Kampus
Keislaman
Mahasiswi
Pendidikan
Psikologi
Ketenangan Bukan Kemewahan, Melainkan Kebutuhan bagi Individu Anxious
APERO FUBLIC I ESAI.-- Banyak orang menganggap ketenangan sebagai sesuatu yang biasa. Namun, bagi individu yang memiliki kecenderungan anxious, ketenangan justru merupakan sesuatu yang sangat berharga. Ketika pikiran terus dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, rasa tenang terasa seperti sebuah kemewahan yang sulit didapatkan. Padahal, ketenangan bukanlah kemewahan. Bagi sebagian orang, ketenangan adalah kebutuhan untuk dapat menjalani hidup dengan sehat dan nyaman.
Saya adalah salah satu orang yang hidup dengan kecemasan berlebih. Dalam kehidupan sehari-hari, saya sering merasa khawatir terhadap berbagai hal, bahkan terhadap situasi yang sebenarnya belum tentu bermasalah. Hal-hal kecil dapat memicu pikiran yang terus berputar tanpa henti.
Saya sering membayangkan kemungkinan terburuk sebelum sesuatu benar-benar terjadi. Akibatnya, saya menjadi sulit menikmati keadaan yang sebenarnya baik-baik saja karena pikiran saya selalu sibuk mempersiapkan diri terhadap ancaman yang belum tentu nyata.
Kecemasan yang saya alami bukan hanya memengaruhi pikiran, tetapi juga kondisi fisik. Ketika rasa cemas datang secara berlebihan, saya dapat mengalami sesak napas, pusing, sulit berkonsentrasi, dan merasa sangat lelah secara emosional.
Bahkan, dalam beberapa kondisi ketika kecemasan sedang memuncak dan pikiran terasa sangat penuh, saya pernah mengalami mimisan. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa kecemasan bukanlah hal yang bisa dianggap sepele karena dampaknya dapat dirasakan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Teori Kognitif yang dikemukakan oleh Aaron T. Beck. Menurut Beck, individu yang mengalami kecemasan cenderung memiliki distorsi kognitif, yaitu pola pikir yang membuat seseorang lebih fokus pada kemungkinan negatif daripada fakta yang sebenarnya terjadi.
Akibatnya, seseorang dapat merasa terancam oleh sesuatu yang sebenarnya belum tentu berbahaya. Saya sering menyadari bahwa setelah semua kekhawatiran itu berlalu, kenyataan yang terjadi jauh lebih baik daripada skenario yang telah saya bangun di dalam pikiran.
Selain itu, kondisi yang saya alami juga dapat dipahami melalui konsep respons stres dari Hans Selye. Selye menjelaskan bahwa ketika seseorang berada dalam tekanan psikologis yang berlangsung terus-menerus, tubuh akan terus berada dalam keadaan siaga. Jika berlangsung lama, kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai keluhan fisik. Hal ini menunjukkan bahwa kesehatan mental dan kesehatan fisik saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan.
Karena kecemasan yang saya alami cukup mengganggu, saya pernah mencoba mencari bantuan profesional dengan berkonsultasi kepada psikolog. Konseling membantu saya memahami diri sendiri dengan lebih baik, tetapi saya masih sering kembali pada pola pikir yang sama.
Ada masa ketika saya merasa frustrasi karena seolah-olah tidak ada perubahan yang berarti. Saya bahkan sempat mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan psikiater, tetapi rasa takut dan keraguan membuat saya belum berani mengambil langkah tersebut.
Di tengah kebingungan itu, saya mendapat nasihat sederhana dari seorang teman. Ia mengatakan bahwa saya perlu belajar menjadi lebih cuek terhadap hal-hal yang berada di luar kendali saya.
Awalnya saya menganggap nasihat tersebut terlalu sederhana untuk menyelesaikan masalah yang saya hadapi. Namun, setelah direnungkan, saya mulai memahami bahwa sebagian besar kecemasan saya muncul karena keinginan untuk mengetahui, memahami, dan mengendalikan segala sesuatu.
Sejak saat itu, saya mulai melatih diri untuk tidak selalu mengikuti setiap pikiran cemas yang muncul. Saya belajar menerima bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban saat itu juga dan tidak semua hal dapat saya kendalikan. Saya berusaha membedakan antara fakta dan asumsi. Ketika pikiran mulai dipenuhi berbagai kemungkinan buruk, saya mencoba mengingatkan diri sendiri bahwa pikiran bukanlah kenyataan.
Pandangan ini sejalan dengan konsep locus of control yang diperkenalkan oleh Julian Rotter. Menurut Rotter, seseorang akan merasa lebih mampu mengendalikan hidupnya ketika ia fokus pada hal-hal yang memang berada dalam kendalinya. Sebaliknya, jika seseorang terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak dapat ia kontrol, kecemasan akan semakin besar dan sulit dihentikan.
Selain berusaha mengubah cara berpikir, saya juga mencoba mengisi waktu dengan aktivitas yang positif. Menghabiskan waktu bersama teman dan menonton film menjadi cara sederhana yang membantu saya keluar dari lingkaran pikiran berlebihan.
Aktivitas tersebut membuat saya menyadari bahwa hidup tidak selalu harus dipenuhi oleh kekhawatiran tentang apa yang mungkin terjadi di masa depan. Terkadang, menikmati apa yang ada di depan mata jauh lebih menenangkan daripada terus memikirkan kemungkinan yang belum tentu terjadi.
Pada akhirnya, saya memahami bahwa ketenangan bukan berarti tidak peduli terhadap apa pun. Ketenangan adalah kemampuan untuk menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan dan tidak semua kemungkinan buruk akan menjadi kenyataan.
Bagi individu yang anxious, ketenangan bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan yang harus terus dilatih setiap hari. Mungkin kecemasan tidak akan hilang sepenuhnya, tetapi dengan belajar menerima, mempercayai kenyataan, dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali, kita dapat menjalani hidup dengan lebih ringan dan damai.
Oleh : Nurin Sahira
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh.
Editor. Tim Redaksi
Sy. Apero Fublic
Via
Kampus

Post a Comment