Kampus
Mahasiswa
Media Sosial
Pendidikan
Ujaran Kebencian di Media Sosial : Ancaman Nyata Bagi Kepercayaan Diri dan Kesehatan Mental Mahasiswa
APERO FUBLIC I OPINI.-- Di era digital saat ini, media sosial telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Platform seperti TikTok, Instagram, dan X bukan lagi sekadar sarana hiburan, melainkan ruang untuk membangun identitas, berinteraksi, mencari informasi, hingga mengekspresikan pendapat.
Namun, di balik berbagai manfaat tersebut, terdapat ancaman yang semakin mengkhawatirkan, yaitu maraknya ujaran kebencian (hate speech) yang beredar tanpa kendali.
Banyak orang masih menganggap ujaran kebencian sebagai sesuatu yang biasa terjadi di internet. Komentar bernada merendahkan, ejekan terhadap penampilan fisik, stereotip terhadap kelompok tertentu, hingga meme yang mengandung penghinaan sering kali dianggap sekadar candaan.
Padahal, dampaknya jauh lebih besar daripada yang terlihat. Kata-kata yang ditulis di ruang digital dapat meninggalkan luka psikologis yang nyata bagi mereka yang menjadi sasaran maupun yang hanya menyaksikannya.
Penelitian mengenai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas menunjukkan bahwa bentuk ujaran kebencian yang paling sering ditemui di media sosial adalah komentar yang menghina penampilan fisik atau body shaming.
Selain itu, konten yang merendahkan seseorang berdasarkan suku, agama, dan ras juga masih sering ditemukan. Temuan ini menunjukkan bahwa media sosial belum sepenuhnya menjadi ruang yang aman bagi generasi muda untuk berekspresi dan berkembang.
Yang lebih mengkhawatirkan, paparan ujaran kebencian tidak hanya memengaruhi perasaan sesaat. Dampaknya dapat merusak kepercayaan diri seseorang secara perlahan. Mahasiswa yang berada pada fase pencarian jati diri sangat rentan menginternalisasi komentar negatif yang mereka lihat atau terima.
Ketika seseorang terus-menerus dihadapkan pada penilaian yang merendahkan, ia dapat mulai mempertanyakan nilai dirinya sendiri, merasa tidak cukup baik, bahkan kehilangan keyakinan terhadap kemampuan yang dimilikinya.
Lebih jauh lagi, penelitian tersebut juga menunjukkan adanya hubungan antara paparan ujaran kebencian dengan menurunnya kesejahteraan psikologis mahasiswa. Hal ini berarti dampaknya tidak berhenti pada rasa sedih atau kecewa, tetapi dapat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Individu yang terus terpapar lingkungan digital yang negatif berisiko mengalami kecemasan, stres, penarikan diri dari lingkungan sosial, hingga gangguan kesehatan mental yang lebih serius.
Fenomena ini seharusnya menjadi perhatian bersama. Selama ini, fokus masyarakat sering tertuju pada korban yang menerima serangan secara langsung. Padahal, mereka yang hanya menyaksikan ujaran kebencian secara berulang juga dapat mengalami dampak psikologis.
Ketika ruang digital dipenuhi komentar negatif, banyak pengguna akhirnya merasa tidak aman untuk menyampaikan pendapat, takut menjadi sasaran berikutnya, atau memilih menarik diri dari interaksi sosial.
Mengatasi persoalan ini tentu tidak bisa dibebankan kepada individu semata. Platform media sosial perlu memperkuat sistem moderasi konten agar penyebaran ujaran kebencian dapat ditekan. Pemerintah juga harus memastikan regulasi yang ada benar-benar mampu melindungi masyarakat tanpa menghambat kebebasan berekspresi yang bertanggung jawab.
Di lingkungan kampus, layanan konseling dan program literasi digital perlu diperkuat agar mahasiswa memiliki kemampuan untuk menghadapi tekanan psikologis yang muncul di dunia maya.
Namun, yang tidak kalah penting adalah membangun budaya digital yang lebih berempati. Setiap pengguna media sosial perlu menyadari bahwa di balik setiap akun terdapat manusia yang memiliki perasaan, harga diri, dan kehidupan nyata. Kebebasan berpendapat tidak boleh dijadikan alasan untuk merendahkan atau menyakiti orang lain.
Pada akhirnya, ujaran kebencian bukan sekadar persoalan etika berkomunikasi di internet. Ia merupakan masalah sosial yang berdampak langsung terhadap kesehatan mental generasi muda. Jika dibiarkan, kita berisiko menciptakan lingkungan digital yang semakin toksik dan tidak ramah bagi perkembangan mahasiswa.
Oleh karena itu, menciptakan ruang digital yang sehat bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau platform media sosial, tetapi juga tanggung jawab kita semua sebagai pengguna yang ingin melihat internet menjadi tempat yang lebih aman, inklusif, dan manusiawi.
DISUSUN OLEH :
- Ghesya Nur Rahmah
- Mifthahur Rahmi
- Zhorifa Alghozi
- Rizky Febrian
- Dilla Yuli Yanti
- Adzkia Dwi Putri Ramadhani
- Arrangga Radar
MAHASISWA FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ANDALAS.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment