Kampus
Pendidikan
Kesadaran Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas Terhadap Ujaran Kebencian di Media Sosial
Kesadaran Tinggi, tetapi Aksi Nyata Masih Terbatas
APERO FUBLIC I FEATURE.-- Hasil penelitian ini secara keseluruhan memberikan gambaran yang menggembirakan sekaligus menyimpan paradoks yang menarik. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Andalas menunjukkan tingkat pemahaman yang cukup tinggi terhadap ujaran kebencian.
Sebanyak 77,1% mengaku memahami pengertian ujaran kebencian, 84,8% mampu membedakan antara kritik dan ujaran kebencian, serta 89,6% menyadari dampak negatifnya bagi masyarakat.
Angka-angka tersebut cukup membanggakan, namun pemahaman pada tataran kognitif semata belum tentu cukup untuk mengubah perilaku di ruang digital secara nyata.
Pengguna Aktif, bukan Partisipan Aktif
Temuan menarik terlihat pada pola penggunaan media sosial responden. Mayoritas menggunakan media sosial lebih dari tiga jam per hari, TikTok menjadi platform yang paling dominan, dan 86,6% menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama.
Namun di sisi lain, hanya 19,1% yang aktif memberikan komentar atau merespons konten. Kondisi ini mencerminkan budaya konsumsi pasif yang dominan—mahasiswa banyak menyerap konten, tetapi sedikit yang terlibat secara aktif.
Keadaan tersebut dapat menjadi pedang bermata dua: di satu sisi mengurangi risiko berkontribusi pada penyebaran ujaran kebencian, tetapi di sisi lain mengurangi potensi mereka untuk menjadi agen perubahan yang aktif di ruang digital.
Paradoks antara Sikap dan Tindakan
Paradoks paling mencolok tampak pada aspek pelaporan konten. Meskipun 87,8% responden menyatakan menolak penyebaran konten kebencian dan 82,8% tidak mendukung akun yang menyebarkan kebencian, hanya 64,8% yang bersedia melaporkan konten tersebut, dengan 32,4% di antaranya masih bersikap netral.
Demikian pula dalam hal menegur teman yang menyebarkan ujaran kebencian: meskipun 71,4% menyatakan bersedia melakukannya, persentase responden yang bersikap netral masih cukup tinggi, yakni 23,8%.
Kesenjangan ini mengindikasikan bahwa tekanan sosial dan keengganan untuk berhadapan secara langsung masih menjadi hambatan nyata, meskipun kesadaran normatif sudah terbentuk dengan baik.
Dominasi Responden Angkatan 2025 Perlu Diperhatikan
Dari segi metodologi, komposisi responden yang didominasi oleh mahasiswa angkatan 2025 sebesar 60% perlu dicermati. Mahasiswa baru umumnya belum melalui banyak pengalaman akademik yang dapat membentuk literasi digital secara mendalam.
Oleh karena itu, temuan penelitian ini mungkin lebih mencerminkan antusiasme berpartisipasi daripada gambaran yang merata dari seluruh populasi mahasiswa. Penelitian lanjutan sebaiknya memastikan distribusi angkatan yang lebih proporsional agar hasil yang diperoleh lebih komprehensif dan representatif.
Arah Peningkatan Kesadaran yang Relevan
Responden sendiri telah menunjukkan arah yang jelas. Edukasi literasi digital dalam perkuliahan dipilih sebagai cara paling efektif oleh 27,6% responden, diikuti oleh pengaruh konten dari tokoh berpengaruh atau figur publik sebesar 25,7%.
Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa tidak sepenuhnya bergantung pada institusi formal, tetapi juga menaruh kepercayaan yang cukup besar kepada tokoh-tokoh di media sosial.
Implikasinya, kampus perlu mengintegrasikan materi literasi digital ke dalam kurikulum, sekaligus menjalin kerja sama dengan figur publik yang relevan untuk memperkuat pesan anti ujaran kebencian di kalangan mahasiswa.
Simpulan
Penelitian ini berhasil memotret kesadaran mahasiswa yang relatif tinggi pada tataran pengetahuan dan sikap. Namun, tantangan sesungguhnya terletak pada jembatan antara mengetahui dan bertindak.
Tingginya angka mahasiswa yang pernah menyaksikan ujaran kebencian di media sosial, yakni sebesar 70,5%, di tengah masih rendahnya tindakan pelaporan dan peneguran, mencerminkan urgensi yang tidak dapat diabaikan.
Literasi digital tidak cukup berhenti pada pemahaman konsep semata, melainkan harus berlanjut menjadi kompetensi untuk bertindak dan keberanian moral dalam menghadapi ujaran kebencian di ruang digital.
Via
Kampus

Post a Comment