku bisa untuk selalu berdamai dengan diriku sendiri dengan kepala yang berisik ini. Setiap malam mau tidur tenang saja susah, dan selalu memikirkan apakah besok masih sama dan apakah besok sudah ada jawaban. Semua berputar jelas dikepala sampai akhirnya terlelap tidur dengan air mata yang jatuh.
Aku tau semua anak pasti punya mimpi, aku tau semua anak pasti banyak lika-likunya, tapi bungsu ?, anak yang selalu di anggap masih kecil dalam pikirannya dan belum bisa di ajak buat diskusi keluarga, dari sini ternyata se usaha apapun kita kalau anggapannya mereka begitu seperti sia-sia rasanya.
Aku menulis dan aku speak-up karena aku merasakannya.
Aku tidak mau bilang kalau aku capek, tapi dengan tulisan ini kalian pasti paham, tidak ada yang namanya hidup tanpa perjuangan dan tidak ada anak yang tidak mau membahagian orang tuanya. Dan semua orang pasti selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk hidupnya.
Aku rela mengorbankan cita-citaku demi menjaga dan merawat orang tua dirumah, padahal aku punya mimpi, padahal aku punya keinginan tinggi, aku ingin membahagiakan diriku sendiri dengan keringat kerasku.
Usiaku sudah masuk fase dewasa, tapi karakter dewasa sudah aku bentuk sebelum masuk waktunya, sehingga aku sadar kalau tidak berusaha sendiri mau mengandalkan siapa lagi ?,
*Masa depanku tidak disiapkan oleh orang tuaku, aku berusaha sendiri dan mencari jalan sendiri, aku tidak diberi arah, aku tau semua orang mungkin melihatku tidak ada perkembangan, tidak punya kemauan,dan stuck di itu-itu saja.*
*Tidak ada yang tau betapa cemas dan bingungnya aku terhadap masa depanku sendiri, aku juga sedang berusaha atas kebahagiaan dan kesuksesan hidupku sendiri.*
Sudah banyak yang ku lalui, faktor ekonomi yang menjadi acuan utama perkembanganku dan kedua karena ibu ku sendiri yang sudah ku rawat sudah lebih 3 tahun. aku kehilangan peran ibu mulai dari kuliah sampai sekarang, dan aku sudah pernah dikasih uang oleh ayahku untuk kebutuhanku sendiri, semua apa yang ku mau harus usaha sendiri, padahal aku juga masih butuh apapun dari orang tuaku, tapi aku tidak bisa mengungkapkannya akhirnya aku pendam sendiri dan terus berusaha sendiri, aku capek ?
kalau dijawab pastinya capek,capek banget. aku ingin ini semua berakhir bahagia.aku terlalu banyak menyimpan luka dalam kehidupan ku sendiri tapi aku yakin do’aku tidak akan pulang dengan sia-sia.
*semua orang tertawa melihatku, bahkan tidak sedikit lagi dari mereka yang merendahkan ku dari keadaanku dan keadaan keluargaku.*
Menjadi bungsu bukan senyaman yang kalian lihat, mereka semua sedang bertarung dengan isi kepalanya masing-masing.
Oleh: Norie Khoiril Qiromah
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Cerita Kita

Post a Comment